BAB 20

 

Raih Bintang

 

Naryo menutup pintu mobil dengan keras. Brak!

“Mas Naryo marah sama saya?” tanya Layur.

Naryo tergagap. “Ndak kok, Layur. Mobil Pakde

Bambang ini memang sudah kendor pintunya.

Nutupnya harus brak, gitu.”

“Oh gitu. Pesenan teman-teman sudah dicatet to?” “Kempitan itu apa?”

Naryo mengangguk. “Semua pesen dibawain baju Vani menjawab dengan bisikan. “Pembalut dan celana satu setel, terus handuk, sabun, sama sikat wanita.” gigi. Si Wawan pesen minta diambilin charger laptop juga.”

Layur mengerutkan kening. “Lha mau nge-charge

dimana? Lha di sini ndak ada listrik.”

Akhirnya, para remaja itu sepakat untuk kemping satu

Naryo menepuk keningnya. “Sontoloyo Wawan. malam di Bukit Menara. Mereka senang karena Layur Aku dia kerjain. Mending aku bawain laptopnya punya ide brilian itu. Dengan menikmati malam di pulang.” atas dusun, mereka akan menyaksikan sendiri betapa

indahnya Pantai Tambaksegaran dilihat dari atas

“Jangan lupa bawa makanan yang banyak.

diterangi sinar bulan.

Camilan juga. Minum juga, Mas. Semua makan kayak

lele kelaparan,” pesan Layur. Wawan dan Alun sudah sibuk membuat video

dan memotret suasana senja dari bukit. Niat mereka

“Siap!”

adalah membuat konten media sosial sebanyak

Layur beringsut mepet di samping Naryo. mungkin untuk memperoleh pengunjung ke akun “Bilang ke bapakku, selain pakaian dan alat media dusun wisata. Untungnya, teman-temannya mandi, bawakan juga kempitan.” tanpa sungkan siap berpose bahkan berakting di

depan kamera ponsel.

“Kempitan? Apaan to?”

“Gaes, kalau kamu pikir pemandangan sunset

“Ra sah takon. Ndak usah tanya. Bapakku udah

yang superkeren di belakangku itu adalah di Bali atau

ngerti.”

Maldive, kamu salah, gaes. Aku lagi ada di salah satu

Naryo memutar mobil dan menuruni Bukit surga tersembunyi di Gunungkidul, Yogyakarta ....” Dini Menara. Nantinya, dia akan kembali ke atas dengan gaya tomboinya berulang kali bergaya seperti menggunakan motor miliknya. penyiar acara perjalanan di TVRI.

Sisil yang mendengar pembicaraan Layur dengan “Kowe wong deso. Ngomong gaes kok aneh,” ledek Naryo, berbisik kepada kakaknya. Dia penasaran. Alun disusul tawa teman-temannya. Dini cuek. Dia minta pindah lokasi untuk syuting lagi.

 

234 BAB 20 | Raih Bintang Layur Tetaplah Berlayar 235

dengan semburat jingga di antara awan-awan

Di sisi lain, Wawan, Petrus, dan Basri sibuk

tipis yang membentuk garis-garis seperti

memasang terpal sebagai tenda mereka. Terpal

ombak.

itu tersimpan rapi di gudang musala. Dua tenda

sudah terpasang, satu untuk lelaki dan satu lagi “Perempuan seperti kita, apa harus untuk perempuan. kuliah?” tanya Layur tanpa menoleh.

Vani, Ratna, dan Layur “Aku sih pengin. Semua kakakku

sedang duduk santai sudah jadi sarjana,” jawab Ratna.

menikmati ketampakan Vani ikut bicara. “Aku kok matahari yang malas ndak pingin buru-buru kuliah. untuk masuk peraduan. Lulus SMA nanti, aku pingin Langit senja begitu elok mbarang. Ngamen. Nari dari sanggar ke sanggar. Dari

 

236 BAB 20 | Raih Bintang Layur Tetaplah Berlayar 237 satu gedung pertunjukan ke gedung lain. Dari satu “Ngutip kata-kata bagus dari mana itu?” goda Vani.

kota ke kota lainnya. Sukur-sukur, dari satu negara ke

“Spontan keluar dari pikiran jernihku, hahaha!”

negara lain.”

balas Ratna.

Vani yang duduk di antara dua sahabat itu

“Ya, aku yakin bisa mewujudkannya. Dusun Prau

mendapat rangkulan. Rangkulan yang menguatkan

akan jadi buah bibir dunia. Rumah-rumah penginapan

dirinya.

akan penuh daftar antrean wisatawan. Yu Semi

“Mirip sama kamu, Vani. Aku juga belum kepikiran dan belasan pemilik warung makan akan kerepotan mau kuliah di mana atau kapan,” balas Layur. “Bapak membakar ikan sampai malam. Dan, aku ... Si Layur juga ndak nanya. Mungkin karena duitnya ndak yang belum tentu sarjana ini akan dibantu oleh Doktor pegang. Untuk memasukkan aku ke SMA saja, Bapak Ratna dan maestro seni Vani untuk mewujudkannya.”

harus jual perahu satu-satunya.”

Senja semakin indah dengan siluet tiga sahabat

Gantian Vani menggenggam erat telapak tangan perempuan itu yang berangkulan. sahabat karibnya itu. “Bukan berarti kamu dilarang punya impian, Layur.”

Layur tersenyum dan kemudian berkata, “Aku

pingin dusun wisata ini ramai lagi. Bis-bis berderet di

Petrus yang melihat ada sorot lampu kendaraan

ujung dusun kita. Keluarga-keluarga datang ke tempat

mengarah ke tempat mereka. Dia berdiri dan berlari

kita dengan mengendarai motor dan mobil. Selepas

ke jalan setapak satu-satunya. Diikuti oleh Sisil dan

magrib masih banyak wisatawan duduk santai

Wawan.

menikmati ikan bakar dan wedang jahe di warung

Yu Semi. Adik-adik kita menari di depan pendopo “Asyik! Mas Naryo datang. Perutku udah kruyuk-rumahku disaksikan para wisatawan yang sibuk kruyuk sejak tadi,” seru Wawan. memotret dan merekam menjadi video kenangan “Lha, kok bawa mobil lagi? Katanya mau ganti mereka. Sesederhana itu impianku.” naik motor?” sela Sisil.

Ratna menyahut bijak. “Saat kita menganggap Petrus tidak yakin. Eh, tetapi benar … itu dua sorot impian itu cukup sederhana, saat itulah tercermin lampu berarti memang mobil. betapa kita yakin bakal mampu meraihnya.”

“Ngawur ...!” balas Wawan.

Layur dan Vani menoleh kepada Ratna.

 

238 BAB 20 | Raih Bintang Layur Tetaplah Berlayar 239

Kendaraan dengan sorot lampu terang itu Alun kaget. “Siapa yang tercebur?” mendekat. Ternyata dua motor. Satu dikendarai oleh Layur dan Mas Naryo saling memandang.

Pak Kadus dan satu lagi Mas Naryo berboncengan

dengan Yu Semi. Bawaan mereka banyak sekali. “Eh, anu … sandalku. Iya sandalku kecemplung

terus dikejar sama Mas Naryo dan Basri,” elak Layur.

Wawan memanggil teman-temannya untuk

membantu menurunkan bawaan itu. Tak cuma Mas Naryo berdehem. “Aku ndak bisa menahan

pakaian, ada juga lampu petromak, tambahan terpal, diri untuk menceritakan ide-ide kalian. Kekompakan dan .... kalian dan sketsa yang dibuat siapa tadi .... membuat

Pak Kadus tidak sabar untuk menemui kalian.”

“Ikan! Ini sumbangan Yu Semi buat kalian yang

kabur dari rumah, hahaha!” canda Yu Semi. “Sana bikin “Semua yang kami obrolkan masih sebatas panggangan. Ikannya sudah Yu Semi bersihin dan beri angan-angan, Mas Naryo,” Alun merendah. “Ndak bumbu.” ngerti nantinya harus gimana.”

Basri dengan cekatan menyalakan petromaks. “Kamu salah, Alun. Bahkan kami orang-orang tua Bukit Menara yang biasanya temaram oleh cahaya di Dusun Prau tak pernah terbersit membuat rencana bulan kini seperti kedatangan matahari. Terang seperti kalian. Kami taunya mendorong perahu ke benderang serasa siang. Di sudut lain, Wawan laut, mendayung, menebar jala, dan membuat ikan

bersama Ratna, Petrus, dan Yuli membakar ikan. Anak asin. Turun-temurun seperti itu.”

lainnya, sibuk menata hidangan makan malam. Oh Alun mengangguk membenarkan. “Dulu pun kami

tidak … ndak berpikir bisa sejauh ini. Sejak ada internet di

Layur dan Alun malah duduk di bangku depan gua dusun kita, teman-teman jadi senang belajar apa pun.

bersama Naryo. Mulai dari teknologi, media sosial, sampai kesenian.

Makanya pikiran mereka maju.”

“Bukan aku yang mengajak Pak Kadus dan Yu

Semi. Mereka pengin ke sini setelah aku cerita banyak “Itu dia, Alun. Kami orang tua mana tahu soal sore tadi,” tutur Naryo. Dia khawatir remaja-remaja internet, laptop, komputer. Ndak ngerti cara pakainya.

itu tidak nyaman kedatangan orang tua di tempat Salah-salah malah njebluk komputernya. Duaar, gitu …

berkemah. hahaha!” canda Naryo.

“Memangnya Mas Naryo cerita apa saja? Soal Layur jadi sadar sesuatu. “Lha kalau Yu Semi, tercebur ke sungai juga?” tanya Layur khawatir. kenapa ikut ke sini juga?”

 

240 BAB 20 | Raih Bintang Layur Tetaplah Berlayar 241

“Lha barang-barang kalian kan banyak banget. Layur dan teman-temannya tertawa. Tidak Kata Yu Semi, dia bisa bantu megang bawaan itu. Selain mengira kalau Pak Kadus bisa berkata-kata puitis.

itu, katanya dia mau ngajari Vani nari,” terang Naryo.

Tiba-tiba, Alun sudah ada di antara keduanya.

“Pak Kadus sudah siap? Sudah hafal?” tanya Alun

tiba-tiba.

Layur dan teman-temannya tidak mengerti. Pak

Remaja-remaja itu menikmati makan malam dengan

Kadus tersipu.

sangat gembira. Tawa canda mereka terus bergema

memantul di dinding-dinding Bukit Menara. Layur dan “Pak Kadus mau syuting untuk iklan dusun wisata Alun cekatan mengajak mereka berdiri di bibir jalan kita,” ujar Alun. “Siapa tahu, setelah muncul di internet, setapak mengarah ke lautan. Decak kagum mereka Pak Kadus diangkat jadi camat.” tak henti-henti terdengar. “Hus, ngawur ..,” balas Pak Kadus.

Pemandangan malam dari atas bukit itu Dengan cekatan, Pak Kadus dan Alun beranjak seperti kanvas hitam di mata seorang pelukis. Laut menuju bibir mencari sudut terbaik. Dengan latar gelap dan langit pun temaram. Bintang-bintang langit penuh bintang dan laut yang samar-samar, seperti hiasan alam berkedip-kedip di langit yang Alun siap mengambil gambar. Layur meletakkan melengkung sampai batas horison dan bertatap telunjuk di bibir meminta teman-temannya menutup muka dengan laut. Di perairan nan luas seolah tanpa mulut. batas itu, kerlap-kerlip lampu perahu tampak naik “Action!” teriak Alun.

turun mengikuti ombak.

“Saya sekarang sedang berada di atas Bukit

“Kalian tebak, kalau pemandangan seindah ini,

Menara, gaes ….”

berapa malam para wisatawan akan kemping di

tempat kita berdiri ini?” tanya Layur kepada teman- “Cut! Cut …! Jangan pakai kata gaes, Pak Kadus ..,”

temannya. tegur Alun dengan gemas.

“Bisa-bisa, mereka akan bilang ke saya untuk “Ndak pantees!” teriak Layur dan teman-temannya dibuatkan vila di sini. Biar mereka leluasa berminggu- kompak. minggu menikmati malam penuh bintang,” sahut Pak Kadus.

 

242 BAB 20 | Raih Bintang Layur Tetaplah Berlayar 243