Terguling
Basri tahu betul karakter Layur. Mereka sudah saling Layur tak membalas kata-kata Basri. Ia luluh dan kenal sejak belum bersekolah. memilih duduk di bangku. Menunggu ban diantar.
Mulutnya terkunci. Yuli lega banget.
“Semakin ditentang, Layur akan semakin
melawan, Mas,” bisik Basri pada Naryo. “Lepaskan Wawan dan Naryo datang dengan menggendong
saja. Biarkan dia mencoba sampai titik dia mampu. tiga ban. Tiga ban dalam yang sudah dipompa sampai Mas Naryo siapkan saja tiga ban. Kita semua keras. Naryo sudah memastikan bahwa tak ada nyemplung ke sungai.” lagi ban bocor di tempat susur gua itu. Ia tak ingin mengulang tragedi seminggu lalu.
Naryo masih ragu. Namun, sorot mata Basri
membuatnya berubah pikiran. “Baiklah. Aku sama Berlima, mereka menuju bibir sungai yang ada di Wawan ambil ban. Kamu dan Yuli bujuk Layur untuk dalam gua. Perlu kehati-hatian ekstra untuk menapak sabar menunggu aku.” lantai gua. Sebagai gua karst, tetes air selalu jatuh
dari kubah gua. Tetesan air itu membentuk stalaktit
Yuli terus menahan langkah Layur. Yuli kewalahan.
dan stalakmit yang sangat mengagumkan. Sekaligus
Layur terus merangsek. Semakin dihalangi, tenaga
membuat licin lantai.
Layur semakin berlipat.
Yuli dan Naryo membantu Layur berbaring di
“Layur yang aku kenal itu … memang Layur yang
atas ban. Pinggul masuk ke tengah ban dan kepala
pemberani,” kata Basri dengan volume suara yang dia
bersandar di salah satu sisi ban. Sementara itu, paha
buat lantang. Berhasil, Layur jadi terdiam meskipun
tersampir di ujung ban.
wajahnya masih cemberut.
“Yuli, Wawan … kalian juga naik ban. Aku akan
“Tetapi, Layur yang saya kenal pemberani itu,
berenang mengarahkan gerakan ban. Basri, kamu
bukan tipe orang nekat,” tambah Basri.
berjaga-jaga mengikuti laju ban dari pinggir sungai,
Layur menoleh cepat. “Ndak usah sok kenal ya,” instruksi Naryo. aku, kamu Basri. Sebel aku.” Biarpun demikian, “Siap, Mas,” sahut Basri.
Layur menjadi lebih tenang. Basri memang piawai
menyusun kalimat. Yuli dan Wawan sudah mengambil posisi
telentang di atas ban seperti Layur. Dengan cekatan,
“Kita bareng-bareng nyemplung ke sungai.
Naryo merangkai ketiga ban itu seperti rangkaian
Tapi, ikuti prosedur. Tunggu Mas Naryo dan Wawan
kereta api. Wawan berada di urutan depan, disusul
mengambil ban. Tapi kalau kamu mau nekat, ya sana
Layur, dan Yuli di belakang.
nyebur sendiri.”
220 BAB 19 | Terguling Layur Tetaplah Berlayar 221
Kedalaman sungai sebatas dengkul hingga dada semakin heboh menyiramkan air ke arah belakang. Ia Naryo. Dengan hati-hati, Naryo mulai mendorong ban tidak menyadari kalau Layur menghadapi masalah terdepan ke arah tengah sungai. Ban itu pun melaju serius. tenang.
Ban semakin basah dan licin. Layur panik tetapi
“Wan, bila perlu kamu arahkan laju ban ya. dia malu untuk meminta tolong. Bukankah ini semua Kalau mau membentur batu, gunakan kakimu untuk karena aku memaksakan diri? Aku tidak boleh menjejak,” instruksi Naryo. cengeng. Aku harus berusaha tenang.
Ternyata, asyik juga mengapung di sungai Kaki kiri Layur hanya sebatas dengkul. Ia kesulitan memakai ban, pikir Layur. Ia tidak menyangka bakal mempertahankan kaki itu untuk mengait ban yang diizinkan oleh Naryo menjajal atraksi susur sungai ini. semakin licin. Sekuat tenaga, ia gunakan tangan Dalam hati, Layur menyesal telah berkata-kata keras kirinya untuk mengangkat badan yang semakin kepada orang yang lebih tua darinya itu. melorot ke arah dalam ban. Susah! Dan, tiba-tiba ban mereka melewati perbedaan arus lagi. Ban memantul
Byur! Byur! Naryo dari sisi ban menyiramkan air
di atas gelombang air sungai.
sungai ke arah Wawan, Layur, dan Yuli. Ketiga orang di
atas perahu itu kaget tetapi langsung membalasnya. Byur! Blurp ... blurp ....! Dalam satu kejap mata, Perang siram air pun terjadi. Yuli yang berada di posisi tubuh Layur terguling dan melorot di dalam ban. paling belakang dengan mudah menyiram Layur Posisi badannya berdiri dengan tangan kanan masih dan Wawan di depannya. Basah! Jerit gembira pun memeluk ban yang licin. Seluruh kepalanya sudah tak menggema di dalam sungai bawah tanah itu. tampak di atas permukaan air sungai.
“Wawan! Aku tunggu di sini ya. Sebentar lagi kalian “Layur!” masuk sungai yang dalam, aku enggak bisa berenang di situ. Kalian jangan banyak gerak. Nikmati saja aliran “Layur …!” sungai ...,” teriak Naryo.
Teriakan Naryo kalah keras dari jerit kegembiraan “Layur …!”
tiga orang di atas ban itu. Ketiganya semakin ramai Yuli, Naryo, dan Basri yang terus mengawasi saling membasahi teman-temannya dengan air sungai. laju ban berteriak bersahutan. Wawan langsung Ban seperti terpantul ketika melewati jeram dengan menengok dan terperanjat, sahabatnya yang tadi kecepatan arus yang tak sama. Yuli memekik senang, masih telentang di ban kedua sudah tak ada. Tangan serasa naik bandulan. Terayun lagi dan lagi. Wawan kanan Layur sudah terlepas dari ban.
222 BAB 19 | Terguling Layur Tetaplah Berlayar 223

“Layur!”
“Layur …!”
Blurp!
“Layur …!”
Blurp!
Layur megap-megap. Semua itu terjadi begitu
cepat. Air sungai berkali-kali masuk ke dalam
mulutnya. Layur terus mengibas-ibaskan kaki
berusaha menjejak dasar sungai. Sayangnya, dasar
sungai itu terlalu dalam. Atau, kakinya tak cukup
panjang. Sementara itu, arus di dasar sungai lebih
cepat daripada di permukaan. Layur terus berusaha
untuk tidak tenggelam.
Byur! Tiba-tiba ada dua sosok yang menarik
tangannya. Keduanya melingkarkan tangan Layur
ke pundak masing-masing dan bergerak bersama
mengangkat tubuh Layur.
Huah! Layur menarik napas dalam-dalam. Ia
terbatuk beberapa kali sambil memuntahkan air
sungai yang terminum. Tubuh Layur masih dalam
posisi mengambang dengan ditahan oleh Naryo dan
Basri. Dalam jarak sepuluh meter, terlihat tiga ban
terapung. Sejauh itu aku terhanyut?
224 BAB 19 | Terguling Layur Tetaplah Berlayar 225 Segar! “Cukup ya? Kita turun sekarang?” ajak Vani.

“Masih seneng di sini sih. Tapi minumku
Vani meneguk botol minumnya sampai tak bersisa
juga habis,” sahut Ratna.
airnya. Ia sangat puas menikmati pemandangan
menakjubkan dari puncak bukit menara. Walaupun “Kapan-kapan kita ke sini lagi. Udah untuk sampai ke titik itu, ia dan temannya-temannya mulai sore, pasti Mas Naryo sudah harus bermandi keringat. Cuaca terik dan Bukit menunggu kita di bawah,” kata Sisil. Menara yang tak banyak tumbuhan menambah gerah Mereka pun menuruni jalan
rombongan remaja Dusun Prau itu.
menapak, berbatu, dan terjal untuk
mencapai sisi depan gua. Alun
yang paling gemuk berjalan paling
belakang. Ia tertinggal sepuluh
langkah dari teman-temannya
yang lebih gesit.
“Kalian itu ya. Sudah aku
antar ke atas tapi malah
ninggalin,” gerutu Alun.
Petrus paling dulu
sampai di tempat awal
mereka berkumpul.
Ia terperanjat
226 BAB 19 | Terguling Layur Tetaplah Berlayar 227 melihat Layur dan beberapa orang yang tadi tinggal Layur dan beberapa teman yang duduk di tikar di bawah terlihat berbeda. beringsut mendekati Ratna. Benar, anak yang suka
menggambar itu telah membuat denah kawasan
“Kalian kami tinggal, malah asyik berenang, ya?”
mulai Dusun Prau, Pantai Tambaksegaran, hingga
tanya Petrus sambil mengamati Naryo dan empat
perbukitan di sekitarnya. Ada kawasan penginapan,
lainnya masih basah bahkan menggigil kedinginan.
lahan perkemahan, perkebunan buah, pendopo
Yuli menyolek Wawan. “Kamu yang jelasin.” budaya, hingga beberapa alternatif jalur trekking.
Wawan ragu untuk menerangkan. Layur malah Layur takjub. “Ih, hebat tenan. Idemu ajaib.” menyela. “Iya. Kami berendam di sungai. Seger buat Ratna tertawa dan langsung menjelaskan. “Ini
berenang. Seger juga minum airnya. Jelas?”
bukan ideku, kok. Aku cuma menerjemahkan impian
Petrus bengong. Ditanya baik-baik kok malah ketus? teman-teman yang tadi naik ke atas bukit. Dari Satu per satu, para remaja itu tiba dan langsung sana, kami bisa melihat horison yang luas sehingga duduk di atas tikar. Komplet. Sisa bekal makanan gampang untuk membuat sketsa.” langsung ludes mereka nikmati. Dini yang tak “Ngomong-omong, apa temuanmu selama kami sengaja melihat ada pohon jambu biji tak jauh dari tadi naik ke atas bukit?” tanya Petrus kepada Layur.
mereka duduk langsung menarik lengan Wawan.
Layur melirik dan memberi kode pada
Dengan cekatan mereka memanjat dan memetik
Naryo untuk menjawab. Namun, lelaki itu malah
jambu yang sudah kuning. Sisil menyusul. Diikuti Yuli.
mengulurkan kedua telapak tangannya pertanda
Mereka menanti di bawah pohon, kalau-kalau dua
mempersilakan Layur sendiri untuk menjelaskan.
teman yang di atas pohon berbelas kasihan dengan
menjatuhkan jambu untuk mereka. Layur diam sejenak. Lalu katanya, “Temuanku
sederhana tetapi penting banget. Semua yang kita
“Awalnya, kita mau rapat. Tapi malah
rencanakan harus ramah difabel. Dan, hal terpenting
menemukan banyak hal menarik dan ide jitu tanpa
di atasnya adalah, semua harus menomorsatukan
harus duduk melingkar,” ujar Alun sambil mengunyah
keselamatan.”
biskuit.
Spontan teman-teman Layur bertepuk tangan.
Ratna membenarkan. “Untung ya, kita ke sini. Jadi
Mereka jadi sadar, kreatif dan inovatif itu wajib untuk
tahu apa yang bisa kita kembangkan di sepanjang
remaja seusia mereka. Namun, tak boleh gegabah
jalan dari Pantai Tambaksegaran sampai tempat ini.
apalagi lengah. Agar semua rencana yang mereka
Tadi aku sempat bikin sketsa nih.”
wujudkan membawa berkah, bukan musibah.
228 BAB 19 | Terguling Layur Tetaplah Berlayar 229
Alun unjuk bicara. “Kayaknya kita ndak bisa Naryo memotong. “Sudah waktunya salat asar.
kalau ngurusi semua bareng-bareng. Baiknya, kita Kita berjamaah lagi terus turun ya. Mobil Pakde bagi tugas sesuai minat masing-masing. Aku ndak Bambang ini harus aku kembalikan sebelum magrib.
bisa kalau disuruh panjat-panjat. Mending aku fokus Dia mau kulakan ke kota nanti malam.” mengurusi promosi dan riset pakai internet. Wawan Gantian Layur menyela. “Enggak boleh. Enggak
cocok jadi partnerku.”
mau. Aku enggak mau balik malam ini. Aku mau di sini.
“Iya, urusan panjat-panjat, menyiapkan fasilitas, Nginap di sini.” dan pasang plang serahkan padaku sama si tomboi Semua kaget. Naryo lemas.
Dini itu,” sahut Petrus sambil melambaikan tangan
kepada Dini yang duduk manis di atas pohon sambil “Aduh Layuuuur. Kamu jangan punya keinginan menikmati jambu. aneh-aneh lagi. Belum kapok kelelep di sungai, ya?”
keluh Naryo.
“Aku malah minat soal kesenian. Boleh ya kalau
aku melatih anak-anak menari dan berlatih gamelan Layur melipat tangannya di dada. “Enggak. di pendopo Layur. Ada yang minat juga?” tantang Enggak kapok. Makanya, jangan ada yang mau diajak Vani. Mas Naryo turun!”
“Aku mau banget!” Sahut Ratna yang disusul oleh
Basri, Yuli, dan Sisil.
Layur terharu. Andai aku melibatkan mereka
sejak awal tentu ... ah, sudahlah. Semua harus melalui
proses yang tak terduga.
“Aku nanti bilang ke Bapak. Ada gamelan di
rumah. Pendopo rumahku juga luas. Mau nari atau
jungkir balik di sana atau halaman rumahku, silakan
saja,” kata Layur. “Aku fokus kelilingan ke kelompok
karang taruna dusun sebelah saja. Ditemani Mas
Naryo. Biar semua rencana kita mendapat dukungan
luas.”
230 BAB 19 | Terguling Layur Tetaplah Berlayar 231
