Jalan dan Impian
Pantai Tambaksegaran tak ramai. Berita kebakaran
di tempat itu sudah menyebar melalui berita koran,
radio, dan televisi. Mungkin, wisatawan jadi ragu untuk
datang ke pantai itu. Hanya beberapa orang lokal yang
datang, naik andong, maupun sekadar basah-
basahan menjemput buih
ombak.
“Aluuuun, kamu yang jadi koordinator festival nelayan menjemur jaring dan ikan asin. Di sisi lain, layang-layang ‘kan?” teriak Petrus. Biarpun dia duduk warna-warni perahu bagaikan lukisan maestro dunia.
tak jauh dari Alun di bak terbuka mobil itu, tetapi suara
“Apik banget ya. Eh, itu gantungan-gantungan
ombak dan angin terlalu ribut ditambah deru mesin
kandang manuk kan rumahmu, to Yul?” komentar
mobil tua yang mereka naiki.
Ratna sembari mencolek Yuli.
“Iyaaa ... kenapa?”
“Hooh. Ji ro lu pat mo. Lima. Iya, kalau lima tiang
“Pakdeku, kan, punya konveksi dan sablon gantungan kandang burung berarti itu rumahku.
spanduk. Nanti aku usulkan pasang bendera dan Aku kan tiap pagi jadi pengerek bendera eh, kandang umbul-umbul di sepanjang pantai itu ya?” usul Petrus. burung,” seloroh Yuli.
“Mantaap! Sip. Setuju aku!” timpal Dini. “Kalau Dini tak tahan untuk meledek. “Tahun depan, urusan cari bambu buat pasang umbul-umbul, kamu diundang Pak Bupati, jadi pasukan paskibra di serahkan pada Vani dan Sisil, tuh. Bapak mereka kan alun-alun kabupaten!” juragan bambu.”
Spontan, semua tertawa, kecuali Basri dan Naryo
Vani dan Sisil adalah kakak beradik. yang duduk di depan. Keduanya asyik mengobrol sambil sesekali mengunyah manggleng—makanan
“Aku coba bilang ke Bapak ya, tapi aku ndak janji,”
kecil seukuran kentang goreng tapi dari bahan
balas Vani.
singkong. Kerasnya minta ampun.
“Lha kenapa?” sela Layur.
“Layur kok melamun?” Celetukan Dini
“Bapakku mbedidil, pelit, hahaha!” sahut Sisil menyadarkan teman-temannya bahwa teman satu dengan polos. itu tak banyak cakap.
Pecahlah tawa para remaja itu. Mobil mulai Layur tersentak dan tertawa kecil. “Kalian pikir.
berbelok arah dan masuk ke jalan setapak yang sudah Apa dan siapa yang bisa menikmati pemandangan diperkeras. Sedikit demi sedikit mulai menanjak meniti dari sini dengan murah, banyak orang, dan mudah punggung Bukit Menara. dipromosikan menggunakan internet?”
Ratna berdecak kagum. Baru sekali ini dia melihat Sembilan orang di bak belakang mobil itu berpikir dusunnya dari punggung Bukit Menara. Deretan keras termasuk Layur. Apa ya, wisata murah, ramai, rumah berselang-seling dengan para-para tempat dan gampang dikenalkan pakai internet? Mobil
208 BAB 18 | Jalan dan Impian Layur Tetaplah Berlayar 209 mereka berkelok-kelok dan semakin tinggi mendaki Hahaha! Tawa tak berkesudahan menjadi warna Bukit Menara. Pemandangan dari arah mereka indah untuk para remaja penuh semangat itu. Tahu-semakin elok. tahu ….
“Aku usul,” Vani mengangkat telunjuk. “Wisata “Sampai!” teriak Basri dari dalam mobil. “Turun bersepeda! Jalurnya dari pantai tadi terus naik ... naik semua yuk.” ... sampai gua susur sungai itu.”
“Wawan ... kamu yang dari tadi ndak usul
Sisil tak mau kalah. “Ada yang lebih murah apa-apa, ayo gelar tikar. Aku yang turunin bekal dan banyak orang. Mau tahu? Undang anak-anak dan termos minuman,” ujar Alun sambil menepuk
pramuka di sekolah untuk trekking dari pantai sampai sahabatnya itu. atas bukit. Bayangkan kalau siswa di sekolah itu ada “Siap, Mas.” Wawan yang santun itu sigap
200 anak, maka sekali datang bisa ramai sebanyak
menurunkan gulungan tikar dan membawanya ke
itu. Aku bisa jualan tongkat pramuka dari bambu-
bawah deretan pohon jati di depan gua. Dengan
bambu bapakku.”
dibantu oleh Petrus, tikar itu pun siap untuk dipakai
“Huuuu …! Dasar otak bisnis,” sambar Petrus untuk duduk santai. sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Tiba-tiba, Alun ingat sesuatu. “Ini kan udah pukul
Vani mengusulkan ada gardu pandang di tepian duabelas siang? Kalian ndak salat?” jalan yang mereka lalui, sedangkan Yuli pingin ada “Bener juga. Matur nuwun sudah mengingatkan,”
pohon peneduh yang lebih banyak di sana.
sahut Basri.
“Daripada dibuat gardu pandang yang malah
Para remaja itu pun bergantian mengambil air
merusak pemandangan, mending perbanyak pohon.
wudu di fasilitas wisata gua. Setelah memastikan
Orang lebih betah duduk-duduk di bawah pohon.
arah kiblat, mereka pun salat berjamaah di musala
Apalagi kalau dua-duaan, hihihi ....” usul Yuli.
yang tersedia di area wisata itu. Untung, tersedia
Vani sewot, usulnya dikritik Yuli. “Cah ayuuu ... cukup sajadah dan mukena untuk mereka. Basri yang gardu pandangnya bukan bangunan tembok kayak di Dusun Prau menjadi ketua remaja masjid menjadi gardu ronda itu. Tapi, dari bambu-bambu biar eksotis. imam. Beli bambunya dari bapakku.”
210 BAB 18 | Jalan dan Impian Layur Tetaplah Berlayar 211
“Kamu ndak salat, Layur?” tanya Petrus. Bertiga Layur mengerutkan kening. Petrus menggigit bibir dengan Alun dan Layur, mereka duduk di atas bangku bawahnya pertanda ia sedang berpikir keras. pengunjung di sisi kiri gua.
“Aku ingat!” kata Petrus setengah berteriak. “Dua
Layur melirik dengan ekor matanya. “Mau tau tahun lalu, saat Hari Pendidikan Nasional, kita duduk banget? Aku lagi berhalangan. Eh, tadi kita ada yang bertiga persis seperti saat ini. Kita jadi tim Cerdas bawa makanan, ya?” Cermat mewakili sekolah. Kita kompak banget. Layur
jadi juru bicara. Suaranya lantang bikin keder semua
“Tenang. Ada lima belas nasi bungkus pemberian
lawan.”
Pak Kadus. Tadi, rencananya kan kita mau rapat
sampai sore di balai desa. Ada juga satu dus donat Layur terbelalak. “Oh iya. Kamu ingat aja.” titipan Yu Semi. Pakde Bambang juga nitip biskuit dan Alun memasang wajah serius. “Saat itu, Layur
teh kotak. Semua ada di bangku mobil. Semoga belum
yang kita kenal adalah Layur yang optimistis. Tidak
dimakan oleh Mas Naryo dan Basri, tadi,” lapor Petrus.
takut lawan, yakin kalau pasti menang. Berani
Alun diam seperti merenung. “Seharusnya, bermimpi besar bisa mewakili kabupaten kita ke tempat ini ramai ya. Apalagi besok hari libur.” tingkat provinsi.”
“Ndak usah sedih. Semua akan indah pada Petrus menimpali. “Iya, Layur yang dulu adalah waktunya. Kejadian kemarin memang bikin wisatawan temanku yang pantang menyerah. Beda banget membatalkan niat untuk susur sungai. Kata Mas Naryo, dengan Layur yang sekarang. Dia melempem. sudah ada lima grup yang minta jadwal ulang. Moga- Lembek. Gampang sedih. Ndak berani mimpi besar.”
moga ndak ada rusuh-rusuh lagi. Biar tempat ini ramai
Layur tertawa keras. Suaranya menggema
lagi,” Petrus menyahut dengan bijak.
memantul di dinding-dinding Bukit Menara. Untung,
“Kamu gampang ngomong rasah sedih,” Layur teman-temannya sudah selesai salat. “Kalian ini, ya.
bersungut-sungut. “Aku masih trauma sampai Bisa aja membakar semangatku. Makasih ya, bro!”
sekarang. Aku ndak mau mimpi terlalu tinggi.”
“Aku lapar. Makan yuk,” ajak Wawan yang datang
Alun pindah duduk di sisi kiri Layur. Kini, gadis itu mendekat. “Eh, kita bareng-bareng turunin dulu diapit oleh dua sahabat lelakinya. ransum kita.”
“Layur, kamu ingat formasi kita berjajar bertiga
seperti ini?” ujar Alun.
212 BAB 18 | Jalan dan Impian Layur Tetaplah Berlayar 213 Lima belas porsi nasi bungkus habis dimakan oleh “Iya, iya, iya!” sahut Dini, Vani, Sisil, dan Petrus.
sebelas orang. Jangan ditanya, siapa yang nambah.
“Ayo kita kemon!” seru Alun. “Petrus, kamu
Alun melambaikan tangan, mengajak beberapa teman
pamitan dulu sama Mas Naryo.”
untuk melihat koleksi foto di ponselnya.
Di depan gua, Naryo sedang kewalahan dicecar
“Kalian mau tahu, bagaimana ide dusun wisata
oleh Layur.
kita tercetus? Gara-gara foto-foto ini!”
“Ndak bisa gitu, Mas Naryo. Sampeyan ndak boleh
Vani, Sisil, Petrus, Ratna, dan Dini berebut untuk
diskriminasi gitu. Tempat wisata kita harus ramah
melihat dengan lebih jelas. Ponsel itu berputar di
difabel.” Layur menaikkan nada suaranya.
antara mereka dan memancing decak kagum.
Mas Naryo garuk-garuk kepala. “Ya kita sedang
“Beneran, ini Pantai Tambaksegaran?” selidik Ratna.
mengarah ke sana, Layur. Anak tangga di sini sudah
Alun menggeleng. “Itu Pantai Parangtritis. dibuat landai. Bahkan ada jalur khusus untuk mereka Aku memotretnya dari ujung atas sana.” Alun yang berkursi roda. Tapi kan ndak semua destinasi mengarahkan telunjuknya ke sisi di tempat menara wisata cocok untuk difabel. Apalagi atraksi susur sungai telekomunikasi berdiri. seperti ini. Lantai gua ini licin, lho Layur.”
“Dari titik itu, aku memotret Pantai Parangtritis. “Maaf … maaf, Mas Naryo, Layur. Aku dan teman-Itu pantai di kabupaten sebelah. Ramai banget kan? teman izin mau naik ke puncak bukit dulu ya. Ditemani Banyak bus dan kendaraan parkir di sekitar pantai. Alun,” sela Petrus. Layur yakin, Dusun Prau dan Pantai Tambaksegaran Naryo mempersilakan Petrus dan teman-
bisa disulap menjadi tujuan wisata sebagus itu,”
temannya untuk eksplorasi Bukit Menara itu. “Tapi,
terang Alun.
jangan lama-lama ya. Jangan sampai gelap. Di sini
Dini melirik Ratna penuh arti. “Bagaimana kalau belum ada listrik.” kita paksa Alun untuk mengantar kita naik jauh ke Layur tidak suka disela. Dia mencolek Naryo.
sana. Ke titik tempat foto itu dijepret?”
“Mas. Aku mau ngetes.”
Ratna sigap menimpali. “Iya lho. Siapa tahu kalau
Perasaan Naryo mendadak jadi tidak enak.
kita berdiri di atas sana, kita dapat banyak ide untuk
“Maksudmu, Layur?”
pengembangan dusun wisata kita. Bener enggak?”
“Aku mau masuk ke gua. Mencoba naik ban dan
hanyut di sungai seperti para wisatawan itu!”
214 BAB 18 | Jalan dan Impian Layur Tetaplah Berlayar 215
Naryo langsung pucat wajahnya. Demikian pula
Wawan, Basri, dan Yuli yang berdiri di situ.

Naryo meratap. “Jangan aneh-aneh, Layur.
Bahaya. Aku bisa ditinju bapakmu kalau terjadi apa-
apa.”
Layur tidak peduli. Dengan cepat dia mengayun
kedua kruknya mendekati bibir gua.
“Kalau kalian tidak mau menemani aku, biarin.
Aku bisa sendiri. Aku yang menemukan gua itu. Aku
dulu terguling-guling di sana. Aku ndak apa-apa!”
Yuli menjerit.
“Aduuuh, Layur! Berhenti …!”
216 BAB 18 | Jalan dan Impian Layur Tetaplah Berlayar 217
