BAB 17

 

Angan Kembali

 

Mendapat Jalan

 

Alun sangat sabar mengarahkan para bocah untuk

bergaya di depan kamera. Teriakannya terlontar

bukan karena dia marah, tetapi untuk

mengimbangi deru ombak yang tak

mau mengalah.

“Nah iya … kamu lari sambil memegang tali Naryo memutar setir mobilnya dan mendekati layang-layang. Nah, kalian berdiri di situ sambil balai desa. “Perjuangan baru dimulai lho, Layur. Bu mengangkat layang-layang yang tinggi ya. Aduh … Bupati baru bilang tapi belum tanda tangani proposal itu kamu naik kuda jangan kaku begitu. Senyum yang kita.” natural!” atur Alun.

“Iyalah, Mas. Makanya kita kumpulkan teman-

Entah sudah berapa puluh gambar terekam di teman untuk mendukung rencana kita. Aku kapok mikir kamera digital Alun. Pagi itu, dia harus mendapatkan dhewe kayak kemarin. Aku sok pinter ya,” ujar Layur banyak gambar untuk mengisi akun media sosial sambil menjitak kepalanya dua kali. Tingkah lucunya tempat dia memamerkan dusun wisata. Lebih-lebih, di itu memancing tawa Naryo. awal tahun nanti akan diselenggarakan festival layang-

“Eh, itu Alun!” teriak Naryo. “Kita samperi?”

layang tingkat nasional di Pantai Tambaksegaran.

Itulah sebabnya, Alun sangat antusias untuk membuat “Ngapain? Dia lagi syuting,” sahut Layur ringan.

foto anak-anak bermain layang-layang dengan latar “Lagian, biar dia jalan kaki ke balai desa. Toh cuman belakang ombak bergulung-gulung. berapa ratus meter.”

Di tempat berbeda, Layur dan Naryo melaju Naryo geleng-geleng sambil tertawa kecil. dengan mobil bak terbuka memasuki Dusun Prau. Memang unik pertemanan dua sahabatnya itu. Keduanya baru saja bertemu Ibu Wakil Bupati di Mereka sangat cocok dalam banyak hal, tetapi seolah kantor Pemda. Wajah keduanya sangat semringah. menjaga diri untuk tidak saling memperlihatkan Ingin rasanya mereka segera bertemu teman-teman kedekatan. Ada apa dengan mereka? Ah, sudahlah.

yang sudah menunggu di balai desa. “Walaah, sudah kumpul berapa orang ini?”

“Ndak mengira, ya Mas Naryo. Presentasi saya Layur menyapa teman-temannya saat mobil yang gagap-gagap gitu bisa menarik hati Bu Wakil yang dia tumpangi berhenti di depan balai desa.

Bupati,” canda Layur. Layur menghitung. Ada lima perempuan dan tiga

lelaki seumur dia sudah duduk bersila di balai desa

“Itu karena tadi kamu pakai nangis-nangis.

beralaskan tikar.

Makanya beliau luluh dan siap mendukung

perjuangan kita.” Naryo menyahut cepat. Layur menyalami mereka. Hampir semuanya

dia kenal karena memang tinggal sedusun bahkan

“Lha aku nangis beneran, kok. Bukan drama tadi.

sebagian di antaranya pernah satu sekolah. Ada Dini,

Gimana ndak mewek pas menceritakan hancurnya

Ratna, Wawan, Basri, Petrus, Vani, Sisil, dan Yuli.

dusun wisata kita!”

 

196 BAB 17 | Angan Kembali Mendapat Jalan Layur Tetaplah Berlayar 197

“Laptopmu kayak lagi jualan stiker gitu, Wan. “Iya. Rapatnya mending di Bukit Menara saja.

Kebak gambar tempel!” ledek Layur pada Wawan Biar terasa suasana tempat wisata gitu. Kan asyik!”

yang asyik browsing. usul Alun.

Vani ikut usil. “Lha itu kan stiker lambang sekolah Aha! Tampaknya semua setuju. Buru-buru Wawan pacarnya Wawan. Tuh, yang itu stiker pacar pertama, mengemasi laptop dan memasukkan ke ransel. yang sebelahnya stiker pacar kedua!” Sedangkan Dini, Ratna, dan Sisil menggulung tikar lantas memasukkan ke dalam bak terbuka kendaraan

Wawan buru-buru mendekap laptopnya biar tidak

yang tadi dikemudikan oleh Naryo.

ketahuan pacarnya bersekolah dimana. “Ndak usah

usil, kowe. Dasar jomblo kabeh!” balas Wawan disusul “Layur, kamu buruan naik. Duduk di depan situ,”

dengan senyum lebarnya. perintah Alun. Dia tidak sadar kalau Layur paling ogah

diperintah-perintah.

Naryo nimbrung. “Ndak apa-apa kok kalau

laptopnya ditempel-tempeli gambar. Asalkan, dirawat Layur memukul kaki Alun dengan kruk. “Emang dengan baik. Itu kan laptop bantuan pemerintah yang kamu mbahku? Sok ngatur-atur gitu. Enggak mau, aku dulu itu, kan.” maunya di duduk di belakang!”

Sekonyong-konyong, Alun sudah ada di antara Semua terperanjat. mereka. “Kirain sudah mulai rapatnya. Bagi minum “Lha kok bengong kabeh?” Layur dengan cekatan

dong. Hauuuus!” Tanpa meminta izin, remaja itu

memutar tubuhnya, membelakangi bak terbuka,

mencomot satu botol minum berwarna merah marun

lantas duduk di situ, memutar badannya, dan menarik

dan glek-glek!

tungkai kaki ke dalam bak kendaraan. “Kalian pikir aku

“Ya ampun. Itu minumku, Alun,” rengek Sisil. Alun enggak bisa naik? Week!” Layur menjulurkan lidahnya.

cuek. Lucu, semua tertawa.

“Rapatnya kita mulai sekarang, yuk,” ajak Ratna “Aku ngalah deh. Aku temani Mas Naryo duduk di yang datang paling awal. Ia sudah duduk bersila sejak depan,” kata Basri. tadi di sebelah Dini dan Basri.

Dengan berdesakan, sembilan orang mengisi

Alun berkacak pinggang. Ia seperti mendapat bak terbuka dan dua lainnya termasuk Naryo duduk ide dadakan. “Ngapain kita rapat di balai desa kayak di dalam kendaraan. Glodak-glodak! Mobil tua bapak-bapak! Kita naik, yuk. Mumpung ada mobil.” itu berguncang-guncang melaju di tepian Pantai Tambaksegaran menuju Bukit Menara.

“Naik? Maksudmu?” tanya Petrus.

 

198 BAB 17 | Angan Kembali Mendapat Jalan Layur Tetaplah Berlayar 199

banyak dusun untuk mengajak karang taruna bareng-

bareng mengelola Desa Wisata.”

Pak Kadus tak bisa menutupi rasa kagumnya.

Dari kejauhan, Bapak dan Pak Kadus duduk bersila

“Kalau kita dulu, seumur Layur cuma bercita-cita

beralas tikar pandan di salah satu gunduk pasir.

jadi buruh gendong tangkapan nelayan!” ujar Pak

Gelombang laut sedang tidak bersahabat sehingga

Kadus sambil tertawa kecil.

nelayan Dusun Prau tidak melaut. Ini saatnya untuk

memperbaiki jaring dan merawat perahu sembari Bapak mengiyakan sambil ikut tertawa. Tak lama

menanti laut ramah untuk diarungi. kemudian, Pak Kadus berpamitan untuk kembali mengolah ikan menjadi ikan asin di rumahnya.

Keduanya dengan jelas mengamati para remaja

itu kompak bercengkrama dan pergi bersama menuju “Monggo … silakan, Pak Kadus. Saya mau leyehatas bukit ramai-ramai menggunakan mobil bak leyeh dulu di sini. Bersantai. Oh ya, soal kadus-kadus terbuka. yang bahas Layur tadi, tolong jangan diceritakan ke

Layur. Nanti anakku itu jadi besar kepala,” kata Bapak.

“Genduk Layur sudah bersemangat lagi, ‘kan

Dia serius tak ingin putrinya itu terjebak pada puja puji

Kang?” tanya Pak Kadus. Kopi pahit dipadu ampyang

seperti sebelumnya.

yang manis menjadi perpaduan sempurna untuk

mengawali hari. Biarpun keras, panganan tradisional Bapak tidak beranjak dari tempat dia duduk khas Jawa yang terbuat dari kacang tanah yang diberi bersila biarpun cangkir kopinya hanya menyisakan adonan gula jawa itu masih sanggup dikunyah oleh ampas. Pagi itu dia ingin menikmati buih-buih yang Pak Kadus. terempas, sesuatu yang dia lihat berpuluh-puluh

tahun setiap kali menarik nafas, tetapi tidak sempat

“Bocah saya itu, semangatnya seperti truk diesel.

dia rasakan dan nikmati keindahannya.

Kalau mesinnya sudah panas, ngebut sampai puncak

Bukit Menara pun sanggup dia libas dalam satu menit, Tak pernah terpikirkan, alam raya Pantai hahaha …,” sahut Bapak tanpa bisa menutupi rasa Tambaksegaran ternyata adalah emas yang hidup.

bangganya. Terus bertumbuh dan berkilau hingga membuat

banyak wisatawan terpukau. Sayang sekali, selama

“Semangat dan keberanian dia itu lho. Layak

ini penduduk dusun dan terutama Bapak telah silau.

dapat acungan jempol!” balas Pak Kadus. “Kemarin

Kemiskinan telah menutupi pandangan mata mereka

saya terkaget-kaget karena diberitahu oleh beberapa

dari alam nan kemilau.

kadus tetangga. Katanya, Layur putar-putar ke

 

200 BAB 17 | Angan Kembali Mendapat Jalan Layur Tetaplah Berlayar 201

Dan, gendukku telah melihat emas hidup itu.

Menjadikannya sebagai penghidupan baru bagi

penduduk dusun, kata Bapak di dalam hati. Untung,

Layur bertemu Alun yang pintar dan rendah hati.

Bapak tersenyum tipis membayangkan sosok

Alun yang tiba-tiba menjadi teman sejati bagi

putrinya itu. Awalnya, Alun tinggal bersama kedua

orangtuanya di Jakarta. Namun, empat tahun

lalu Papa Alun harus pindah tugas di pedalaman

Kalimantan mengelola tambang di sana. Pada saat

bersamaan, Mama Alun pun harus berangkat ke luar

negeri untuk mengejar gelar doktor.

“Mas, aku titip anakku ya. Biar dia tinggal di

イ#m > ゥrヲエ # M # r Fr# > m f ゥMゥ#ヲr #エf

mengajari dia keberanian dan perjuangan hidup.

Cuma Mas yang saya andalkan ….” Demikian isi

surat dari Papa Alun saat itu. Sejak masa lalu, Bapak

dan Papa Alun

bersahabat Bapak juga selalu menyelipkan nasihat dan teladan

sebelum setiap kali bertemu bocah kota itu. Bagi Bapak, Alun

perbedaan nasib dan Layur adalah dua anak yang dia didik sama

memisahkan mereka. baiknya.

Semenjak itu, Dulu, di saat kedua remaja itu mulai merintis

Alun tinggal bersama dusun wisata, Bapak cemas. Ia khawatir keduanya buliknya di Dusun Prau. akan kecewa karena mempunyai impian yang terlalu Alun tak pernah tahu tinggi. Bagaimana mungkin dusun terpencil mereka kalau Bapak diam-diam bisa dikenal masyarakat luas mengandalkan internet selalu menjaga anak dan ponsel yang dimiliki oleh Alun? Saat itu, Layur itu sepanjang waktu. pun belum fasih menggunakan laptop hadiah dari

pemerintah.

 

202 BAB 17 | Angan Kembali Mendapat Jalan Layur Tetaplah Berlayar 203

Diam-diam, Bapak menyurati Papa Alun di Semua hal yang dipaksakan untuk langsung Kalimantan. besar pada akhirnya akan redup dengan cepat. Bapak

menjadi sadar akan hal itu. Seharusnya, dia lebih

Mas, nyuwun sewu–mohon maaf Mas, nyuwun sewu–mohon maaf bersabar dan membiarkan Layur dan Alun berproses karena saya akan merepoti. Anak-anak kita karena saya akan merepoti. Anak-anak kita tahap demi tahap sampai mereka sepenuhnya siap.

sedang berjuang membangun Dusun Prau Terbukti, ketika putrinya itu menata rencananya sedang berjuang membangun Dusun Prau

menjadi kawasan wisata. Saya itu khawatir, menjadi kawasan wisata. Saya itu khawatir, dengan lebih rapi dan melibatkan banyak pihak, dusun wisata mereka pun kembali dilirik media. Banyak pihak

mereka kecewa karena impiannya terlalu mereka kecewa karena impiannya terlalu telah datang termasuk dari pihak perguruan tinggi,

muluk. Saya tidak mungkin melarang mereka muluk. Saya tidak mungkin melarang mereka investor paralayang dari Manado, dan Kementerian karena saya orang bodo tidak sekolah. Apa karena saya orang bodo tidak sekolah. Apa Pariwisata yang tertarik menyelenggarakan festival mungkin kalau Mas membantu mendatangkan mungkin kalau Mas membantu mendatangkan layang-layang awal tahun depan.

wisatawan ke Dusun Prau? wisatawan ke Dusun Prau? Bapak sampai tidak yakin, benarkah semua itu hasil kerja keras Genduk Layur?

Bagi Papa Alun, tak sulit untuk memenuhi

permintaan Bapak. Tak disangka-sangka, dia kerahkan

mitra kerja dan karyawannya yang berkantor di

Jakarta untuk berlibur di Dusun Prau. Tak tanggung-

tanggung, mereka datang dengan tiga bus besar.

Rombongan itulah yang akhirnya mengalami kejadian

nahas beberapa waktu lalu.

Bapak turut merasa bersalah terutama karena

dia punya andil dengan diam-diam mendatangkan

wisatawan sebanyak itu. Layur dan Alun terlalu dini

untuk mendapat tamu dan tanggung jawab sebesar

itu. Demikian pula warga Dusun Prau pun belum

sepenuhnya siap menjadi pengelola wisata setelah

turun temurun bekerja di tengah laut menggunakan

perahu.

 

204 BAB 17 | Angan Kembali Mendapat Jalan Layur Tetaplah Berlayar 205