Menghibur
Tiga hari setelah peristiwa kebakaran.
Yu Semi melongok ke dalam rumah Layur yang
memang tak ada kuncinya. Sekali dorong, pintu utama
sudah terbuka. Sepi.
“Layur … Yu Semi bawakan sarapan, Nduk. Tadi
bapakmu pesan, katanya kamu pengin sarapan pakai
gudangan dan tempe bacem.”
Dua detik … empat detik. Barulah terdengar sahutan.
“Aku di belakang, Yu! Sini, di sebelah sumur.
Langsung masuk aja.”
Yu Semi melangkah melintasi dua ruangan,
meletakkan rantang hijau susun tiga berisi makanan di
meja makan, dan menuju sumur.
“Bawa apa tadi, Yu?” Layur menyapa tetangganya
yang pandai memasak itu lantas tertawa lebar. Samar-
samar dia tadi melihat tamunya itu membawa sesuatu.
“Gudangan komplet dan pedes sesuai
kesukaanmu. Kamu sedang mencuci apa itu?” Yu Semi
ikut jongkok di samping Layur.
“Ini, tadi dapat kiriman singkong dari Mas Naryo.
Lha terus Bapak bilang, katanya pingin makan singkong
178 BAB 14 | Dalang rebus. Ya sudah, aku siapin dulu sambil nunggu Bapak “Selain bayam dan kubis rebus, itu Yu Semi tambahi balik dari melaut.” dengan kembang turi. Kan, banyak pohon turi yang lagi
berbunga di jalan menuju Bukit Menara,” tutur Yu Semi.
Layur mengelap tangannya dengan ujung baju
dan beringsut mendekati Yu Semi. “Iya, Yu. Gudangan bikinan Yu Semi selalu uenaaak pol apalagi kalau ada rebusan kembang turi.
“Layur ikut prihatin karena warung Yu Semi
Bapak dan aku suka banget!” Layur mengacungkan
terbakar habis. Aku minta maaf. Soalnya ….”
kedua jempol tangannya ke arah Yu Semi. Padahal,
“Hus! Jangan ngomong gitu, Nduk,” potong Yu jempol itu penuh dengan bumbu parutan kelapa.
Semi. “Malah Yu Semi yang minta maaf karena kalap
Layur puas banget. Dia mengangkat sedikit
dan nangis sampai gulung-gulung. Semua itu bukan
tubuhnya tanpa meninggalkan bangku. Dia raih dua
salah Layur. Bukan salah bapakmu juga.”
gelas, mengisinya dengan air segar dari kendi, dan
Yu Semi membantu mengangkat sebaskom salah satu gelas itu dia sodorkan untuk tamunya.
singkong yang sudah dikupas bersih oleh Layur. Dia
“Layur pingin ikut gotong royong membangun
pindahkan ke dalam dandang, menambahkan air, dan
warung Yu Semi lagi. Biar bisa jualan lagi.”
meletakkannya di atas kompor tak jauh dari sumur.
Cekrek, kompor pun mulai menyala. Sebentar lagi “Besok kan Minggu. Pak Kadus sudah bikin singkong rebus akan matang, siap untuk dinikmati. undangan agar warga gotong royong bersih-bersih sisa kebakaran dan memperbaiki warungku, Nduk,”
Layur menolak dengan halus ketika Yu Semi
kata Yu Semi. “Kamu bantu-bantu di dapur saya saja.
hendak membantunya berdiri. Dengan gesit, Layur
Kita siapkan makan siang dan es kelapa muda buat
meraih sepasang kruk yang dia sandarkan dekat timba.
bapak-bapak yang gotong royong.”
“Wah, dapat bantuan dari siapa untuk membangun
warung-warung yang terbakar, Yu?” Layur penasaran.
Yu Semi dan Layur beranjak keluar dari dapur
Yu Semi tersenyum penuh arti. Remaja putri di
yang sekaligus menjadi ruang makan itu. Mereka
hadapannya makan dengan lahap tanpa sendok.
pindah duduk di lincak.
Tangan gadis itu cekatan mengambil bumbu
gudangan makanan khas Yogyakarta itu yang terbuat “Juragan Perahu sudah mengakui perbuatannya.
dari kelapa parut bercita rasa pedas, manis, dan gurih Dia juga sanggup untuk menanggung semua dipadu dengan sayuran rebus. biaya perbaikan akibat kebakaran dua hari lalu, ya
180 BAB 15 | Menghibur Layur Tetaplah Berlayar 181 alhamdulillah. Yu Semi segera bisa jualan lagi,” tutur “Eh, itu siapa yang datang?” tanya Yu Semi saat perempuan setengah baya itu tanpa nada kebencian. terdengar ada langkah kaki masuk ke rumah.
“Bapak juga sudah cerita sedikit soal itu, Yu.” Layur “Permisi … apakah ada yang mau lihat foto-foto menimpali. “Syukurlah ya. Kejadian ini cepat ketahuan wisatawan tiga bus?” canda Alun yang tiba-tiba sebabnya. Aku takut banget saat itu, dan merasa sudah ada di depan mereka. Anak itu sudah akrab sangat bersalah.” dengan keluarga Layur sehingga sering main selonong
masuk ke dalam rumah.
“Bapakmu juga cerita soal itu pada Yu Semi. Katanya
kamu sangat terpukul dan merasa paling bersalah. Dengan cepat, tiga warga Dusun Prau itu segera Makanya, dia membujukku untuk main ke sini. Untuk mengerubung ponsel Alun dan melihat seratusan foto menasihati kamu, Nduk,” Yu Semi jujur mengakui. kegiatan wisatawan Jakarta yang beberapa hari lalu bertandang ke Pantai Tambaksegaran. Makin yakinlah
Layur menjadi malu.
Layur bahwa dusun wisata yang dia gagas harus
Yu Semi tersenyum penuh arti ke arah Layur. “Aku dilaksanakan kembali. bilang ke bapakmu, kamu ndak butuh nasihat. Kamu Layur pun meminta banyak saran dari Yu Semi
sudah gede dan lebih dewasa dari anak seusiamu.
dan Alun untuk membangun kembali Dusun Prau.
Memimpin orang satu dusun saja kamu sanggup
Rasanya, tak mungkin lagi bagi Layur untuk berjuang
apalagi memimpin diri sendiri.”
hanya berdua bersama Alun sahabatnya itu.
Layur semakin malu. Pipinya merona merah.
Alun berkata, “Kamu dulu pernah bilang ke
“Aku jadi pingin mengaku salah kepada Bapak, aku untuk melibatkan semua teman yang saat itu kok Yu. Niatku menggerakkan warga dusun ini kurang menerima bantuan laptop dari pemerintah ….” murni. Aku lebih butuh pujian dan tepuk tangan.”
“Iya …,” potong Layur. “Aku pikir ulang, namaku
“Kamu sudah sampaikan itu kepada bapakmu?” akan tenggelam kalau aku mengajak mereka.
Layur menggeleng. Sekarang aku sadar kalau aku salah.” Layur mendesah
penuh sesal. “Saatnya aku melibatkan mereka juga.”
Yu Semi mencubit mesra pipi Layur. “Cah ayu … kamu
memang pantas menerima tepuk tangan dan pujian dari “Libatkan juga pemuda-pemudi lainnya, Nduk.
orang sejagat. Kamu hebat dan akan semakin membawa Sampai sekarang, Pak Kadus masih yakin kalau pelaku manfaat kalau kamu meneruskan impianmu.” kerusuhan itu tidak hanya Juragan Perahu. Mungkin ada banyak anak muda yang butuh dirangkul agar mereka
Layur mengangguk beberapa kali.
tidak iri dan tersisih,” saran Yu Semi dengan hati-hati.
182 BAB 15 | Menghibur Layur Tetaplah Berlayar 183
“Itu juga yang mau aku bilang, Layur. Makanya Banyak sepeda motor mengebut bahkan pernah aku sengaja ke sini,” timpal Alun. terjadi tabrak lari yang dilakukan wisatawan,” terang
Alun.
Layur mengerutkan kening. “Kamu main rahasia-
rahasian sama aku, ya?” Layur berkata dengan nada Layur dan Yu Semi menyimak semua cerita tinggi. Ia kesal. Alun. Ternyata, setiap niat baik tak selalu mendapat tanggapan yang baik pula. Entah alasan para pemuda
“Bukan niatku begitu, Layur. Tetapi Mas Naryo
itu benar atau tidak, intinya semua orang ingin ikut
yang wanti-wanti agar aku tidak membocorkan
mendapat bagian dari pembangunan dusun wisata
kejadian ini padamu. Khawatir kamu patah semangat
yang digagas oleh Layur.
atau malah takut.” Alun meluruskan.
“Terima kasih buatmu, Alun. Juga Yu Semi.
Layur menjadi berang. “Oh, gitu ya kamu, Alun. Main
Aku makin sadar kalau aku terlalu sombong untuk
sekongkol sama Mas Naryo. Udahlah, ceritain semua.”
mengerjakan ini hanya dengan mengandalkan kedua
Alun pun bercerita panjang lebar tentang rombongan tanganku ini. Mau ‘kan kalian membantu aku untuk pemuda yang mengancam Mas Naryo. Mereka berasal memperbaiki kembali impian yang sudah porak dari dusun tetangga yang merasa tak mendapat manfaat poranda ini?” apa-apa dari keramaian di Dusun Prau.
Alun dan Yu Semi mengangguk mantap sambil
“Mereka bilang, jalan dusun mereka menjadi mengacungkan kedua jempol tangan mereka. rusak sejak banyak mobil masuk ke daerah 
“Astaga!” seru Alun mengagetkan dua perempuan
kita yang melewati dusun mereka.
di depannya. “Bau apa ini?”
“Singkong rebuuuus! Gosong! Lupa, pasti
kehabisan air!” teriak Yu Semi panik.
184 BAB 15 | Menghibur Layur Tetaplah Berlayar 185

! !)#%

Layar Harus
Terkembang
*6NKHb9K9KBb9>b6E6BbJ6E<<6bG:E9FGFbHKD6=Wb0:ENKDb
96EbJ6M6bH>6E
#>6bI:E6E
G:H:DGK6Eb7:HD6>Eb9>b=6C6D6EbHKD6=EN6Wb06JKb
6E6BbD:E6H>b9>bJ:E<6=XbI:96E
7:H<6E9:E<6EbJ6E<6EbD:D7:EJKBbC>E
+:H:B6bD:EN6EN>b9:E<6EbBFDG6BbI6D7>CbD:D6>EB6Eb
9FC6E6Eb6E6BbN6E
$*6=:C*7D>*D.-C.-D</84
$*C6=:D*C*9*C>*D.-.-D</84
$*6=:D.*20/D6+-:2020/D;*4D*:*C*C:*D
(0:*D+*.-D2*6=:D*9*B
$*6=:D.*.*4A
#*84D.*84D.*84
E6B¥6E6Bb>JKbGKEbD:E>HKB6Eb<6<6BbJ:H76E
*6NKHb>BKJbD:E:H>6BB6EbIK6H6b<6<6BWb1:H6E
D:E:D6E>bD:H:B6b7:HD6>EW
186 ! !bPTbc Menghibur “Jahe hangat pakai gula jawa untukmu, Layur ….” Layur menyela. “Untung Bapak tidak ikut-ikutan Bapak meletakkan dua cangkir dan sepiring singkong menjual perahu.” goreng di samping Layur. Ia pun ikut duduk di situ.
Bapak terdiam. Layur menunggu Bapak
“Kebalik ya, Pak? Harusnya aku yang meladeni menjawab. Sampai Layur menyadari ada hal yang Bapak dengan membawakan wedang jahe seperti ini. disembunyikan oleh orangtuanya itu. Tapi, entar tumpah kayak dulu.”
“Bapak …?”
“Ra sah dipikir. Ndak udah jadi bebanmu. Kalau
Bapak menganggukkan kepala lemah. “Sejak dua
saatnya kamu ada rezeki dan bisa pakai kaki palsu,
tahun lalu, Bapak sudah menjual perahu kita, Nduk.”
tentu semua hal bisa kamu lakukan. Termasuk main
Akhirnya Bapak mengaku. “Bapak butuh uang untuk
jamuran seperti itu,” hibur Bapak.
kebutuhan hidup kita. Jadi, meskipun kamu lihat Bapak
Layur menepuk lengan bapaknya dengan manja. menggunakan perahu yang sama, sejujurnya itu “Tahun berapa itu Pak? Sepuluh tahun lagi saat Layur bukan perahu milik kita lagi.” sudah terlalu tua untuk main jamuran? Hahaha ….”
Layur tertunduk. Dia kembali merasa sangat
Wedang jahe hangat mengalir ke dalam tubuh bersalah. “Perahu kita dijual dua tahun lalu. Artinya, Layur dan kehangatan itu semakin dia rasakan sejak itu saat Bapak harus membiayai Layur masuk SMA, ya dirinya dan Bapak semakin sering bicara dari hati ke Pak?” hati.
“Oh, tidak. Tidak, Nduk. Jangan salahkan dirimu.”
“Juragan Perahu akhirnya dibawa ke kantor polisi, Bapak buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Oh ya, ya Pak?” Layur menyeruput wedang jahenya sekali Juragan Perahu bertambah marah karena semakin lagi. sedikit orang yang mau melaut. Warga dusun sudah
merasakan enaknya bekerja dari darat saja. Tanpa
“Kata orang-orang ya begitu. Hidup Bapak lebih
harus mempertaruhkan nyawa melawan gelombang
tenang kalau dia mendapat hukuman yang setimpal.
laut, mereka bisa mendapat uang cepat dengan
Kamu tahu, ‘kan. sekian lama warga Dusun Prau
menyewakan andong, kuda, rumah penginapan, menjadi
kesulitan mendapat hasil laut semenjak terumbu
tukang parkir, hingga membuka warung makan.”
karang rusak. Satu persatu, mereka menjual perahu
untuk menyambung hidup. Satu-satunya harapan Layur mulai paham duduk masalahnya. Beberapa
mereka adalah dengan menyewa perahu melalui kali Bapak menyebut sosok itu di dalam ceritanya. Kini juragan.” jelas, siapa dalang semua kejadian buruk di Dusun
Prau kemarin.
188 BAB 16 | Layar Harus Terkembang Layur Tetaplah Berlayar 189
“Aku dengar dari Mas Naryo, katanya Bapak Kadus sudah meyakinkan warga bahwa kamu dan diancam oleh anak buah Juragan Perahu. Bapak disuruh Bapak bukanlah biang keladi dari semua ini.” untuk menghentikanku membuat dusun wisata di sini, Layur memeluk lengan bapaknya dengan mesra.
kan? Bapak bohong. Bapak tidak jujur pada Layur.”
Persediaan air matanya masih banyak dan kembali
“Justru sebaliknya, Layur. Ancaman mereka tidak membanjir. Bapak sampaikan padamu karena Bapak mendukung “Alhamdulillah, ya Pak.”
semua niat baikmu. Bapak tidak ingin kamu patah
semangat.” Anak-anak yang tadi bermain di halaman tampak
sudah lelah bernyanyi. Kini mereka duduk di tikar dan
“Tapi, Pak kenapa gangguan mereka bisa serentak
membuat wayang dari daun singkong. Suara mereka
dan separah itu, ya?”
tak lagi riuh.
Bapak mengangkat bahu. “Bapak tidak tahu persis,
“Nduk, kata Yu Semi, kamu ingin membicarakan
Nduk. Tapi Bapak yakin kalau pelakunya banyak, tidak
sesuatu kepada Bapak. Soal apa?” tanya Bapak
hanya Juragan Perahu dan anak buahnya. Pasti ada
dengan hati-hati.
orang yang sakit hati karena tidak mendapat manfaat
dari wisata susur sungai, anak-anak muda yang tidak “Pak … aku kapok.” Layur menyahut lirih. dia digandeng Naryo untuk bekerja di sana. Juga orang- lempar beberapa kerikil tanpa antusias. Seolah tak orang yang merasa menjadi pemilik lahan di sana yang ingin berbuat apa pun.
sakit hati karena tidak mendapat bagian.” “Kapok untuk melakukan apa?”
Bapak menyodorkan piring berisi singkong goreng “Semuanya. Aku baru sadar kalau aku bukan yang langsung direspons Layur dengan mencomot siapa-siapa.” satu biji singkong paling besar. Enak sekali. Masih Bapak mengelus rambut Layur.
hangat dan empuk. Pertanda singkong itu masih
segar, baru siang tadi dicabut dari kebun. “Sekali waktu, Bapak mau ajak kamu melaut.”
“Lantas, orang-orang itu kalap dan mengacau Layur menoleh. Sungguh niat yang sangat aneh.
kunjungan wisatawan? Diam-diam meletakkan kelabang Aku dibawa naik perahu dengan kondisi tubuh begini?
di penginapan, merusak ban di gua, bahkan merancang
“Bapak mau perlihatkan padamu, Nduk. Betapa
kebakaran saat pesta api unggun?” Layur geram.
ombak seperti tidak rela membiarkan perahu Bapak
“Nduk, urusan ini sudah ditangani Pak Kadus dan bergerak ke tengah laut. Ombak terus menampar para polisi. Sekarang, nama kita sudah bersih, Pak perahu Bapak.
190 BAB 16 | Layar Harus Terkembang Layur Tetaplah Berlayar 191

Bapak menatap wajah Layur tanpa berkedip.
“Perahu tak akan berlayar lagi kalau kamu membiarkan
layar tergulung terlalu lama,” bisik Bapak.
Layur kembali memeluk lengan bapaknya.
“Kejadian buruk yang kita alami juga membuat Layur
sadar, Pak. Layur egois. Layur lebih ingin disanjung-
sanjung. Layur haus pujian sampai lupa diri. Layur
sadar, ternyata apa yang Layur perbuat selama ini
karena Layur ingin diakui. Layur tidak mau diremehkan
karena tak punya kaki.”
Bapak memutar tubuhnya sehingga anak dan
bapak itu saling berpandangan.
“Bukan berarti kamu harus kapok, Nduk. Yang
perlu kamu lakukan hanyalah membersihkan niatmu.
Sama seperti Bapakmu yang rutin membersihkan
jaring dari sampah-sampah yang tersangkut.
Memintal lagi tali jaring yang putus. Agar impian
memperoleh banyak ikan dari melaut bisa tercapai.”
Layur tertawa kecil. “Bapak puitis juga. Pasti itu
yang membuat Ibu jatuh hati.”
Bapak tertawa renyah. “Jadi, kapan kamu
mau buka laptop lagi, nyalakan internet, dan
mempromosikan dusun wisata kita ini?”
Mengombang-ambingkan Bapak setinggi dia bisa
lakukan. Oleng ke kiri dan ke kanan. Namun, … kamu Layur tidak menjawab. Dia angkat tinggi-tinggi lihat buktinya?” wajahnya menantang purnama. Adakah impianku
masih tersimpan dalam terang rembulan? Atau …
Layur mengangguk. “Iya. Buktinya Bapak terus
mending aku lupakan?
melaut. Menangkap ikan, dan bisa kembali ke titik
yang sama saat berangkat.”
192 BAB 16 | Layar Harus Terkembang Layur Tetaplah Berlayar 193
