Dalang
Alun menjadi salah tingkah. Mau menghibur, kata-
kata apa yang harus dia ucapkan? Dia pun
syok mendengar cerita Layur.
Namun, untuk berdiam diri,
seolah dia adalah teman tanpa
empati.
Layur menghapus air
matanya dengan cepat. Dengan
canggung, ia tertawa. Diraihnya
kruk untuk membantunya berdiri.
“Minummu sudah habis. Aku
harus buatkan. Mau sirup? Pakai es?”
166 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 167
“Oh, ndak! Aku yang harusnya ambilkan minum Layur menggigit bibir bawahnya. Kepala tunduk.
buatmu. Minum dingin ya. Pakai sirup?” sahut Alun. Perasaannya masih kalut. “Kamu benar, Alun. Sekian lama, aku telah menyalahkan Bapak untuk kematian
Kini, Layur benar-benar tertawa panjang. “Kenapa
Ibu dan hilangnya kakiku. Aku menghukum Bapak
kamu gugup gitu, Alun. Belum pernah diajak curhat
dengan menjaga jarak dengannya.”
sama teman perempuan ya?”
Layur mengangkat wajah dan bertanya serius
Alun cepat-cepat masuk ke dapur untuk
kepada sahabatnya. “Aku bodoh, ya? Aku sudah salah
menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia membuat
menilai Bapak? Kamu tahu betapa luar biasanya Bapak
dua es sirup berwarna hijau sambil membelakangi Layur.
menyelamatkan aku kemarin. Ia membopong aku lari
Lantas, membawanya ke pendopo. Tanpa nampan.
sejauh itu. Ia rela menghadapi penduduk yang murka.
“Bertahun-tahun, Bapak canggung kepadaku. Ia menyembunyikan aku di tempat aman. Ia pasang Mungkin karena aku pun masih menyimpan rasa badan, membiarkan orang-orang itu menyerang dirinya.
marah padanya. Lebih-lebih semenjak ia buat kakiku Dan ... kemarin Bapak memelukku erat sekali, Alun.”
buntung,” kata Layur sambil menerima satu gelas
Alun masih menyimak.
minum yang disodorkan oleh Alun.
“Ah, sudahlah. Buruan habiskan sirupmu, Alun.
“Sekarang masih?”
Terus antar aku ke tempat Bapak. Aku ingin tahu apa
“Masih apa?” sergah Layur. yang terjadi dengan Bapak di balai desa!”
“Marahmu.”
Layur terdiam cukup lama. Ia goyang-goyangkan
gelas minumnya hingga berdenting ketika es batu
menendang-nendang gelas. Layur risau hati. Yu Semi masih berdiri. Ia tak hirau dengan bujukan
“Sebelum kamu ke sini, Bapak mencium keningku.” agar duduk dan bersabar. Kedua tangannya terlipat Layur ragu untuk menceritakan itu kepada Alun, tetapi di pinggang dengan dagu terangkat. Ia pandang Pak sudah terlanjur. “Itu Bapak lakukan untuk pertama Kadus dengan tajam. “Jadi, siapa yang akan membuat kalinya setelah belasan tahun tak aku rasakan. Aku warungku berdiri lagi? Bapaknya Layur atau siapa?
juga untuk pertama kalinya, spontan mau mencium Jangan muter-muter terus, Pak!” tangannya lagi.” Bapak yang mandi peluh mendekat. “Yu, insyaallah, “Kurang apa lagi Bapak mengasihimu, Layur.” saya dan warga Dusun akan bantu membangun warung Yu Semi. Biarpun saya tidak ada niat untuk
168 BAB 14 | Dalang Layur Tetaplah Berlayar 169 イMイ>#ヲ# エ # Ä# # 」#Fr ヲソ >#エ エ#m \r # Mヲ# #エf Jarot menunduk dan baru mengangguk setelah 
cari dalang sebenarnya atas kerusuhan di dusun kita.” teriakan warga bergaung di balai desa. “Inggih, Pak.
Betul. Itu jeriken saya.”
“Betul itu! Betul!” Warga dusun saling menimpali.
Rembuk desa sudah berjalan satu jam dan beberapa Pak Kadus dengan suara keras menginterogasi
saksi mata sudah menyampaikan informasinya. Jarot. “Kamu jangan ngomong sepotong demi
sepotong. Terbakarnya warung dan perahu-perahu
“Yu Semi, kita sudah sama-sama mendengar dari
di dusun kita terjadi setelah ada percikan api di
Mas Bambang satu-satunya penjual minyak tanah di
panggangan ikan. Terus membesar karena kamu
dusun kita. Jeriken penyebab kebakaran
mengganti jeriken air dengan jeriken isi minyak.
hebat dua hari lalu itu kepunyaan
Begitu? Itu akal-akalan kamu?”
Jarot. Dia membelinya siang
hari sebelum kebakaran itu Jarot melirik Broto di sampingnya. “Bukan saya, terjadi. Betul itu, Jarot? Jawab Pak. Dia yang mulai.”
dengan jujur!” hardik Pak Kadus.
170 BAB 14 | Dalang Layur Tetaplah Berlayar 171
Gantian Broto membantah keras. “Ngapusi, Pak. “Kalian akan terima akibatnya! Kalian tidak tahu Dia bohong.” siapa Kasno!” teriak Juragan Perahu.
Kedua preman dusun itu saling teriak dan bentak. Bapak yang awalnya duduk bertiga bersama Jarot dan Broto layaknya terdakwa, dipersilakan
Pak Kadus kehabisan kesabarannya. “Diam!
untuk berdiri dan berbaur dengan penduduk lainnya.
Ngomong satu-satu. Saya jadi tahu, sekarang. Kalian
Gantian, Juragan Perahu didudukkan di bangku
berdua bersekongkol dan licik ya. Kalian sudah
kosong itu. Jadilah di tengah ruangan itu ada tiga
mengatur kerusuhan itu dengan rapi ya?”
lelaki yang harus mempertanggungjawabkan
Lagi-lagi, Jarot memotong. “Broto yang membeli perbuatannya. karbit, Pak Kadus. Dia diam-diam menaruh karbit “Juragan Perahu kami tangkap di jalan ujung
di panggangan ikan agar terjadi kobaran api. Nah,
desa!” teriak Natsir salah satu tokoh pemuda Dusun
tugas saya meletakkan jeriken isi minyak di dekat
Prau. “Dia mau kabur ke kota. Untung, karang taruna
panggangan. Biar kalau terbakar makin gede.”
menangkap basah dia.”
Bapak, Pak Kadus, dan seluruh warga Dusun
Juragan Perahu mendelik dan mengacungkan
Prau tersentak mendengar pengakuan Jarot. Pak
kepalan tangan ke arah Natsir. “Kamu Natsir anaknya
Kadus berkacak pinggang. Biarpun badannya ceking,
Kromomantoro, kan? Bapakmu punya utang budi
tetapi karena sebagian besar warga di balai desa itu
sama aku! Awas kamu ya.”
mendukungnya, dia menjadi berani.
Bapak mengamati dari sisi samping balai desa.
“Tunggu. Kamu bilang, tugasmu menyiapkan
Sengaja, ia berteduh di bawah pohon agar lebih
jeriken minyak. Lantas, siapa dalang yang
adem. Beberapa warga lain menyalami dia seolah
memberi kamu tugas? Siapa?” Tangan Pak Kadus
memberi selamat karena terbebas dari tuduhan tanpa
mencengkeram kerah kaos Jarot dan beralih ke Broto.
bukti. Seorang perempuan melirik Bapak dengan ekor
Ia sudah sangat geram.
matanya. Malu-malu ia bergeser hingga persis berada
Tiba-tiba, terdengar kegaduhan di depan balai di kanan Bapak. desa. Serombongan warga dusun lainnya menarik “Kang ..,” bisik perempuan itu sambil menarik
paksa seorang lelaki yang tak lain adalah Kasno
lengan kemeja Bapak yang basah dengan keringat.
alias Juragan Perahu. Makian terlontar dari mulut
Terbiasa hanya berkaos singlet, rasanya seperti di
orang kaya itu. Dia tidak terima diseret ke tempat itu.
atas panggangan saat harus memakai batik lengan
Baginya, itu adalah penghinaan.
panjang tanpa digulung.
172 BAB 14 | Dalang Layur Tetaplah Berlayar 173

Bapak kaget. Menoleh dan langsung tahu siapa “Broto dan Jarot sudah mengakui perbuatannya.
perempuan itu. “Yu Semi ...? Sudah enggak marah lagi Mereka juga bilang ada dalang yang menugasi sama saya?” mereka berbuat onar. Siapa lagi orangnya kalau bukan kamu, Pak Kasno? Dua orang ini kemana-mana
Yu Semi menjadi salah tingkah. Kedua telapak
selalu jadi pengawal kamu. Mereka anak buahmu.
tangannya saling belit untuk menutupi gugup.
Kamu mau mengelak?” desak Pak Kadus.
“Nyuwun pangapunten, Kang. Mohon maaf. Saya kilaf
menuduh Kakang sengaja membakar warung saya. Juragan Perahu tidak terima. Gantian dia Saya ndak mengira kalau semua itu ada dalangnya.” menuding-nuding Pak Kadus. “Kamu, ya! Baru jadi kadus saja sudah sok galak begitu. Aku ndak ada
“Sst … kita bahas nanti, Yu,” sahut Bapak, “kita
urusan sama dua pengangguran ini. Aku cuma
dengarkan Pak Kadus yang lagi marah-marah itu.”
menyuruh Nasrun ups ….” Juragan Perahu keceplosan
Benar, Pak Kadus berbicara lantang bicara. meminta kejujuran Juragan Perahu Gaduhlah semua orang di
yang terus mengelak. Ia cuci tangan
balai desa itu. Mereka saling
dan berkali-kali membantah.
berkomentar dan mencaci
Juragan Perahu.
174 BAB 14 | Dalang Layur Tetaplah Berlayar 175
Pak Kadus mengentakkan kakinya ke lantai untuk Bapak berbisik. Ia khawatir ada warga dusun lain melampiaskan amarahnya. “Memang ya! Orang jahat yang menguping. pasti akan terbuka kedoknya. Tadi pagi sebelum Jarot “Tolong temani Layur. Bujuk dan hibur dia. Anak
dan Broto mengaku, Si Nasrun sudah lebih dulu jujur
itu masih terguncang jiwanya. Bagaimanapun juga,
bicara. Dia mengaku sudah menebar kelabang di
dia masih remaja. Belum siap mental menghadapi
rumah-rumah penginapan yang dipakai para turis!”
kejadian ini, mau kan Yu?”
Juragan Perahu semakin uring-uringan. Ia
“Inggih. Saestu. Insyaallah,” sahut Yu Semi cepat.
meracau seolah keseimbangan mentalnya sedang
“Eh, siapa itu yang ngebut boncengan naik sepeda?”
limbung. “Nasrun pekok. Cah bodo. Ndak bisa jaga
mulut. Tapi dia tidak mengaku kalau aku suruh nusuk- Dari kejauhan, terlihat dua remaja dalam satu nusuk ban di gua kan? Waduuuh. Keceplosan lagi aku!” sepeda. Seorang gadis duduk di boncengan sambil membawa kruk. Tangan kirinya berkali-kali memukul
Juragan Perahu pun menjadi bulan-bulanan
teman yang memboncengkan.
warga yang marah. Pak Kadus jadi kewalahan untuk
membuat tenang situasi di balai desa itu. “Sudah selesai, ya Yu Semi?” tanya Layur dengan
wajah cemberut.
Yu Semi merangkul Layur. “Urusan bapakmu
sudah selesai. Yang belum selesai itu, urusan tiga
orang yang duduk di tengah balai desa itu!”
“Aku ora opo-opo, Yu. Ndak apa-apa. Semua sudah
mulai jelas pelakunya. Tapi, saya tetap akan Layur melongok. Lantas menoleh dan melotot
membantu Yu Semi memperbaiki warung,” ucap kepada Alun. “Kamu sih. Sepeda pakai bocor segala.
Bapak tulus. Dua orang dewasa itu tak melibatkan diri Kita jadi telat kan!” dalam kegaduhan di balai desa. Mereka memilih untuk meneduh di bawah pohon beringin.
“Matur nuwun. Terima kasih sekali. Bapaknya
Layur baik sekali. Kok, ya, saya bisa-bisanya silap
mata terbawa emosi.” Yu Semi menyahut.
“Tapi, Yu Semi harus ganti menolong saya.”
Yu Semi tidak paham. “Nolong apa?”
176 BAB 14 | Dalang Layur Tetaplah Berlayar 177
