BAB 14

 

Dalang

 

Alun menjadi salah tingkah. Mau menghibur, kata-

kata apa yang harus dia ucapkan? Dia pun

syok mendengar cerita Layur.

Namun, untuk berdiam diri,

seolah dia adalah teman tanpa

empati.

Layur menghapus air

matanya dengan cepat. Dengan

canggung, ia tertawa. Diraihnya

kruk untuk membantunya berdiri.

“Minummu sudah habis. Aku

harus buatkan. Mau sirup? Pakai es?”

 

166 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 167

“Oh, ndak! Aku yang harusnya ambilkan minum Layur menggigit bibir bawahnya. Kepala tunduk.

buatmu. Minum dingin ya. Pakai sirup?” sahut Alun. Perasaannya masih kalut. “Kamu benar, Alun. Sekian lama, aku telah menyalahkan Bapak untuk kematian

Kini, Layur benar-benar tertawa panjang. “Kenapa

Ibu dan hilangnya kakiku. Aku menghukum Bapak

kamu gugup gitu, Alun. Belum pernah diajak curhat

dengan menjaga jarak dengannya.”

sama teman perempuan ya?”

Layur mengangkat wajah dan bertanya serius

Alun cepat-cepat masuk ke dapur untuk

kepada sahabatnya. “Aku bodoh, ya? Aku sudah salah

menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia membuat

menilai Bapak? Kamu tahu betapa luar biasanya Bapak

dua es sirup berwarna hijau sambil membelakangi Layur.

menyelamatkan aku kemarin. Ia membopong aku lari

Lantas, membawanya ke pendopo. Tanpa nampan.

sejauh itu. Ia rela menghadapi penduduk yang murka.

“Bertahun-tahun, Bapak canggung kepadaku. Ia menyembunyikan aku di tempat aman. Ia pasang Mungkin karena aku pun masih menyimpan rasa badan, membiarkan orang-orang itu menyerang dirinya.

marah padanya. Lebih-lebih semenjak ia buat kakiku Dan ... kemarin Bapak memelukku erat sekali, Alun.”

buntung,” kata Layur sambil menerima satu gelas

Alun masih menyimak.

minum yang disodorkan oleh Alun.

“Ah, sudahlah. Buruan habiskan sirupmu, Alun.

“Sekarang masih?”

Terus antar aku ke tempat Bapak. Aku ingin tahu apa

“Masih apa?” sergah Layur. yang terjadi dengan Bapak di balai desa!”

“Marahmu.”

Layur terdiam cukup lama. Ia goyang-goyangkan

gelas minumnya hingga berdenting ketika es batu

menendang-nendang gelas. Layur risau hati. Yu Semi masih berdiri. Ia tak hirau dengan bujukan

“Sebelum kamu ke sini, Bapak mencium keningku.” agar duduk dan bersabar. Kedua tangannya terlipat Layur ragu untuk menceritakan itu kepada Alun, tetapi di pinggang dengan dagu terangkat. Ia pandang Pak sudah terlanjur. “Itu Bapak lakukan untuk pertama Kadus dengan tajam. “Jadi, siapa yang akan membuat kalinya setelah belasan tahun tak aku rasakan. Aku warungku berdiri lagi? Bapaknya Layur atau siapa?

juga untuk pertama kalinya, spontan mau mencium Jangan muter-muter terus, Pak!” tangannya lagi.” Bapak yang mandi peluh mendekat. “Yu, insyaallah, “Kurang apa lagi Bapak mengasihimu, Layur.” saya dan warga Dusun akan bantu membangun warung Yu Semi. Biarpun saya tidak ada niat untuk

 

168 BAB 14 | Dalang Layur Tetaplah Berlayar 169 イMイ>#ヲ# エ # Ä# # 」#Fr ヲソ >#エ エ#m \r # Mヲ# #エf Jarot menunduk dan baru mengangguk setelah

cari dalang sebenarnya atas kerusuhan di dusun kita.” teriakan warga bergaung di balai desa. “Inggih, Pak.

Betul. Itu jeriken saya.”

“Betul itu! Betul!” Warga dusun saling menimpali.

Rembuk desa sudah berjalan satu jam dan beberapa Pak Kadus dengan suara keras menginterogasi

saksi mata sudah menyampaikan informasinya. Jarot. “Kamu jangan ngomong sepotong demi

sepotong. Terbakarnya warung dan perahu-perahu

“Yu Semi, kita sudah sama-sama mendengar dari

di dusun kita terjadi setelah ada percikan api di

Mas Bambang satu-satunya penjual minyak tanah di

panggangan ikan. Terus membesar karena kamu

dusun kita. Jeriken penyebab kebakaran

mengganti jeriken air dengan jeriken isi minyak.

hebat dua hari lalu itu kepunyaan

Begitu? Itu akal-akalan kamu?”

Jarot. Dia membelinya siang

hari sebelum kebakaran itu Jarot melirik Broto di sampingnya. “Bukan saya, terjadi. Betul itu, Jarot? Jawab Pak. Dia yang mulai.”

dengan jujur!” hardik Pak Kadus.

 

170 BAB 14 | Dalang Layur Tetaplah Berlayar 171

Gantian Broto membantah keras. “Ngapusi, Pak. “Kalian akan terima akibatnya! Kalian tidak tahu Dia bohong.” siapa Kasno!” teriak Juragan Perahu.

Kedua preman dusun itu saling teriak dan bentak. Bapak yang awalnya duduk bertiga bersama Jarot dan Broto layaknya terdakwa, dipersilakan

Pak Kadus kehabisan kesabarannya. “Diam!

untuk berdiri dan berbaur dengan penduduk lainnya.

Ngomong satu-satu. Saya jadi tahu, sekarang. Kalian

Gantian, Juragan Perahu didudukkan di bangku

berdua bersekongkol dan licik ya. Kalian sudah

kosong itu. Jadilah di tengah ruangan itu ada tiga

mengatur kerusuhan itu dengan rapi ya?”

lelaki yang harus mempertanggungjawabkan

Lagi-lagi, Jarot memotong. “Broto yang membeli perbuatannya. karbit, Pak Kadus. Dia diam-diam menaruh karbit “Juragan Perahu kami tangkap di jalan ujung

di panggangan ikan agar terjadi kobaran api. Nah,

desa!” teriak Natsir salah satu tokoh pemuda Dusun

tugas saya meletakkan jeriken isi minyak di dekat

Prau. “Dia mau kabur ke kota. Untung, karang taruna

panggangan. Biar kalau terbakar makin gede.”

menangkap basah dia.”

Bapak, Pak Kadus, dan seluruh warga Dusun

Juragan Perahu mendelik dan mengacungkan

Prau tersentak mendengar pengakuan Jarot. Pak

kepalan tangan ke arah Natsir. “Kamu Natsir anaknya

Kadus berkacak pinggang. Biarpun badannya ceking,

Kromomantoro, kan? Bapakmu punya utang budi

tetapi karena sebagian besar warga di balai desa itu

sama aku! Awas kamu ya.”

mendukungnya, dia menjadi berani.

Bapak mengamati dari sisi samping balai desa.

“Tunggu. Kamu bilang, tugasmu menyiapkan

Sengaja, ia berteduh di bawah pohon agar lebih

jeriken minyak. Lantas, siapa dalang yang

adem. Beberapa warga lain menyalami dia seolah

memberi kamu tugas? Siapa?” Tangan Pak Kadus

memberi selamat karena terbebas dari tuduhan tanpa

mencengkeram kerah kaos Jarot dan beralih ke Broto.

bukti. Seorang perempuan melirik Bapak dengan ekor

Ia sudah sangat geram.

matanya. Malu-malu ia bergeser hingga persis berada

Tiba-tiba, terdengar kegaduhan di depan balai di kanan Bapak. desa. Serombongan warga dusun lainnya menarik “Kang ..,” bisik perempuan itu sambil menarik

paksa seorang lelaki yang tak lain adalah Kasno

lengan kemeja Bapak yang basah dengan keringat.

alias Juragan Perahu. Makian terlontar dari mulut

Terbiasa hanya berkaos singlet, rasanya seperti di

orang kaya itu. Dia tidak terima diseret ke tempat itu.

atas panggangan saat harus memakai batik lengan

Baginya, itu adalah penghinaan.

panjang tanpa digulung.

 

172 BAB 14 | Dalang Layur Tetaplah Berlayar 173

Bapak kaget. Menoleh dan langsung tahu siapa “Broto dan Jarot sudah mengakui perbuatannya.

perempuan itu. “Yu Semi ...? Sudah enggak marah lagi Mereka juga bilang ada dalang yang menugasi sama saya?” mereka berbuat onar. Siapa lagi orangnya kalau bukan kamu, Pak Kasno? Dua orang ini kemana-mana

Yu Semi menjadi salah tingkah. Kedua telapak

selalu jadi pengawal kamu. Mereka anak buahmu.

tangannya saling belit untuk menutupi gugup.

Kamu mau mengelak?” desak Pak Kadus.

“Nyuwun pangapunten, Kang. Mohon maaf. Saya kilaf

menuduh Kakang sengaja membakar warung saya. Juragan Perahu tidak terima. Gantian dia Saya ndak mengira kalau semua itu ada dalangnya.” menuding-nuding Pak Kadus. “Kamu, ya! Baru jadi kadus saja sudah sok galak begitu. Aku ndak ada

“Sst … kita bahas nanti, Yu,” sahut Bapak, “kita

urusan sama dua pengangguran ini. Aku cuma

dengarkan Pak Kadus yang lagi marah-marah itu.”

menyuruh Nasrun ups ….” Juragan Perahu keceplosan

Benar, Pak Kadus berbicara lantang bicara. meminta kejujuran Juragan Perahu Gaduhlah semua orang di

yang terus mengelak. Ia cuci tangan

balai desa itu. Mereka saling

dan berkali-kali membantah.

berkomentar dan mencaci

Juragan Perahu.

 

174 BAB 14 | Dalang Layur Tetaplah Berlayar 175

Pak Kadus mengentakkan kakinya ke lantai untuk Bapak berbisik. Ia khawatir ada warga dusun lain melampiaskan amarahnya. “Memang ya! Orang jahat yang menguping. pasti akan terbuka kedoknya. Tadi pagi sebelum Jarot “Tolong temani Layur. Bujuk dan hibur dia. Anak

dan Broto mengaku, Si Nasrun sudah lebih dulu jujur

itu masih terguncang jiwanya. Bagaimanapun juga,

bicara. Dia mengaku sudah menebar kelabang di

dia masih remaja. Belum siap mental menghadapi

rumah-rumah penginapan yang dipakai para turis!”

kejadian ini, mau kan Yu?”

Juragan Perahu semakin uring-uringan. Ia

“Inggih. Saestu. Insyaallah,” sahut Yu Semi cepat.

meracau seolah keseimbangan mentalnya sedang

“Eh, siapa itu yang ngebut boncengan naik sepeda?”

limbung. “Nasrun pekok. Cah bodo. Ndak bisa jaga

mulut. Tapi dia tidak mengaku kalau aku suruh nusuk- Dari kejauhan, terlihat dua remaja dalam satu nusuk ban di gua kan? Waduuuh. Keceplosan lagi aku!” sepeda. Seorang gadis duduk di boncengan sambil membawa kruk. Tangan kirinya berkali-kali memukul

Juragan Perahu pun menjadi bulan-bulanan

teman yang memboncengkan.

warga yang marah. Pak Kadus jadi kewalahan untuk

membuat tenang situasi di balai desa itu. “Sudah selesai, ya Yu Semi?” tanya Layur dengan

wajah cemberut.

Yu Semi merangkul Layur. “Urusan bapakmu

sudah selesai. Yang belum selesai itu, urusan tiga

orang yang duduk di tengah balai desa itu!”

“Aku ora opo-opo, Yu. Ndak apa-apa. Semua sudah

mulai jelas pelakunya. Tapi, saya tetap akan Layur melongok. Lantas menoleh dan melotot

membantu Yu Semi memperbaiki warung,” ucap kepada Alun. “Kamu sih. Sepeda pakai bocor segala.

Bapak tulus. Dua orang dewasa itu tak melibatkan diri Kita jadi telat kan!” dalam kegaduhan di balai desa. Mereka memilih untuk meneduh di bawah pohon beringin.

“Matur nuwun. Terima kasih sekali. Bapaknya

Layur baik sekali. Kok, ya, saya bisa-bisanya silap

mata terbawa emosi.” Yu Semi menyahut.

“Tapi, Yu Semi harus ganti menolong saya.”

Yu Semi tidak paham. “Nolong apa?”

 

176 BAB 14 | Dalang Layur Tetaplah Berlayar 177