BAB 13

 

Luka Lama

 

Layur meletakkan piring makannya. Mengunyah sisa

nasi di mulut dengan cepat dan membelalakkan mata

kepada pria di kejauhan. Bapak keluar dari kamar

sambil menyisir rambut basahnya menggunakan

jemari tangan kanan. Heran, seumur-umur, pria itu

tak pernah kenal dengan handuk. Selesai mandi, dia

hanya mengibas-ibaskan badannya agar air melorot

dari badan dan rambutnya.

Pagi belum terik, belum juga pukul delapan.

Namun, Bapak sudah mandi karena Pak Kadus

memanggilnya. Kata Bapak, akan ada rembug desa

untuk mengungkap kerusuhan di Dusun Prau sehari

sebelumnya.

“Bapak harus membersihkan nama baik kita,”

ujar Bapak kepada Layur sambil kembali merapikan

rambutnya yang semakin menipis dan memutih. Kali

ini, dia memaksakan diri memakai kemeja. “Pakaian

dinas” melaut yang berupa singlet dia rangkap dengan

satu-satunya baju itu yang dia punya. Kemeja lainnya

sudah tak muat lagi, terutama di bagian perut.

Layur mengempit kruk sambil membuka kedua

kakinya lebih lebar. Itu cara dia mempertahankan keseimbangan badan tanpa memegang kruk. Ya, mendorong punggung bapaknya agar segera keluar tangan dia sibuk membetulkan kancing kemeja Bapak. rumah.

“Sampai kapan, Bapak kacau kalau Alih-alih bergegas, Bapak malah bergeming.

mengancingkan kemeja. Nih lihat, panjang sebelah!” Layur mengerutkan kening. gerutu Layur. Tangannya gesit melepas kembali “Apa lagi yang ketinggalan, Pak?”

tautan kemeja Bapak dari kancing teratas hingga

terbawah. Bapak menggeleng. Ada sorot mata haru di sana.

“Bapak harus terlihat rapi. Jangan cuma pakai “Mungkin, sejak sepuluh tahun lalu, baru kali ini, singlet seperti preman. Biar orang-orang percaya kamu mau mencium tangan Bapak lagi,” kata Bapak kalau kita tidak jahat. Bapak tahu kan, terdakwa itu lirih. selalu pakai baju lengan panjang di depan hakim, Layur terperanjat. Benarkah? Selama itukah dia hahaha!” Layur pun membuka gulungan lengan tak menunjukkan kasih sayangnya kepada orangtua

kemeja yang disambut dengan protes keras dari tunggalnya itu? Bapak.

“Udah ... udah, Pak. Buruan berangkat!” Layur

“Isin aku, Nduk. Malu kalau lengan kemejanya mengibas-ibaskan kedua tangannya seperti mengusir ndak digulung. Entar dikira pegawai kelurahan!” bapaknya. Layur tak ingin, lelaki di hadapannya itu Layur tertawa keras. “Dilarang protes! Lebih melihat ada genangan air di matanya. malu lagi kalau gulungannya tidak sama. Sebelah Bapak malah mendekati Layur dan mencium kiri digulung sekali, sebelah kanan digulung tiga kali. kening putrinya. Terakhir kali melakukan itu, Bapak Bagusan dipanjangin semua.” harus menekuk kaki. Kini, tinggi anak itu sudah Dengan cekatan, Layur mengancingkan lengan sepadan dengannya. Ciuman kening kali ini ia lakukan kemeja bapaknya itu yang disambut dengan desah sambil berdiri tegak.

putus asa dari Bapak. Layur memandang Bapak yang menjauh sambil

“Kamu itu kayak ibumu. Tukang memaksa Bapak berucap di dalam batin, Bapak juga sama. Dua belas untuk urusan penampilan.” tahun tak pernah mencium keningku. Baru sekarang ia

lakukan lagi. Layur buru-buru mengusap air matanya

Layur tidak menggubris. Dia tarik tangan kanan

dengan lengan baju kanannya ketika seseorang

bapaknya, membungkukkan badan, dan mencium

terlihat memasuki halaman rumahnya.

tangan berkulit kasar itu dengan takzim. Lantas, Layur

 

154 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 155

gambar ikan itu.” Layur mengarahkan telunjuknya ke

gambar ikan-ikan di atas kertas itu. “Setelah sekian

lama, aku baru ingat sekarang. Baru ingat untuk

melengkapi gambar itu.”

Alun memang sudah bilang akan main ke rumah

Layur pagi itu. Remaja itu langsung masuk ke pendopo Alun menyerahkan kertas itu kepada Layur yang yang kosong. Layur sedang mencuci piring makannya sudah siap dengan krayon di lincak; bangku panjang di dapur. Sekalian mencuci muka karena dia baru saja dari bambu. menangis.

“Terumbu karang butuh waktu lama untuk

“Gambar ini, kamu yang bikin?” Alun memegang tumbuh setelah sekian lama rusak,” kata Alun. selembar kertas bergambar ikan-ikan berenang di “Seperti ini,” kata Layur sambil mengangkat

dalam laut. Dia temukan itu di lincak—kursi dari

krayon hijau yang tinggal setengah batang. “Krayon

bambu yang ada di pendopo.

patah, mana bisa disambung? Sedihnya … bapakku

Layur mendekat sambil mengelap tangan punya andil besar atas kerusakan terumbu karang di basahnya menggunakan rok. Satu kebiasaan yang perairan sini.” membuat bapaknya sering berteriak-teriak.

Alun menebar pandangan ke sekeliling pendopo

“Aku sering menghabiskan waktu di Pantai tempat keduanya duduk sambil mengobrol. “Biarpun Tambaksegaran dengan membuat sketsa. Sambil caranya salah, tetapi Bapak dan penduduk desa menunggu Bapak pulang dari melaut. Oh, ya. Aku tadi ini pernah kaya raya. Paling tidak, rumah besar ini bikin minum dua gelas di dapur. Kamulah yang angkat menjadi saksi.” itu ke sini.”

Layur mengangguk dua kali. Dia bagikan cerita

Tanpa disuruh dua kali, Alun menuruti permintaan masa lalu Dusun Prau kepada sahabatnya yang Layur. Memang repot membawa nampan berisi dua belum lama tinggal di situ. Ya, masa-masa keemasan gelas minum sambil mengayun sepasang kruk. Dusun Prau belasan tahun lalu tak lepas dari keberhasilan Bapak memproduksi bom ikan. Banyak

“Gambarmu itu terlalu polos,” komentar Alun

keluarga bergantung kepada industri itu. Entah

sembari meletakkan nampan di lincak. Dia ambil satu

sebagai pekerja maupun memasarkannya hingga ke

gelas dan memindahkan separuh isinya ke perut.

dusun-dusun lain.

Layur mengangkat kedua bahunya. “Iya, dulu aku

“Tahu, ndak kamu. Penduduk Dusun Prau dulu

mau menambahkan ada terumbu karang di sekeliling

itu makmur banget. Berkat bom ikan yang diproduksi

 

156 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 157 Bapak, tangkapan ikan para nelayan melonjak drastis. pengganti Bapak menagih utang para agen bom ikan Ikan sangat gampang dijaring. Sekali melemparkan di banyak tempat. Kasno pun berubah menjadi orang bom, ratusan ikan terapung-apung dan tinggal kaya baru di dusun Prau. Perahu miliknya semakin hari dijaring dengan sangat gampang. Berkuintal-kuintal semakin banyak hingga penduduk pun memanggilnya ikan diturunkan nelayan dari atas perahu setiap Juragan Perahu. Sayangnya, Bapak tak lagi memakai harinya. Pasar ikan riuh rendah. Para tengkulak hilir tenaga dia karena terbukti menggelapkan uang mudik membawa kendaraan bak terbuka untuk tagihan penjualan bom ikan. Konon, sejak itu ada membeli ikan-ikan tangkapan warga Dusun Prau. dendam di hati dia.” Tak heran, masa itu sangat mudah melihat motor-Ternyata, Alun sudah berkeliling di sisi dalam motor model terbaru lalu lalang di Dusun Prau.

pendopo. Dia berdiri berlama-lama di depan salah

Para perempuan datang ke kondangan dengan

satu lukisan tangan yang tergantung di pilar.

kilau emas melilit di pergelangan tangan, leher, dan

cuping telinga. Para bapak memamerkan diri dengan “Ini lukisan wajah Bapak? Ini kamu? Cantik juga merenovasi rumah dari dinding anyaman bambu ya. Dulu,” puji Alun. menjadi berdinding bata. Kemakmuran seolah menjadi “Sekarang? Kulitku gosong ndak secantik dulu takdir bagi mereka.” ya?” balas Layur disambung dengan tawa renyah.

Alun memotong cerita Layur. “Kalau banyak “Ya, orang-orang sini bilang … aku cantik dan penduduk terbantu ekonominya, mengapa ada orang menjadi anak paling disukai di Dusun Prau. Kata yang sangat membenci Bapak? Misalnya, Si Juragan mereka, aku ini lincah, berkulit putih, rambutku Perahu itu. Aku lihat sendiri perlakuan orang itu panjang tebal berombak, dan suaraku merdu kepada bapakmu kemarin.” membuat rindu para ibu. Seolah semua orang ingin “Mungkin, dia masih dendam sama Bapak,” menjadi ibu pengganti buatku,” lanjut Layur. sahut Layur dengan nada bicara ringan. “Juragan “Di gambar itu, cuma ada dua orang,” sahut Alun.

Perahu alias Pak Kasno, adalah salah satu pemuda “Sudah lama aku penasaran soal ibumu. Tapi aku ndak dusun yang dirangkul oleh Bapak. Awalnya, pemuda sampai hati untuk bertanya.” pengangguran dan tukang ribut itu diajak untuk “Ndak masalah kok. Aku bukan anak kecil lagi.

menjadi kuli angkut dan menemani Bapak keliling

Dulu sih iya, aku sedih kalau diingatkan soal ibuku.

memasarkan bom ikan. Lama-kelamaan, usaha Bapak

Kenyataannya, aku memang ndak mengenal sosok

semakin berkembang dan Kasno dipercaya sebagai

perempuan yang melahirkanku. Aku bahkan ndak

 

158 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 159 ingat apakah aku pernah merasakan belaian kasih

seorang ibu.” Layur mengucapkan semua kalimat itu

dengan santai.

“Usia tujuh tahun, aku mulai merasa ada yang

aneh. Aku cuma diantar Bapak saat masuk ke sekolah

pertama kali, padahal anak lain diantar oleh ibunya.

Kalau aku main ke rumah anak lain, aku sering heran.

Kok aku beda? Di rumah mereka ada dua orangtua. Aku

cuma punya satu,” lanjut Layur.

Alun tak bisa menahan rasa ingin tahu. “Bapakmu

merahasiakannya?”

“Ndak juga, mungkin dia menunggu aku rada

gede, atau menunggu aku tanya. Makanya, suatu

ketika Bapak bilang mau mengajakku menengok Ibu.”

“Menengok ibumu?” tanya Alun kurang paham.

Layur mengangguk cepat. “Iya. Lucunya, Bapak

sampai membelikan aku sandal baru, dres putih

sepanjang mata kaki, dan bando warna merah hati

untuk bertemu Ibu. Bapak juga menyisir rambut

panjangku dengan lembut. Bahkan menyemprotkan

wewangian ke badanku. Hahaha … entahlah, dia beli

dimana parfum itu.”

 

160 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 161

“Jadi, ibumu sebenarnya masih ada? Masih hidup? Layur–singkatan dari Laksmi Yuriah–adalah Dimana dia tinggal saat itu?” cecar Alun. perpaduan sempurna untuk semua kebaikan itu. Kelak, semua orang akan menyebut diriku sebagai si cantik

Layur terdiam beberapa detik. “Ibuku berdiam

yang pemberani dan suka kebebasan.”

di pinggir Dusun Prau. Ia memang diam di situ. Kata

Bapak, Ibu tidur di sana. Bapak membawaku ke Layur berhenti bercerita. Ia mengambil krayon

kuburan Dusun Prau. Aku digandeng menuju satu lagi dan menyapukan warna biru pada gambarnya.

nisan bertuliskan Laksmi Yuriah. Bapak berlutut. Aku

“Tahu enggak, setelah aku tahu siapa ibuku, aku

mengikuti. Rumput-rumput tinggi sekitar nisan Bapak

masih penasaran akan satu hal. Dan, aku ndak bisa

cabut tanpa berkata-kata. Aku ikut-ikutan.”

menahan diri untuk tidak tanya ke Bapak,” kata Layur

“Jadi, nama ibumu Laksmi Yuriah?” tanpa menoleh. Ia masih asyik dengan kesibukan mewarnai lautan.

Layur cemberut. “Ceritaku belum selesai. Di sana,

Bapak menyorongkan satu bungkusan daun pisang. “Soal apa?” Alun penasaran. Dari harumnya, aku tahu isinya. Wangi helai-helai “Lima tahun setelah Bapak menunjukkan nisan

mawar merah. Kutanya Bapak apakah Ibu wangi.

Ibu, aku baru sadar. Ternyata, tanggal lahirku sama

Bapak mengangguk berkali-kali. Kutanya juga apakah

dengan tanggal yang tercantum di nisan ibuku.

Ibu juga cantik. Tahu, Bapak menjawab apa? Katanya,

Tanggal kematian beliau.”

Ibu secantik putrinya, hahaha!”

Alun melongo. Kaget, heran, tetapi tak tahu harus

Layur terus bercerita. “Hari

bertanya apa.

itu, aku jadi tahu kenapa aku

dinamai Layur. Ternyata, itu “Bapak heran ketika aku

diambil dari singkatan nama Ibu, tanyakan hal itu. Mungkin

Layur alias Laksmi Yuriah.” dia tidak mengira kalau

aku yang saat itu baru

Alun menyela. “Pasti ada arti

kelas lima sekolah dasar

dari nama itu.”

menanyakannya. Penjelasan

“Iyalah. Aku juga baru tahu saat Bapak membuatku sadar.

Bapak menjelaskan di kuburan itu. Aku penyebab kematian

Laksmi berarti cantik. Yuriah bermakna Ibu.” Layur menghentikan pemberani dan suka kebebasan. Dan, gerak tangannya.

 

162 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 163 Krayon di tangannya terlepas begitu saja. Tangan itu Layur kini tersedu. Air matanya sudah kering.

menegang. Lantas ....

“Ibu meninggal karena aku lahir. Ibu meninggal

Kreeeek! karena Bapak tak ada saat dibutuhkan! Keyakinan

itu terpatri kuat di dalam batinku sampai detik ini.

Alun kaget setengah mati. Di depannya, Layur

Menggerogoti kepercayaan diriku. Semakin terkikis

marah dan menyobek gambarnya penuh emosi. Lalu,

dan semakin habis apalagi ketika kakiku tiba-tiba

Layur menangis. Tanpa suara. Air matanya jatuh

menjadi tak utuh dengan cara tragis. Itu juga gara-

dengan deras.

gara Bapak!”

Dalam tangisnya, Layur berkata. “Bapak bilang,

Layur meringkuk sambil mencengkeram kuat

Ibu kehabisan darah. Ia koma selama tiga jam

kedua lututnya. Sedu sedannya telah berhenti.

sampai kemudian dijemput malaikat maut. Persis di

Ruang pendopo itu menjadi sunyi. Trauma ledakan

tanggal yang sama dengan hari lahirku. Karena ibu

di rumahnya sekian tahun lalu yang diikuti dengan

melahirkanku. Aku penyebab Ibu mati.”

kebakaran hebat terulang kembali di dalam benaknya.

Alun tak mampu menghibur. Mulutnya terkunci. Kobaran apinya persis seperti kejadian dua hari lalu Lidah pun kaku. yang meluluhlantakkan tepian Pantai Prau. Persis

“Sejak itu, aku menyalahkan diriku. Tetapi, aku kengerian yang mengoyak memori tragis pada diri juga menyalahkan Bapak. Bapak lebih bersalah!” remaja itu.

Alun hampir mengucapkan kata ‘kenapa’ tapi Hancur. Luluh lantak. Tak hanya satu kali. Seolah sudah terjawab oleh lanjutan cerita Layur. Engkau hanya memilih aku untuk melalui jalan kelam

ini. Berkali-kali. Apa lagi yang mau Engkau renggut?

“Bapak salah. Ibu terjatuh di samping sumur. Ia

Ataukah untuk sejenak bahagia, aku tak patut?

mengalami pendarahan dalam posisi pingsan di situ.

Berjam-jam telungkup dan basah sampai salah satu Layur makin kuat mencengkeram lututnya hingga tetangga menemukan dan melarikannya ke bidan. semakin merah. Air matanya kini menetes deras di Kamu tahu, Bapak dimana? Ia lebih mementingkan lutut. Bau jelaga dan kabut asap tiba-tiba merangsek pesanan bondet. Ia tidak ada saat Ibu terjatuh.” kembali ke dalam tempat persembunyian di benak.

Dadanya sesak. Oleh asap dan ratap.

Alun berkata lirih. Dia sendiri tak yakin kalimatnya

penting atau tidak. “Aku turut prihatin, Layur.”

 

164 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 165