Luka Lama
Layur meletakkan piring makannya. Mengunyah sisa
nasi di mulut dengan cepat dan membelalakkan mata
kepada pria di kejauhan. Bapak keluar dari kamar
sambil menyisir rambut basahnya menggunakan
jemari tangan kanan. Heran, seumur-umur, pria itu
tak pernah kenal dengan handuk. Selesai mandi, dia
hanya mengibas-ibaskan badannya agar air melorot
dari badan dan rambutnya.
Pagi belum terik, belum juga pukul delapan.
Namun, Bapak sudah mandi karena Pak Kadus
memanggilnya. Kata Bapak, akan ada rembug desa
untuk mengungkap kerusuhan di Dusun Prau sehari
sebelumnya.
“Bapak harus membersihkan nama baik kita,”
ujar Bapak kepada Layur sambil kembali merapikan
rambutnya yang semakin menipis dan memutih. Kali
ini, dia memaksakan diri memakai kemeja. “Pakaian
dinas” melaut yang berupa singlet dia rangkap dengan
satu-satunya baju itu yang dia punya. Kemeja lainnya
sudah tak muat lagi, terutama di bagian perut.
Layur mengempit kruk sambil membuka kedua
kakinya lebih lebar. Itu cara dia mempertahankan keseimbangan badan tanpa memegang kruk. Ya, mendorong punggung bapaknya agar segera keluar tangan dia sibuk membetulkan kancing kemeja Bapak. rumah.
“Sampai kapan, Bapak kacau kalau Alih-alih bergegas, Bapak malah bergeming.
mengancingkan kemeja. Nih lihat, panjang sebelah!” Layur mengerutkan kening. gerutu Layur. Tangannya gesit melepas kembali “Apa lagi yang ketinggalan, Pak?”
tautan kemeja Bapak dari kancing teratas hingga
terbawah. Bapak menggeleng. Ada sorot mata haru di sana.
“Bapak harus terlihat rapi. Jangan cuma pakai “Mungkin, sejak sepuluh tahun lalu, baru kali ini, singlet seperti preman. Biar orang-orang percaya kamu mau mencium tangan Bapak lagi,” kata Bapak kalau kita tidak jahat. Bapak tahu kan, terdakwa itu lirih. selalu pakai baju lengan panjang di depan hakim, Layur terperanjat. Benarkah? Selama itukah dia hahaha!” Layur pun membuka gulungan lengan tak menunjukkan kasih sayangnya kepada orangtua
kemeja yang disambut dengan protes keras dari tunggalnya itu? Bapak.
“Udah ... udah, Pak. Buruan berangkat!” Layur
“Isin aku, Nduk. Malu kalau lengan kemejanya mengibas-ibaskan kedua tangannya seperti mengusir ndak digulung. Entar dikira pegawai kelurahan!” bapaknya. Layur tak ingin, lelaki di hadapannya itu Layur tertawa keras. “Dilarang protes! Lebih melihat ada genangan air di matanya. malu lagi kalau gulungannya tidak sama. Sebelah Bapak malah mendekati Layur dan mencium kiri digulung sekali, sebelah kanan digulung tiga kali. kening putrinya. Terakhir kali melakukan itu, Bapak Bagusan dipanjangin semua.” harus menekuk kaki. Kini, tinggi anak itu sudah Dengan cekatan, Layur mengancingkan lengan sepadan dengannya. Ciuman kening kali ini ia lakukan kemeja bapaknya itu yang disambut dengan desah sambil berdiri tegak.
putus asa dari Bapak. Layur memandang Bapak yang menjauh sambil
“Kamu itu kayak ibumu. Tukang memaksa Bapak berucap di dalam batin, Bapak juga sama. Dua belas untuk urusan penampilan.” tahun tak pernah mencium keningku. Baru sekarang ia
lakukan lagi. Layur buru-buru mengusap air matanya
Layur tidak menggubris. Dia tarik tangan kanan
dengan lengan baju kanannya ketika seseorang
bapaknya, membungkukkan badan, dan mencium
terlihat memasuki halaman rumahnya.
tangan berkulit kasar itu dengan takzim. Lantas, Layur
154 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 155
gambar ikan itu.” Layur mengarahkan telunjuknya ke
gambar ikan-ikan di atas kertas itu. “Setelah sekian
lama, aku baru ingat sekarang. Baru ingat untuk
melengkapi gambar itu.”
Alun memang sudah bilang akan main ke rumah
Layur pagi itu. Remaja itu langsung masuk ke pendopo Alun menyerahkan kertas itu kepada Layur yang yang kosong. Layur sedang mencuci piring makannya sudah siap dengan krayon di lincak; bangku panjang di dapur. Sekalian mencuci muka karena dia baru saja dari bambu. menangis.
“Terumbu karang butuh waktu lama untuk
“Gambar ini, kamu yang bikin?” Alun memegang tumbuh setelah sekian lama rusak,” kata Alun. selembar kertas bergambar ikan-ikan berenang di “Seperti ini,” kata Layur sambil mengangkat
dalam laut. Dia temukan itu di lincak—kursi dari
krayon hijau yang tinggal setengah batang. “Krayon
bambu yang ada di pendopo.
patah, mana bisa disambung? Sedihnya … bapakku
Layur mendekat sambil mengelap tangan punya andil besar atas kerusakan terumbu karang di basahnya menggunakan rok. Satu kebiasaan yang perairan sini.” membuat bapaknya sering berteriak-teriak.
Alun menebar pandangan ke sekeliling pendopo
“Aku sering menghabiskan waktu di Pantai tempat keduanya duduk sambil mengobrol. “Biarpun Tambaksegaran dengan membuat sketsa. Sambil caranya salah, tetapi Bapak dan penduduk desa menunggu Bapak pulang dari melaut. Oh, ya. Aku tadi ini pernah kaya raya. Paling tidak, rumah besar ini bikin minum dua gelas di dapur. Kamulah yang angkat menjadi saksi.” itu ke sini.”
Layur mengangguk dua kali. Dia bagikan cerita
Tanpa disuruh dua kali, Alun menuruti permintaan masa lalu Dusun Prau kepada sahabatnya yang Layur. Memang repot membawa nampan berisi dua belum lama tinggal di situ. Ya, masa-masa keemasan gelas minum sambil mengayun sepasang kruk. Dusun Prau belasan tahun lalu tak lepas dari keberhasilan Bapak memproduksi bom ikan. Banyak
“Gambarmu itu terlalu polos,” komentar Alun
keluarga bergantung kepada industri itu. Entah
sembari meletakkan nampan di lincak. Dia ambil satu
sebagai pekerja maupun memasarkannya hingga ke
gelas dan memindahkan separuh isinya ke perut.
dusun-dusun lain.
Layur mengangkat kedua bahunya. “Iya, dulu aku
“Tahu, ndak kamu. Penduduk Dusun Prau dulu
mau menambahkan ada terumbu karang di sekeliling
itu makmur banget. Berkat bom ikan yang diproduksi
156 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 157 Bapak, tangkapan ikan para nelayan melonjak drastis. pengganti Bapak menagih utang para agen bom ikan Ikan sangat gampang dijaring. Sekali melemparkan di banyak tempat. Kasno pun berubah menjadi orang bom, ratusan ikan terapung-apung dan tinggal kaya baru di dusun Prau. Perahu miliknya semakin hari dijaring dengan sangat gampang. Berkuintal-kuintal semakin banyak hingga penduduk pun memanggilnya ikan diturunkan nelayan dari atas perahu setiap Juragan Perahu. Sayangnya, Bapak tak lagi memakai harinya. Pasar ikan riuh rendah. Para tengkulak hilir tenaga dia karena terbukti menggelapkan uang mudik membawa kendaraan bak terbuka untuk tagihan penjualan bom ikan. Konon, sejak itu ada membeli ikan-ikan tangkapan warga Dusun Prau. dendam di hati dia.” Tak heran, masa itu sangat mudah melihat motor-Ternyata, Alun sudah berkeliling di sisi dalam motor model terbaru lalu lalang di Dusun Prau.
pendopo. Dia berdiri berlama-lama di depan salah
Para perempuan datang ke kondangan dengan
satu lukisan tangan yang tergantung di pilar.
kilau emas melilit di pergelangan tangan, leher, dan
cuping telinga. Para bapak memamerkan diri dengan “Ini lukisan wajah Bapak? Ini kamu? Cantik juga merenovasi rumah dari dinding anyaman bambu ya. Dulu,” puji Alun. menjadi berdinding bata. Kemakmuran seolah menjadi “Sekarang? Kulitku gosong ndak secantik dulu takdir bagi mereka.” ya?” balas Layur disambung dengan tawa renyah.
Alun memotong cerita Layur. “Kalau banyak “Ya, orang-orang sini bilang … aku cantik dan penduduk terbantu ekonominya, mengapa ada orang menjadi anak paling disukai di Dusun Prau. Kata yang sangat membenci Bapak? Misalnya, Si Juragan mereka, aku ini lincah, berkulit putih, rambutku Perahu itu. Aku lihat sendiri perlakuan orang itu panjang tebal berombak, dan suaraku merdu kepada bapakmu kemarin.” membuat rindu para ibu. Seolah semua orang ingin “Mungkin, dia masih dendam sama Bapak,” menjadi ibu pengganti buatku,” lanjut Layur. sahut Layur dengan nada bicara ringan. “Juragan “Di gambar itu, cuma ada dua orang,” sahut Alun.
Perahu alias Pak Kasno, adalah salah satu pemuda “Sudah lama aku penasaran soal ibumu. Tapi aku ndak dusun yang dirangkul oleh Bapak. Awalnya, pemuda sampai hati untuk bertanya.” pengangguran dan tukang ribut itu diajak untuk “Ndak masalah kok. Aku bukan anak kecil lagi.
menjadi kuli angkut dan menemani Bapak keliling
Dulu sih iya, aku sedih kalau diingatkan soal ibuku.
memasarkan bom ikan. Lama-kelamaan, usaha Bapak
Kenyataannya, aku memang ndak mengenal sosok
semakin berkembang dan Kasno dipercaya sebagai
perempuan yang melahirkanku. Aku bahkan ndak
158 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 159 ingat apakah aku pernah merasakan belaian kasih 
seorang ibu.” Layur mengucapkan semua kalimat itu
dengan santai.
“Usia tujuh tahun, aku mulai merasa ada yang
aneh. Aku cuma diantar Bapak saat masuk ke sekolah
pertama kali, padahal anak lain diantar oleh ibunya.
Kalau aku main ke rumah anak lain, aku sering heran.
Kok aku beda? Di rumah mereka ada dua orangtua. Aku
cuma punya satu,” lanjut Layur.
Alun tak bisa menahan rasa ingin tahu. “Bapakmu
merahasiakannya?”
“Ndak juga, mungkin dia menunggu aku rada
gede, atau menunggu aku tanya. Makanya, suatu
ketika Bapak bilang mau mengajakku menengok Ibu.”
“Menengok ibumu?” tanya Alun kurang paham.
Layur mengangguk cepat. “Iya. Lucunya, Bapak
sampai membelikan aku sandal baru, dres putih
sepanjang mata kaki, dan bando warna merah hati
untuk bertemu Ibu. Bapak juga menyisir rambut
panjangku dengan lembut. Bahkan menyemprotkan
wewangian ke badanku. Hahaha … entahlah, dia beli
dimana parfum itu.”
160 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 161

“Jadi, ibumu sebenarnya masih ada? Masih hidup? Layur–singkatan dari Laksmi Yuriah–adalah Dimana dia tinggal saat itu?” cecar Alun. perpaduan sempurna untuk semua kebaikan itu. Kelak, semua orang akan menyebut diriku sebagai si cantik
Layur terdiam beberapa detik. “Ibuku berdiam
yang pemberani dan suka kebebasan.”
di pinggir Dusun Prau. Ia memang diam di situ. Kata
Bapak, Ibu tidur di sana. Bapak membawaku ke Layur berhenti bercerita. Ia mengambil krayon
kuburan Dusun Prau. Aku digandeng menuju satu lagi dan menyapukan warna biru pada gambarnya.
nisan bertuliskan Laksmi Yuriah. Bapak berlutut. Aku
“Tahu enggak, setelah aku tahu siapa ibuku, aku
mengikuti. Rumput-rumput tinggi sekitar nisan Bapak
masih penasaran akan satu hal. Dan, aku ndak bisa
cabut tanpa berkata-kata. Aku ikut-ikutan.”
menahan diri untuk tidak tanya ke Bapak,” kata Layur
“Jadi, nama ibumu Laksmi Yuriah?” tanpa menoleh. Ia masih asyik dengan kesibukan mewarnai lautan.
Layur cemberut. “Ceritaku belum selesai. Di sana,
Bapak menyorongkan satu bungkusan daun pisang. “Soal apa?” Alun penasaran. Dari harumnya, aku tahu isinya. Wangi helai-helai “Lima tahun setelah Bapak menunjukkan nisan
mawar merah. Kutanya Bapak apakah Ibu wangi.
Ibu, aku baru sadar. Ternyata, tanggal lahirku sama
Bapak mengangguk berkali-kali. Kutanya juga apakah
dengan tanggal yang tercantum di nisan ibuku.
Ibu juga cantik. Tahu, Bapak menjawab apa? Katanya,
Tanggal kematian beliau.”
Ibu secantik putrinya, hahaha!”
Alun melongo. Kaget, heran, tetapi tak tahu harus
Layur terus bercerita. “Hari
bertanya apa.
itu, aku jadi tahu kenapa aku
dinamai Layur. Ternyata, itu “Bapak heran ketika aku
diambil dari singkatan nama Ibu, tanyakan hal itu. Mungkin
Layur alias Laksmi Yuriah.” dia tidak mengira kalau
aku yang saat itu baru
Alun menyela. “Pasti ada arti
kelas lima sekolah dasar
dari nama itu.”
menanyakannya. Penjelasan
“Iyalah. Aku juga baru tahu saat Bapak membuatku sadar.
Bapak menjelaskan di kuburan itu. Aku penyebab kematian
Laksmi berarti cantik. Yuriah bermakna Ibu.” Layur menghentikan pemberani dan suka kebebasan. Dan, gerak tangannya.
162 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 163 Krayon di tangannya terlepas begitu saja. Tangan itu Layur kini tersedu. Air matanya sudah kering.
menegang. Lantas ....
“Ibu meninggal karena aku lahir. Ibu meninggal
Kreeeek! karena Bapak tak ada saat dibutuhkan! Keyakinan
itu terpatri kuat di dalam batinku sampai detik ini.
Alun kaget setengah mati. Di depannya, Layur
Menggerogoti kepercayaan diriku. Semakin terkikis
marah dan menyobek gambarnya penuh emosi. Lalu,
dan semakin habis apalagi ketika kakiku tiba-tiba
Layur menangis. Tanpa suara. Air matanya jatuh
menjadi tak utuh dengan cara tragis. Itu juga gara-
dengan deras.
gara Bapak!”
Dalam tangisnya, Layur berkata. “Bapak bilang,
Layur meringkuk sambil mencengkeram kuat
Ibu kehabisan darah. Ia koma selama tiga jam
kedua lututnya. Sedu sedannya telah berhenti.
sampai kemudian dijemput malaikat maut. Persis di
Ruang pendopo itu menjadi sunyi. Trauma ledakan
tanggal yang sama dengan hari lahirku. Karena ibu
di rumahnya sekian tahun lalu yang diikuti dengan
melahirkanku. Aku penyebab Ibu mati.”
kebakaran hebat terulang kembali di dalam benaknya.
Alun tak mampu menghibur. Mulutnya terkunci. Kobaran apinya persis seperti kejadian dua hari lalu Lidah pun kaku. yang meluluhlantakkan tepian Pantai Prau. Persis
“Sejak itu, aku menyalahkan diriku. Tetapi, aku kengerian yang mengoyak memori tragis pada diri juga menyalahkan Bapak. Bapak lebih bersalah!” remaja itu.
Alun hampir mengucapkan kata ‘kenapa’ tapi Hancur. Luluh lantak. Tak hanya satu kali. Seolah sudah terjawab oleh lanjutan cerita Layur. Engkau hanya memilih aku untuk melalui jalan kelam
ini. Berkali-kali. Apa lagi yang mau Engkau renggut?
“Bapak salah. Ibu terjatuh di samping sumur. Ia
Ataukah untuk sejenak bahagia, aku tak patut?
mengalami pendarahan dalam posisi pingsan di situ.
Berjam-jam telungkup dan basah sampai salah satu Layur makin kuat mencengkeram lututnya hingga tetangga menemukan dan melarikannya ke bidan. semakin merah. Air matanya kini menetes deras di Kamu tahu, Bapak dimana? Ia lebih mementingkan lutut. Bau jelaga dan kabut asap tiba-tiba merangsek pesanan bondet. Ia tidak ada saat Ibu terjatuh.” kembali ke dalam tempat persembunyian di benak.
Dadanya sesak. Oleh asap dan ratap.
Alun berkata lirih. Dia sendiri tak yakin kalimatnya
penting atau tidak. “Aku turut prihatin, Layur.”
164 BAB 13 | Luka Lama Layur Tetaplah Berlayar 165
