Di Mana Layur?
Alun memungut sepasang benda yang dia temukan
teronggok di atas pasir tersamar oleh pandan
pantai. Sepasang kruk milik Layur! Bergegas, Alun
mengempit alat bantu berjalan milik sahabatnya itu.
Dia biarkan Pak Kadus pergi tergopoh-gopoh mencari
rombongan Juragan Perahu yang kalap.
Aku harus temukan Layur secepatnya. Alun
memutar topin sehingga sisi depan ada di belakang
kepala. Pandangannya jadi lebih luas. Dia tebarkan
pandangan dengan memicingkan mata. Tak
tampak ada hal mencurigakan yang menandakan
sahabatnya itu ada di sekitarnya. Semua sama.
Deretan perahu, jaring-jaring yang dijemur, teronggok. Tak salah lagi, itu bentukan dari kruk yang keranjang-keranjang ikan, dan tali melintang serta dipakai Layur. Jejak seperti itu hilang begitu saja dan para-para tempat para nelayan menggantungkan digantikan dengan bentukan lain seperti ... bekas ikan yang diawetkan. Gerumbul pandan pantai injakan kaki! pun terlalu pendek untuk menyembunyikan tubuh Alun dengan hati-hati mencoba memasukkan
seseorang.
telapak kakinya di atas jejak itu. Jejak itu lebih besar
Ah, bodohnya aku! Bukankah aku berdiri di atas dan lebar. Dan, tak ada bekas jari-jari kaki. Alun pasir. Harusnya ada jejak atau apa pun di pasir mengerutkan keningnya. ini! Alun menepuk keningnya, menyadari betapa Sudah pasti, itu bukan jejak Layur. Telapak kaki
kekalutan diri membuat level kecerdasannya turun
dia hanya ada di kaki kanan itu pun tak lengkap
beberapa level.
jemarinya. Jejak kaki besar ini punya siapa? Ini pasti
Alun menelisik. Ia mundur beberapa langkah jejak kaki orang dewasa, dan pasti laki-laki. Sudah dengan lagak detektif. Setidaknya, ia pernah umum di Dusun Prau, para nelayan kalau tidak membaca novel Imung yang berkisah tentang remaja bertelanjang kaki, mereka menggunakan sandal dari kerempeng dengan kemampuan memecahkan ban bekas. Sandal itu kuat dipakai di air karena tebal
misteri-misteri kejahatan. Hamparan pasir pantai dan tanpa lem. Laut Selatan terdiri dari partikel-partikel lembut Alun menegakkan kepalanya. Telapak tangan
yang ringan. Ia mudah berpindah karena tiupan
kanan mengepal dan meninju telapak tangan kiri
angin. Ia juga akan membentuk cekungan kecil saat
berkali-kali. Itulah gaya dia saat sedang berpikir
ada benda padat menekannya dari atas.
keras. Sekaligus panik!
Alun membungkuk. Untung banget, rombongan
Apakah Layur ditangkap seseorang di tempat
Juragan Perahu tidak melintas di sini sehingga tidak
ini? Kalau iya, siapa dia? Siapa mereka? Aduh, Alun
merusak jejak yang ada. Remaja itu merapatkan
tak berani melanjutkan pikiran buruknya. Oh Tuhan,
kedua jari tangan kanan. Ia menunduk untuk lebih
lindungi sahabat baikku itu. Jangan biarkan ada
mendekati jejak di pasir. Ia mengamati dengan
Mヲ #イ# イMエfrFMエ r rヲ# r #エF# #エF# #エf tangan-tangan jahat melukai temanku.
penting. Apa itu? Alun mengitari jejak di pasir. Ada jejak yang tampak berbeda. Jejak-jejak itu terlalu
Ada jejak-jejak membulat sejarak setengah
dalam dan terlihat seperti seseorang berjalan
meter yang mengarah ke titik tempat kruk itu
dengan terburu-buru. Kalau jejak itu lebih dalam,
144 BAB 12 | Di Mana Layur? Layur Tetaplah Berlayar 145 berarti orang ini lebih berat daripada pemilik jejak Masih terduduk di atas pasir di dalam warung sebelumya. tak terpakai, Layur terkulai di dinding warung itu. Tangannya meremas-remas pasir dengan
Berarti, ada dua orang yang menemukan Layur
geram. Ingin rasanya ia memukul dinding warung
di sini? Ah tidak! Alun mengikuti jejak baru itu. Ya,
reyot itu, tetapi pasti akan ambruk sekali hendak.
jejak itu hanya sepasang. Tak ada jejak lain. Jarak
Pandangannya terarah ke atas tinggi-tinggi. Seolah
antarjejak itu panjang dan langkahnya seperti
dia sedang mencari mimpi miliknya yang dia gantung
menyeret telapak kaki. Kemungkinan, dia berlari
di langit biru.
sambil membawa beban berat. Astaga, apakah
orang ini menemukan Layur, merenggutnya dari kruk, Serpihan mimpi itu sebagian sudah dia raih.
dan menggendongnya? Apakah dia orang jahat yang Sebagian. Dulu, Layur sangat bangga ketika ingin melukai Layur? tangannya membelai koran yang memuat fotonya sedang menerima hadiah laptop. Akhirnya aku punya
Alun menepis pikiran buruknya, dia bawa
laptop! Belasan tahun aku memimpikan barang ini.
sepasang kruk itu dan mengikuti jejak kaki di depan
matanya. Jejak itu tak lurus, sesekali berbelok dan Semakin bangga lagi, ketika salah satu radio berkelit di antara warung-warung tak berpenghuni. mewawancarai dirinya sebagai remaja penggagas Alun terus mengikutinya. Aku harus segera dusun wisata. Tak henti-hentinya warga Dusun Prau
menyelamatkan Layur! membicarakan kejadian yang sangat langka itu.
Terlebih lagi, masih terbayang saat tangannya
bergetar ketika menandatangani kesepakatan
kedatangan rombongan tamu sebanyak 100 orang
dalam tiga bus besar dari Jakarta. Ada namaku di
Layur mengintip dari balik dinding bambu. Ia
dalam dokumen itu!
bergidik. Bapak menjadi bulan-bulanan makian
warga Dusun Prau. Bapak tidak membalas. Ia ikhlas Keping kebanggaan terbesar Layur adalah ketika dijadikan tumbal atas kejadian memilukan hari itu. dia membagikan amplop honor untuk pemuda-Beruntung, masih ada beberapa warga yang memiliki pemuda dusun yang membantunya menjadi rasa hormat kepada Bapak. Salah satunya adalah operator wisata susur sungai. Betapa mengharukan Pak Kadus yang menyelamatkan Bapak dari tinju melihat binar mata penuh syukur mereka. Broto. Bagaimanapun juga, Bapak mempunyai jasa besar bagi mereka pada masa lampau.
146 BAB 12 | Di Mana Layur? Layur Tetaplah Berlayar 147
“Matur nuwun sanget. Terima kasih tak “Kita bisa kembali ke rumah, sekarang,” kata terhingga, Mbak Layur.” Bapak. “Bapak masih dilindungi Allah sebelum warga
marah tak terkendali. Dalang semua kerusuhan ini
“Saya bisa melunasi uang sekolah adik saya,
sudah tertangkap.”
Mbak Layur. Alhamdulillah.”
Layur terperanjat. Dalang? Jadi, semua hal tidak
Semua menyebut namaku! Bangga padaku.
beres selama ini bukan kebetulan semata-mata?
Berterima kasih padaku. Aku. Aku. Aku.
“Siapa, Pak? Siapa?”
Layur tersentak. Ada hal yang salah. Tetapi, apa
itu? “Seseorang yang merasa paling rugi saat penduduk tak lagi butuh perahu melaut. Seseorang
“Layuuur! Layur!”
yang kehilangan penghasilan satu-satunya karena
Kembali Layur tersentak. Namun, kali ini dengan pemuda Dusun Prau lebih memilih bekerja bersama alasan berbeda. Dia hafal sekali suara orang yang Naryo di lokasi wisata.” memanggilnya itu.
Layur tak mampu untuk langsung menebak
“Aku masih di sini, Pak!” Layur berusaha bangkit, misteri itu. Ia menunggu Bapak bercerita lebih jelas.
tetapi tak ada pegangan yang bisa dia pakai untuk Sayangnya, Bapak seperti tak ingin membahas hal berdiri. Kruk dia entah tertinggal dimana. itu, saat itu.
Bapak masuk ke dalam warung tak terpakai “Yuk balik ke rumah.” Bapak berdiri dan itu dan mendapati Layur yang wajahnya pucat. merentangkan kedua tangan ke arah putrinya. Antara habis menangis dan sisa-sisa ketakutannya “Ndak ada cara lain.” Bapak membungkuk lagi.
masih membekas kuat. Bapak membungkuk dan
Meletakkan tangan kirinya di punggung Layur dan
memandang Layur penuh kekhawatiran.
tangan kanannya menelusup di belakang kaki Layur.
“Tidak ada yang mengganggumu di sini, ‘kan “Kamu pulang dengan Bapak bopong, ya Nduk. Nduk?” Tongkatmu tertinggal entah dimana.”
“Bapak tidak apa-apa? Tidak ada yang melukai Layur menggeleng. “Ndak mau.” Bapak?” Tangan Layur bergerak cepat memegang Bapak tersentak.
dan membolak-balik kedua lengan bapaknya. Tak
ada luka. Hanya satu dua lebam di siku lengan kanan
dan kiri, bukan di wajahnya. Layur sangat lega.
148 BAB 12 | Di Mana Layur? Layur Tetaplah Berlayar 149

Layur tersenyum nakal. Bertiga mereka mengayun kaki meninggalkan
“Malu, Layur malu kalau warung kosong. Ada rumah indah menunggu dibopong kayak bayi. Maunya dihampiri. Mereka pun melangkah menuju digendong di punggung permukiman Dusun Prau. Barulah saat itu Layur Bapak.” merasa sangat merindu nasi putih hangat, teri goreng, dan sambal terasi! Eh, tapi … bukankah di
Tiba-tiba ….
rumah tak ada makanan?
“Tongkatmu di sini,
Layur!”
Sesosok remaja nyengir
menyerbu masuk ke dalam warung
tak terpakai itu. tangan kanannya
mengacungkan sepasang kruk.
“Dari mana kamu peroleh
tongkatku?” teriak Layur terkaget dan
senang bukan kepalang. “Dari mana
kamu tahu aku sembunyi di sini?”
Alun masih memamerkan senyum
lebarnya. “Gampang, dong. Aku
menemukan sepasang tongkatmu di
pantai. Lantas aku pakai ilmu detektif yang
aku kuasai. Sampailah aku di sini!”
Bapak mengacak-acak rambut Alun. Layur
berkali-kali menyiram Alun dengan pasir ke
arah badannya. Ketiganya tertawa tak habis-
habisnya.
“Udah. Cacing di perut Bapak sudah demo.
Minta jatah makan. Yuk, pulang!”
150 BAB 12 | Di Mana Layur? Layur Tetaplah Berlayar 151
