BAB 12

 

Di Mana Layur?

 

Alun memungut sepasang benda yang dia temukan

teronggok di atas pasir tersamar oleh pandan

pantai. Sepasang kruk milik Layur! Bergegas, Alun

mengempit alat bantu berjalan milik sahabatnya itu.

Dia biarkan Pak Kadus pergi tergopoh-gopoh mencari

rombongan Juragan Perahu yang kalap.

Aku harus temukan Layur secepatnya. Alun

memutar topin sehingga sisi depan ada di belakang

kepala. Pandangannya jadi lebih luas. Dia tebarkan

pandangan dengan memicingkan mata. Tak

tampak ada hal mencurigakan yang menandakan

sahabatnya itu ada di sekitarnya. Semua sama.

Deretan perahu, jaring-jaring yang dijemur, teronggok. Tak salah lagi, itu bentukan dari kruk yang keranjang-keranjang ikan, dan tali melintang serta dipakai Layur. Jejak seperti itu hilang begitu saja dan para-para tempat para nelayan menggantungkan digantikan dengan bentukan lain seperti ... bekas ikan yang diawetkan. Gerumbul pandan pantai injakan kaki! pun terlalu pendek untuk menyembunyikan tubuh Alun dengan hati-hati mencoba memasukkan

seseorang.

telapak kakinya di atas jejak itu. Jejak itu lebih besar

Ah, bodohnya aku! Bukankah aku berdiri di atas dan lebar. Dan, tak ada bekas jari-jari kaki. Alun pasir. Harusnya ada jejak atau apa pun di pasir mengerutkan keningnya. ini! Alun menepuk keningnya, menyadari betapa Sudah pasti, itu bukan jejak Layur. Telapak kaki

kekalutan diri membuat level kecerdasannya turun

dia hanya ada di kaki kanan itu pun tak lengkap

beberapa level.

jemarinya. Jejak kaki besar ini punya siapa? Ini pasti

Alun menelisik. Ia mundur beberapa langkah jejak kaki orang dewasa, dan pasti laki-laki. Sudah dengan lagak detektif. Setidaknya, ia pernah umum di Dusun Prau, para nelayan kalau tidak membaca novel Imung yang berkisah tentang remaja bertelanjang kaki, mereka menggunakan sandal dari kerempeng dengan kemampuan memecahkan ban bekas. Sandal itu kuat dipakai di air karena tebal

misteri-misteri kejahatan. Hamparan pasir pantai dan tanpa lem. Laut Selatan terdiri dari partikel-partikel lembut Alun menegakkan kepalanya. Telapak tangan

yang ringan. Ia mudah berpindah karena tiupan

kanan mengepal dan meninju telapak tangan kiri

angin. Ia juga akan membentuk cekungan kecil saat

berkali-kali. Itulah gaya dia saat sedang berpikir

ada benda padat menekannya dari atas.

keras. Sekaligus panik!

Alun membungkuk. Untung banget, rombongan

Apakah Layur ditangkap seseorang di tempat

Juragan Perahu tidak melintas di sini sehingga tidak

ini? Kalau iya, siapa dia? Siapa mereka? Aduh, Alun

merusak jejak yang ada. Remaja itu merapatkan

tak berani melanjutkan pikiran buruknya. Oh Tuhan,

kedua jari tangan kanan. Ia menunduk untuk lebih

lindungi sahabat baikku itu. Jangan biarkan ada

mendekati jejak di pasir. Ia mengamati dengan

Mヲ #イ# イMエfrFMエ r rヲ# r #エF# #エF# #エf tangan-tangan jahat melukai temanku.

penting. Apa itu? Alun mengitari jejak di pasir. Ada jejak yang tampak berbeda. Jejak-jejak itu terlalu

Ada jejak-jejak membulat sejarak setengah

dalam dan terlihat seperti seseorang berjalan

meter yang mengarah ke titik tempat kruk itu

dengan terburu-buru. Kalau jejak itu lebih dalam,

 

144 BAB 12 | Di Mana Layur? Layur Tetaplah Berlayar 145 berarti orang ini lebih berat daripada pemilik jejak Masih terduduk di atas pasir di dalam warung sebelumya. tak terpakai, Layur terkulai di dinding warung itu. Tangannya meremas-remas pasir dengan

Berarti, ada dua orang yang menemukan Layur

geram. Ingin rasanya ia memukul dinding warung

di sini? Ah tidak! Alun mengikuti jejak baru itu. Ya,

reyot itu, tetapi pasti akan ambruk sekali hendak.

jejak itu hanya sepasang. Tak ada jejak lain. Jarak

Pandangannya terarah ke atas tinggi-tinggi. Seolah

antarjejak itu panjang dan langkahnya seperti

dia sedang mencari mimpi miliknya yang dia gantung

menyeret telapak kaki. Kemungkinan, dia berlari

di langit biru.

sambil membawa beban berat. Astaga, apakah

orang ini menemukan Layur, merenggutnya dari kruk, Serpihan mimpi itu sebagian sudah dia raih.

dan menggendongnya? Apakah dia orang jahat yang Sebagian. Dulu, Layur sangat bangga ketika ingin melukai Layur? tangannya membelai koran yang memuat fotonya sedang menerima hadiah laptop. Akhirnya aku punya

Alun menepis pikiran buruknya, dia bawa

laptop! Belasan tahun aku memimpikan barang ini.

sepasang kruk itu dan mengikuti jejak kaki di depan

matanya. Jejak itu tak lurus, sesekali berbelok dan Semakin bangga lagi, ketika salah satu radio berkelit di antara warung-warung tak berpenghuni. mewawancarai dirinya sebagai remaja penggagas Alun terus mengikutinya. Aku harus segera dusun wisata. Tak henti-hentinya warga Dusun Prau

menyelamatkan Layur! membicarakan kejadian yang sangat langka itu.

Terlebih lagi, masih terbayang saat tangannya

bergetar ketika menandatangani kesepakatan

kedatangan rombongan tamu sebanyak 100 orang

dalam tiga bus besar dari Jakarta. Ada namaku di

Layur mengintip dari balik dinding bambu. Ia

dalam dokumen itu!

bergidik. Bapak menjadi bulan-bulanan makian

warga Dusun Prau. Bapak tidak membalas. Ia ikhlas Keping kebanggaan terbesar Layur adalah ketika dijadikan tumbal atas kejadian memilukan hari itu. dia membagikan amplop honor untuk pemuda-Beruntung, masih ada beberapa warga yang memiliki pemuda dusun yang membantunya menjadi rasa hormat kepada Bapak. Salah satunya adalah operator wisata susur sungai. Betapa mengharukan Pak Kadus yang menyelamatkan Bapak dari tinju melihat binar mata penuh syukur mereka. Broto. Bagaimanapun juga, Bapak mempunyai jasa besar bagi mereka pada masa lampau.

 

146 BAB 12 | Di Mana Layur? Layur Tetaplah Berlayar 147

“Matur nuwun sanget. Terima kasih tak “Kita bisa kembali ke rumah, sekarang,” kata terhingga, Mbak Layur.” Bapak. “Bapak masih dilindungi Allah sebelum warga

marah tak terkendali. Dalang semua kerusuhan ini

“Saya bisa melunasi uang sekolah adik saya,

sudah tertangkap.”

Mbak Layur. Alhamdulillah.”

Layur terperanjat. Dalang? Jadi, semua hal tidak

Semua menyebut namaku! Bangga padaku.

beres selama ini bukan kebetulan semata-mata?

Berterima kasih padaku. Aku. Aku. Aku.

“Siapa, Pak? Siapa?”

Layur tersentak. Ada hal yang salah. Tetapi, apa

itu? “Seseorang yang merasa paling rugi saat penduduk tak lagi butuh perahu melaut. Seseorang

“Layuuur! Layur!”

yang kehilangan penghasilan satu-satunya karena

Kembali Layur tersentak. Namun, kali ini dengan pemuda Dusun Prau lebih memilih bekerja bersama alasan berbeda. Dia hafal sekali suara orang yang Naryo di lokasi wisata.” memanggilnya itu.

Layur tak mampu untuk langsung menebak

“Aku masih di sini, Pak!” Layur berusaha bangkit, misteri itu. Ia menunggu Bapak bercerita lebih jelas.

tetapi tak ada pegangan yang bisa dia pakai untuk Sayangnya, Bapak seperti tak ingin membahas hal berdiri. Kruk dia entah tertinggal dimana. itu, saat itu.

Bapak masuk ke dalam warung tak terpakai “Yuk balik ke rumah.” Bapak berdiri dan itu dan mendapati Layur yang wajahnya pucat. merentangkan kedua tangan ke arah putrinya. Antara habis menangis dan sisa-sisa ketakutannya “Ndak ada cara lain.” Bapak membungkuk lagi.

masih membekas kuat. Bapak membungkuk dan

Meletakkan tangan kirinya di punggung Layur dan

memandang Layur penuh kekhawatiran.

tangan kanannya menelusup di belakang kaki Layur.

“Tidak ada yang mengganggumu di sini, ‘kan “Kamu pulang dengan Bapak bopong, ya Nduk. Nduk?” Tongkatmu tertinggal entah dimana.”

“Bapak tidak apa-apa? Tidak ada yang melukai Layur menggeleng. “Ndak mau.” Bapak?” Tangan Layur bergerak cepat memegang Bapak tersentak.

dan membolak-balik kedua lengan bapaknya. Tak

ada luka. Hanya satu dua lebam di siku lengan kanan

dan kiri, bukan di wajahnya. Layur sangat lega.

 

148 BAB 12 | Di Mana Layur? Layur Tetaplah Berlayar 149

Layur tersenyum nakal. Bertiga mereka mengayun kaki meninggalkan

“Malu, Layur malu kalau warung kosong. Ada rumah indah menunggu dibopong kayak bayi. Maunya dihampiri. Mereka pun melangkah menuju digendong di punggung permukiman Dusun Prau. Barulah saat itu Layur Bapak.” merasa sangat merindu nasi putih hangat, teri goreng, dan sambal terasi! Eh, tapi … bukankah di

Tiba-tiba ….

rumah tak ada makanan?

“Tongkatmu di sini,

Layur!”

Sesosok remaja nyengir

menyerbu masuk ke dalam warung

tak terpakai itu. tangan kanannya

mengacungkan sepasang kruk.

“Dari mana kamu peroleh

tongkatku?” teriak Layur terkaget dan

senang bukan kepalang. “Dari mana

kamu tahu aku sembunyi di sini?”

Alun masih memamerkan senyum

lebarnya. “Gampang, dong. Aku

menemukan sepasang tongkatmu di

pantai. Lantas aku pakai ilmu detektif yang

aku kuasai. Sampailah aku di sini!”

Bapak mengacak-acak rambut Alun. Layur

berkali-kali menyiram Alun dengan pasir ke

arah badannya. Ketiganya tertawa tak habis-

habisnya.

“Udah. Cacing di perut Bapak sudah demo.

Minta jatah makan. Yuk, pulang!”

 

150 BAB 12 | Di Mana Layur? Layur Tetaplah Berlayar 151