BAB 10

 

Luluh Lantak

 

Motor Naryo berguncang-guncang

seturut naik turunnya kendaraan itu

mendaki Bukit Menara. Layur sempat

melambaikan tangan kepada dua

orang bertopi proyek yang berjalan

kaki melintas di jalan itu. Mereka

adalah karyawan PT Tower Nasional

yang sudah akrab dengan Layur.

Layur tidak sungkan bertanya

banyak hal tentang dunia maya

kepada mereka. Justru kepada

Alun, Layur sungkan

untuk minta diajari.

Naryo mengerem motor persis di depan gua. di sini lebih enak, lebih terjamin. Dapat makan, bisa Meski hatinya tak tenang, tetapi dia sehalus mungkin ngadem di gua, enggak kena ombak. Dikasih honor menghentikan motornya. lumayan sama Mas Naryo, lagi!”

“Sebentar … jangan turun dulu.” Naryo buru-buru |# イMゥr rヲ ›# ソ Mソゥ#m イMイrエ # ヲソエ イ# r memegang kokoh setang motor dan membentangkan Naryo pun mengangguk dan mengacungkan dua kedua kakinya sambil berdiri. Motor itu seperti dipasak jempolnya. ke tanah, jangan sampai goyah. Ia tidak ingin Layur “Dulu, orang seperti Sutar itu kan lontang-lantung.

terjatuh.

Kadang diajak melaut, tetapi lebih sering nongkrong di

“Aku kan sudah ratusan kali turun dari boncengan pantai. Kalaupun melaut, duitnya ya cuma berapa to?”

motor.” Layur meninju punggung Naryo. ujar Naryo. “Di sini, mereka dapat duit sejuta sebulan.

Kalau ditambah dengan tips yang diberikan wisatawan,

Layur bisa turun dengan gampang. Dua pemuda

bisa dapat dua kali lipatnya.”

operator wisata susur sungai turut membantu Layur

berdiri dengan kruknya. Layur mengerutkan kening. “Perahu jadi banyak

menganggur?”

“Matur nuwun, Mas.” Layur tak lupa berbagi

senyum untuk dua pemuda sedesanya itu. “Sebentar … Naryo mengangkat bahu, tetapi buru-buru dia kamu Sutar, ‘kan?” menjawab. “Wisatawan lebih suka aktivitas susur

sungai seperti di sini. Juga makan ikan bakar

Pemuda dengan rambut kribo itu tertawa kecil. dan naik kuda sepanjang pantai. Kalau “Iyo. Aku yang dulu biasa nemani Bapak melaut.” naik perahu, ini kan Laut Selatan. Mana ada

“Saiki nang kene? Sekarang di sini enggak

wisatawan mau bertaruh

melaut?”

nyawa naik perahu

“Penak di sungai daripada di laut, dengan gelombang laut hahaha ….” Sutar menjawab jujur. setinggi itu?”

“Menjadi operator wisata

 

120 BAB 10 | Luluh Lantak Layur Tetaplah Berlayar 121

Layur melangkah di samping Naryo. Ia terperanjat Naryo dan timnya dengan sigap menerangkan sekaligus kagum. Naryo dan anak buahnya telah prosedur keselamatan selama mengikuti tur susur menyulap sekeliling gua dengan fasilitas yang asri sungai. Meski relatif aman, tetapi sungai bawah tanah dan terkesan lebih teduh. Ada beberapa gubuk dari tidaklah sama dengan sungai di alam terbuka. Ada bambu dengan penutup daun kelapa di sekeliling beberapa jeram dengan arus deras dan tikungan

gua. Tempat para tamu meletakkan barang bawaan sungai yang harus diwaspadai. Selain itu, tidak semua mereka sebelum menceburkan diri ke sungai. Tempat sisi sungai mendapat cukup sinar matahari. pembilasan pun telah disediakan dengan dinding kokoh “Namun, Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir.

menggunakan anyaman bambu. Harusnya, semua

Silakan menikmati alam Dusun Prau dengan gembira.

sudah siap. Ya, harusnya.

Tim kami sudah bersiap di beberapa titik tepi sungai.”

“Ularnya sudah kami amankan, Mas,” ujar salah Naryo menerangkan dengan detail. satu pemuda bernama Anung.

Selanjutnya, tim operator susur sungai memandu

“Pastikan tidak ada binatang berbahaya lainnya!” para turis itu menapaki lantai gua yang basah. Jaket instruksi Naryo. pelampung berwarna oranye dibagikan untuk setiap

tamu. Hampir semuanya adalah jaket baru, sesuai

“Nggih, Mas. Harusnya tidak ada kecuali ada

permintaan dari koordinator turis itu.

orang yang sengaja mengganggu!”

Kecipak-kecipak air menggema di dinding-dinding

Naryo terhenyak. Ada orang yang sengaja

gua kapur. Para turis sangat menikmati sensasi

mengganggu? Mungkinkah.

bertelanjang kaki meniti batu demi batu di dasar

Layur buru-buru menukas. “Wis, rasah mikir sing sungai sedalam lutut itu. Lantas, mereka dibantu aneh-aneh.” untuk setengah berbaring di atas ban hitam selebar

Dua jam kemudian, rombongan turis itu berangsur- tubuh orang dewasa. angsur tiba di lokasi wisata susur sungai. Empat orang “Waooo!! Anyep punggungku, basah! Hahaha …,”

pemudi sigap menyiapkan es dawet dengan gula teriak salah satu turis paruh baya. Teman-temannya aren kepada para tamu. Dengan tambahan potongan malah menggodanya dengan menyiramkan air sungai nangka dan aroma daun pandan, para turis tak cukup menggunakan tangan. Seru! Jeritan dan teriakan meminum satu gelas. gembira mereka membuat dada Layur bergemuruh.

“Boleh tambah, ‘kan Mbak?” rayu mereka. Dia sangat bangga dan yakin semua rencananya akan semakin sukses.

“Monggo, Ibu. Silakan,” balas mereka dengan

keramahan yang tak dibuat-buat.

122 BAB 10 | Luluh Lantak Layur Tetaplah Berlayar 123

“Siap ya, Bapak dan Ibu …. Kita akan main kereta- mengapungkan ranting kecil. Kali lain, air keretaan menggunakan ban ini menelusuri sungai berdebur ketika membelah jeram dengan bawah tanah. Siap basaaaah!!!” Naryo dengan turunan layaknya air terjun kecil. pandainya memberi instruksi para turis itu untuk Basah. Tawa. Jerit senang. Dan ….

beriringan mengapung di atas sungai. Tiap delapan

ban dilepas bergantian membentuk “Ahhh … toloooong!”

deretan seperti kereta api.

Byur! Byur!

Byur! Byur! Dua orang turis seperti terguling Ban-ban itu dari atas ban. Oh tidak, mereka kandas!

melintas di atas Nyaris tenggelam. Untung jaket keselamatan sungai bawah berfungsi dengan baik. Namun, tak ayal

tanah. Sesekali keduanya gelagapan dan tanpa bisa

aliran airnya ditolak meminum air sungai

tenang seperti saat terguling dari ban.

“Ban bocor!!”

 

124 BAB 10 | Luluh Lantak Layur Tetaplah Berlayar 125

“Aku juga!” Layur menoleh. Ada tangan kuat melingkar di

bahunya.

“Toloooong! Aku enggak bisa berenang!!”

“Bapak?” Antara kaget dan senang, gadis itu

Suasana gua yang remang-remang menambah

balas melingkarkan tangannya ke pinggang orangtua

kepanikan susur sungai itu. Beberapa turis yang

tunggalnya.

merasa bannya semakin tenggelam mencoba untuk

berdiri dan keluar dari ban. Beberapa berhasil. Lainnya “Tadi pagi Bapak bilang kalau mau melaut dua hari.”

tidak menyangka kalau kedalaman sungai itu sudah

Bapak memilih untuk bungkam. Hari itu dia batal

mencapai dada. Ban-ban itu saling bertubrukan di

melaut. Naluri mengatakan kalau ada hal tidak baik

ujung jeram yang bergemuruh. Banyak turis usia

akan dialami putrinya.

lanjut terlihat megap-megap dan melambaikan

tangan meminta tolong. Wajah mereka pucat dengan “Bapak dengar dari Pak Kadus katanya lokasi

air sungai membanjir dari ujung rambut hingga susur gua sekarang dipasangi garis polisi ….” seluruh badan. Tidak sedikit yang menangis. Layur mengiyakan dengan mengangguk lemah.

“Cepat tolong mereka!!” bentak salah satu turis “Bapak dengar juga kalau ada turis harus dilarikan dewasa kepada anak buah Naryo. Percuma, jumlah ke rumah sakit.” pemuda yang mengawasi wisata susur sungai itu Layur mengangguk lagi.

hanya sepuluh orang tak sepadan dengan rombongan

turis tiga bus. Panik! Kacau! “Ya, semoga mereka hanya luka ringan. Mungkin

mereka trauma dan butuh tambahan oksigen karena

masuk ke dalam air sungai. Mereka butuh istirahat

sehari di tempat yang lebih tenang.”

Bapak sengaja tidak bercerita lebih banyak agar

Bruk!

Layur tidak menangis. Sebenarnya, acara malam

Kayu bakar terakhir sudah diletakkan di tengah itu sudah dilarang untuk digelar semenjak tragedi lapangan acara penyalaan api unggun dan membakar turis tenggelam di sungai. Dengan kerja keras dan ikan dijadwalkan dimulai pukul tujuh malam. Tenda negosiasi, Bapak dan kepala dusun memohon-mohon luas terpasang gagah dengan lampu terang di setiap agar izin keramaian malam itu diperoleh. Akhirnya, tiangnya. Tikar pandan pun tergelar memanjang acara api unggun itu pun boleh dilaksanakan di bawah menghadap laut lepas. pengawasan polisi. Tersamar, beberapa polisi dengan

pakaian ala masyarakat biasa tersebar di sekitar pantai.

 

126 BAB 10 | Luluh Lantak Layur Tetaplah Berlayar 127

“Layur sedih, Pak. Bikin banyak orang harus “Insyaallah aman, Kang,” kata Pak Kadus sambil masuk rumah sakit.” menyodorkan sepiring mendoan. Bapak mengambil

satu penuh antusias. Harusnya aman.

Bapak mengelus kepala Layur tiga kali.

“Tapi aku deg-degan juga. Seumur-umur dusun

“Kamu bantu ibu-ibu di sana bumbui ikan ya?

kita ndak ada tamu orang Jakarta sebanyak ini.

Sana, Nduk.”

Khawatir mereka tidak cocok tempat tidurnya, tidak

Langkah Layur menjauh tetapi tidak segesit cocok sajian makanannya. Kan kita cuma bisa ngasih biasanya. Dia berjalan pelan. Seolah ada beban berat penganan deso,” ujar Bapak. di dalam dirinya. Bapak mendesah. Bapak khawatir “Namanya turis, Kang. Mereka cari semua hal

kamu akan kecewa, Nduk.

unik. Lha kalau tidur pakai AC dan makan daging

mewah kan mereka sudah biasa,” celetuk Pak Kadus.

“Eh, aku ke sana ya. Gabung sama para tamu.”

Hilir mudik para pemuda dan pemudi dusun

Acara makan malam di tepian laut itu tetap meriah mengantarkan makanan pembuka berupa wedang jahe meski hanya dihadiri oleh sepertiga anggota dan ronde. Aneka penganan mulai dari timus, jagung rombongan. Selebihnya, ada dari mereka yang bakar, hingga singkong goreng terhampar di setiap menunggui teman mereka di rumah sakit dan sebagian tikar. Para tamu bercengkerama sembari memandangi lagi memilih beristirahat di pondok penginapan. lautan luas yang batas ujungnya tertutup langit gelap.

“Ndak main gamelan, Kang?” tiba-tiba Pak Kadus “Ini namanya balok,” Pak Kadus menerangkan sudah berdiri di belakang Bapak. nama makanan di dalam piring di depan para tamu.

“Sudah cukup ada Mas Sutar main rebab. “Kayu, dong Pak?” canda seorang tamu yang Gesekannya halus menyayat hati. Lihat itu, turis-turis sudah memutih rambutnya. terus memotret dia,” tunjuk Bapak kepada pemain alat “Nah, kalau yang itu adalah manggleng. Sama-

musik gesek tradisional yang bersila.

sama kami buat dari bahan singkong.”

“Kita di sini saja. Bantu pak polisi mengawasi

“Kalau di daerah saya, ini sebutannya balung

tempat ini,” bisik Bapak. Pak Kadus mengangguk. Dia

kethek!” sahut seorang ibu di samping Pak Kadus.

tahu persis, di posisi mana saja polisi-polisi berpakaian

preman itu menyebar. Ada yang pura-pura menjadi “Inggih leres, Bu. Di Solo sebutannya balung

tukang parkir, penjual ronde, hingga seolah pasangan kethek dengan potongan yang tebal dan lebih keras,”

pengantin baru yang duduk mesra di pantai. tutur Pak Kadus.

128 BAB 10 | Luluh Lantak Layur Tetaplah Berlayar 129

Duaar! Blaar!

Tiba-tiba terdengar letupan keras dari arah

belakang tempat para tamu duduk bersila. Mata

mereka terbuka lebar saat melihat kobaran api yang

berasal dari panggangan ikan. Api menjilat-jilat

langit dengan cepat. Para ibu dan remaja yang sibuk

membakar ikan berlarian menjauh sambil menjerit

ngeri.

“Cepat padamkan!” Teriak Pak Kadus tanpa bisa

menutupi kepanikannya. Api mulai menyambar atap

peneduh yang terbuat dari daun kelapa kering.

Cepat Bapak mengambil jeriken air di dekatnya.

Jeriken itu disiapkan untuk cuci tangan para tamu usai

menikmati ikan bakar.

Secepat kilat, Bapak membuka tutup jeriken dan

sekuat tenaga menumpahkan isinya ke arah api yang

berkobar. Namun ….

Blaar!! Blaar!!

Api justru mengamuk sejadi-jadinya.

Beberapa detik saja, peneduh itu ludes

dimakan api. Terus merembet ke warung

Yu Semi, warung sebelahnya … dan terus perahu tertambat! Satu! Dua! Tiga! Hingga lima merembet tanpa bisa dicegah. Api terus perahu nelayan dilalap si jago merah.

menjalar dibantu embusan angin Bapak bergidik. Tangannya gemetar. Jeriken di malam yang bertiup kencang. tangannya terjatuh. Ada bau aneh. Menyambar layar “Hoi!! Siapa yang sengaja menukar isi jeriken air

ini dengan minyak?”

 

130 BAB 10 | Luluh Lantak Layur Tetaplah Berlayar 131

! !'""

 

Kelam Luka Mendalam

 

#9G5AbG5D;A5bL5GJD;bM5D;bF5I5

I9G89D;5GbH9H9A5B=Ub0J5G5DM5b69G58JbA9G5Hb89D;5Db

I5D;=HbC9B9D;A=D;b85G=b4Jb09C=U

^%JHI=bXUb&5D7JGbH9CJ5b=H=bL5GJD;AJUb&5D7JGY̲b

.9C=B=AbL5GJD;b=IJbI9G8J8JAb8=bF5H=Gb89D;5Db

A5A=bC9D?9?5AbA9bH5D5bA9bC5G=bH9EB5

F=?5A5DbG9N9A=Ub0EGEIbC5I5bF9G9CFJ5Db=IJbC9D8585Ab

I5?5CbC9C5D85D;bH9A9B=B=D;bI9G8EGED;bEB9

5C5G5

69GI5D;;JD;b?5L56Ub&5GJHb585bEG5D;b

M5D;bC9D8=G=A5DbL5GJD;AJbB5;=Y̲

*5A=[B5A=b85DbF9G9CFJ5DbC9C=B=

C9D?5J<=bF9G9CFJ5DbM5D;b6=5H5DM5b

CJG5

6=H=AUb D5A[5D5AbC5B5

bergeming membuat lingkaran di sekeliling. Menanti Alun berjongkok tak jauh dari tempat itu. tingkah berikutnya dari Yu Semi. Bersembunyi di balik kotak penyimpanan ikan.

Wajahnya pucat pasi. Lengannya seperti bocor

Mobil-mobil polisi masih bertebaran di beberapa

dan keringat membasahinya. Dia benamkan topi

sudut Pantai Tambaksegaran berselang-seling dengan

ke kepalanya seolah dengan cara itu, dia semakin

dua mobil pemadam kebakaran. Pita kuning garis

tersembunyi. Terbayang di pikiran Alun akan nasib

polisi ditarik dan dipasang dari sudut ke sudut pantai,

Layur. Dimana kamu, Layur? Semoga kamu aman.

melambai-lambai tak peduli dengan kekalutan warga

Penduduk mencarimu sambil mengacungkan kayu.

Dusun Prau yang tidak menyangka bakal terjadi

kebakaran hebat di tempat mereka. Juragan perahu berjalan paling depan diikuti

beberapa pemuda dengan mengacungkan pentungan

“Perahuku harus diganti! Harus diganti! Sekarang!”

kayu. Alun buru-buru mengendap-endap mencari

pekik Kasno juragan perahu di dusun itu. Lima perahu

seseorang yang sekilas dilihatnya ada di dekat

yang sudah menjadi arang di pantai itu adalah

warung Yu Semi beberapa menit lalu.

miliknya. Jelaga menari-nari di atas reruntuhan

perahu bersama angin Laut Selatan yang bertiup “Pak Kadus! Pak Kadus!” kencang.

Teriakan lelaki itu terus terdengar, nyaring

memancing amarah warga dusun. Mata mereka liar

mencari sosok yang telah membuat api berkobar di

dusun itu. Siapa lagi orang yang mereka cari kalau

bukan … Bapak. Mereka mencari Layur juga.

“Kita sudah dibodohi anak perempuan ingusan

itu. Kalau saja kita tidak aneh-aneh meninggalkan

pekerjaan turun-temurun sebagai nelayan, kita ndak

celaka seperti sekarang.” Juragan perahu semakin

keras berbicara. Pemuda-pemuda di sekelilingnya

seperti dipompa amarahnya. Mereka mengambil

batang-batang kayu dan menggenggamnya kuat-

kuat. Seolah ada musuh bersama yang harus dilumat.

 

134 BAB 11 | Kelam Luka Mendalam Layur Tetaplah Berlayar 135

Lelaki tua yang sedang menyelamatkan beberapa Pak Kadus tersentak. Benar! Kemana anak itu dan jaring dari percik-percik api itu menoleh cepat saat bapaknya? Apakah keduanya sedang bersembunyi, dipanggil. atau ….

Alun tak sempat menjelaskan lagi. Dia tarik Alun bangkit sambil mengibas-ibaskan celananya tangan kepala dusunnya itu ke arah tengah pantai. yang berbalut pasir. Tiba-tiba, dia melihat suatu Persis menghadang rombongan penduduk yang benda yang sangat tidak asing baginya. Teronggok di dipimpin oleh Juragan Perahu. Dengan gemetar, Pak samping pandan pantai. Sepasang benda milik Layur!

Kadus membentangkan kedua tangannya. Nyali lelaki

itu memang tak sekeras batu padas.

“Sabar … Bapak-Bapak. Jangan ada kekerasan

di dusun kita. Semua bisa kita selesaikan,” bujuk Pak

Sebelumnya, Bapak sudah lari. Tidak, ia tidak lari sendiri.

Kadus.

“Layur, cepat kita menyingkir!” Bapak berteriak

Juragan Perahu tak memandang pemimpinnya

dengan panik. Jeriken penyebab kebakaran sudah

itu. Ia terus melangkah gagah dan saat sudah sejarak

dia lempar jauh. Hal yang dia pikirkan adalah

satu lengan, ditolaknya Pak Kadus dengan sekali

keselamatan putri semata wayangnya. Tak boleh ada

hentak. Alun buru-buru menahan tubuh Pak Kadus

setitik luka di tubuh Layur andai warga mengamuk.

yang terhuyung-huyung. Namun, keduanya malah

terjerembab, mencium pasir lembab. Bapak sigap menggendong Layur dan

membawanya lari saat itu. Saat itu, penduduk

“Buuurp … Burp!” Pak Kadus dengan kesal

sedang panik karena api menjilat-jilat apa saja tanpa

menghapus pasir yang menempel di mulutnya.

terlewat. Mereka berlarian mencari air sebagaimana

“Juragan Perahu asem! Awas kamu. Ra urus. Ndak tadi Bapak pun mengambil jeriken yang malah berisi punya sopan santun.” Pak Kadus mencolek Alun. “Lebih minyak. baik kamu menyingkir. Orang-orang ndak waras itu Bapak lincah membopong Layur dan terus

bisa mencelakai siapa pun yang menghalangi niat

berlari di antara warung-warung dan perahu yang

kalap mereka.”

masih utuh. Tubuh Layur terguncang-guncang seiring

“Saya harus mencari Layur, Pak Kadus. Dia ndak langkah cepat Bapak. Ini bukan timangan penuh mungkin bisa lari kalau diamuk Juragan Perahu dan kasih yang masih diingat kuat oleh Layur. Ini juga orang-orang itu.” bukan goyangan perahu yang semasa kecil menjadi

 

136 BAB 11 | Kelam Luka Mendalam Layur Tetaplah Berlayar 137 keseharian Layur melewati sore bersama Bapak di Pelukan itu pun lepas. Bapak mengendap-endap laguna. Layur takut, ya Allah! Layur takut. dan berjalan memutar agar tidak ada orang yang tahu ada Layur di situ. Sejarak lima puluh langkah,

“Sabar ya, Nduk. Kamu pasti kuat. Kita pasti

Bapak berdiri tegak. Mudah bagi warga dusun

selamat. Kita pasti temukan tempat aman,” Bapak lirih

untuk melihat sosok pria itu. Mereka menghambur.

berkata pada dirinya sendiri.

Mengepung. Mempererat genggaman pada kayu

Napas Bapak terdengar seperti dengus kelelahan. yang mereka bawa. Bukan hal mudah untuk berlari menunduk sambil Byur!

membopong remaja sebesar Layur. Bapak tak mau

menyerah hingga ia menemukan warung kosong yang “Kapok, kamu!” lama tidak didatangi orang. Warung tak berpintu, Air amis bekas rendaman ikan asin disiramkan

tetapi untungnya cukup rapat tertutup dinding

oleh Broto, salah satu anak buah Juragan Perahu,

bambu. Dengan hati-hati, dia dudukkan Layur di atas

ke wajah Bapak. Bapak hanya memalingkan wajah

pasir. Lututnya bergetar menahan lelah.

sambil memejamkan mata. Tak ada yang menjamin

“Kamu aman di sini asalkan tidak bersuara dan bahwa air itu tak mengandung bahan yang tidak keluar.” Bapak menggunakan dua ibu jarinya membahayakan mata. Sisik-sisik ikan menempel untuk menghapus air mata Layur. Dia sibakkan poni di wajah, leher, dan sekujur badan Bapak. Semakin putrinya itu ke belakang untuk menghapus keringat Bapak terlihat nelangsa, semakin beringas sorot mata yang membanjir dari kepala. si penyiram.

Layur mencengkeram erat lengan Bapak. “Kenapa kamu diam?” bentak Juragan Perahu.

“Mana tanggung jawabmu? Ini semua salahmu! Salah

“Bapak mau kemana? Aku takut.”

anakmu juga.”

Bapak menggeleng. “Tidak akan Bapak biarkan

Seorang lelaki lain bernama Jarot merangsek

ada satu orang pun mendekati persembunyianmu ini.”

maju. Ia pernah ditegur oleh Bapak saat hendak

Layur ganti menggeleng. “Bukan itu. Layur takut mencuri jaring yang sedang dijemur. Kali ini ia Bapak diamuk oleh penduduk. Bapak di sini saja.” mendapat kesempatan untuk melampiaskan sakit “Layur tahu, kita tidak pernah lari dari tanggung hatinya. Jarot merangsek hendak mengayunkan jawab.” batang kayu ke tengkuk Bapak, tetapi warga lainnya

mencegah. Tak urung, Jarot masih mendapat

Layur memeluk erat Bapak. Dengan tangan

kesempatan untuk mendorong Bapak dari belakang.

bergetar, Bapak membalas pelukan itu.

 

138 BAB 11 | Kelam Luka Mendalam Layur Tetaplah Berlayar 139

Bapak terhuyung dan sebelum tubuhnya “Jangan pernah mengancam aku! Jangan membentur pasir pantai, Jarot menjegal kaki Bapak. pernah berpikir mau mencelakai Layur anakku!” Bibir Orangtua Layur itu pun terguling dua kali disambut kering Bapak bergetar seperti gerak gergaji hendak tepuk tangan dan makian beruntun. Lengkap sudah membelah kayu. hinaan yang diterima Bapak. Badan amis tersiram air Tak disangka-sangka, dari arah belakang, Broto

kotor, sisik-sisik ikan melekat di tubuhnya, ditambah

mendekat dan mengayunkan tinju ke arah rahang

pasir yang kini membungkus wajah dan seluruh

Bapak. Sebelum tinju mematahkan rahang orangtua

tubuhnya.

Layur itu, satu tangan kurus menahannya dengan

“Kita usir saja orang ini dari dusun kita!” teriak sigap. Broto untuk memancing kemarahan penduduk.

“Tungguuu! Jangan mengumbar emosi!”

Juragan Perahu melotot dan menendang betis

Broto. “Enak saja! Kamu pengin dia pergi dan lari

dari tanggung jawab. Kamu hitung, berapa banyak

perahuku yang dilalap api? Hituuung!”

Nyali Broto menciut dibentak juragannya itu. Ia

mundur dan ngumpet di belakang penduduk lainnya.

“Biang keladi semua sial kita bukan disebabkan

oleh orang ini. Tapi, anaknya! Iya anaknya. Itu yang

harus kita bereskan.” Suara Jarot menggelegar.

Tangannya lurus menuding Bapak. Mendengar itu,

Bapak tidak terima, ia bangkit hendak menantang

Jarot. Namun, lagi-lagi ada kaki menjegalnya. Kali ini

kaki Juragan Perahu.

Bapak terhuyung, tetapi tidak sampai terjatuh.

Dengan sorot mata tajam tanpa berkedip, Bapak

mengancam Jarot. Tangan kanannya terkepal

sedangkan tangan kirinya mencengkeram dengan

kuat kerah baju Jarot.

 

140 BAB 11 | Kelam Luka Mendalam Layur Tetaplah Berlayar 141