Musuh Mendekat
106 BAB 8 | Sorot Kamera Layur Tetaplah Berlayar 107 “Jangan dilap. Ditepuk-tepuk saja pakai sapu “Jangan lupa, ajak anak-anak itu berfoto dulu, tangan. Biar bedaknya ndak hilang!” Yu Semi sibuk Alun. Sebelum muka mereka keringatan dan merah menghilangkan keringat Layur menggunakan sapu seperti kepiting!” teriak Layur. tangan. Riasan di wajah Layur siang itu membuatnya “Bereeees!”
tampak cantik melebihi hari-hari biasanya.
Beres? Untunglah semua urusan sudah beres.
“Anak-anak sudah siap menari?” tanya Layur gelisah.
Yu Semi jadi andalan Layur untuk urusan keperluan
Alun mengacungkan kedua jempolnya. “Aman! makan para tamu. Semua menu sejak sarapan, Semua sudah dandan dan membawa jaran kepang. makan siang, makan malam, hingga camilan sudah Cuma Si Azam yang dari tadi bolak-balik pipis. Dia dia siapkan dengan sangat baik. Bahkan, perempuan grogi.” itu sangat gesit untuk mengurusi atraksi tarian penyambut tamu.
Layur tersenyum tipis. Hatinya berbunga-bunga
hari itu. Separuh warga dusun mendukungnya “Besok, Bapak tidak bisa nabuh kendang?” saat diminta menyambut rombongan turis dari Layur ingat perbincangannya dengan Bapak
Jakarta. Mereka sejak subuh sudah menyapu jalanan
kemarin siang.
dan merapikan halaman rumah masing-masing.
Terutama, enam rumah yang akan dipakai sebagai «## ヲ#エ ;# #ヲ ›F ヲ ;# #ヲ m# イMゥ#
pondok penginapan. “Tapi, akan seru kalau pas tamu turun dari bus,
Sepuluh anak usia sekolah dasar berdandan dan ada gending-gending yang menyambut mereka,”
berkumis sambil memegang jaran kepang masing- Layur beralasan sambil menahan kecewa. masing. Itu salah satu tarian khas di Dusun Prau. Bapak menggeleng. Layur melengos. Sementara itu, beberapa ibu sudah menyiapkan es Beruntung, Yu Semi bergerak cepat dengan cara
kelapa muda lengkap dengan sirup merah penggoda
mengumpulkan beberapa anak untuk menari jaran
selera.
kepang.
“Pastikan, kamera sama ponsel kamu sudah kamu
“Rasah kecewa, Layur. Pakai tarian anak-
isi baterainya!” kesal Layur dia arahkan kepada Alun.
anak saja. Kan sama-sama ramai,” bujuk Yu Semi
“Jangan terulang lagi kejadian seperti minggu lalu.
menghibur Layur. Padahal, Yu Semi pun berharap dia
Baru dipakai motret sebentar sudah minta di-charge.”
bisa menari dengan iringan kendang yang ditabuh
Alun membalas dengan tawa renyah dan Bapak. mengacungkan dua jempol tangannya.
108 BAB 9 | Musuh Mendekat Layur Tetaplah Berlayar 109
“Jelek, Yu. Mosok pakai musik rekaman,” keluh Layur. ceria mereka memamerkan senyum lebar. Hampir semua wisatawan mengeluarkan kamera dan ponsel
“Ora opo-opo. Daripada ndak ada musiknya.”
untuk mengabadikan anak-anak yang menari dengan
Layur tersentak dari lamunannya ketika Mas tangkas. Terselip beberapa wajah bule di antara para Naryo berteriak sambil melambaikan tangan tinggi- tamu itu. tinggi. “Tamunya datang! Bus sudah kelihatan. Ayo siap-siap!” Hook yaaa! Hok yaa!
Debu mengepul di kejauhan dan makin lama Beberapa turis bahkan tanpa malu ikut menari makin tampak iring-iringan tiga bus mewah sehingga menambah meriah suasana penyambutan
berwarna biru mendekati ujung Dusun Prau. turis terbanyak yang datang di Dusun Prau. Acara
penyambutan itu pun berlangsung lancar.
“Tamunya pasti orang kaya,” bisik Mas Naryo
sambil menyenggol Alun. “Monggo, Bapak dan Ibu untuk mencicipi es kelapa muda. Kami sudah sediakan hidangan pelepas
Alun mengangguk dua kali. “Mereka bos-bos dari
dahaga,” sambut Layur penuh keramahan.
perusahaan minyak.”
Yu Semi dan beberapa ibu warga Dusun Prau
“Pertamina?”
mengantar para wisatawan menuju warung-warung
“Bukan, perusahaan minyak luar negeri!” berdinding bambu di tepi Pantai Tambaksegaran. Es kelapa muda, cenil, dan jenang sumsum menjadi menu
Mas Naryo berdecak beberapa kali.
yang membuat mereka terus-menerus mengarahkan
“Internet memang edan, ya. Orang bisa percaya kamera untuk memotret makanan unik itu. hanya lewat foto dan video yang kita kirimkan,”
Pak Kadus tidak menyia-nyiakan kesempatan
komentar Mas Naryo.
itu untuk memperkenalkan seluruh kekayaan
“Ra sah dipikir dalem-dalem, Mas. Buruan bantu wisata di sekitar Pantai Tambaksegaran. Layur para pemuda itu untuk ngatur parkir bus. Mereka mendampinginya dan sesekali menerjemahkan ke masih kagok, biasanya cuma ngatur parkir sepeda,” dalam Bahasa Inggris. sahut Alun.
“Kamu jangan jauh-jauh, bantu saya kalau-kalau
Gamelan yang disetel menggunakan kaset dan ada yang casciscus pakai Bahasa Inggris,” pinta Pak pengeras suara bergema nyaring mengiringi para Kadus. Tentu saja, Layur sangat bangga mendapat turis yang menuruni tangga bus. Satu per satu wajah kesempatan menggunakan bahasa asing.
110 BAB 9 | Musuh Mendekat Layur Tetaplah Berlayar 111
Saat semua rencana terlihat lancar, Layur
mengajak Alun untuk menengok penginapan-
penginapan yang disiapkan oleh penduduk.
Layur baru bisa menyandarkan punggungnya saat
“Boncengi aku ke rumah Bu Narsih. Aku mau cek
magrib ketika tamu-tamunya itu masuk pondok untuk
rumahnya sudah siap atau belum,” pinta Layur.
membersihkan badan. Layur belum pulang ke rumah,
Dengan cekatan, Alun mengambil sepeda dan dia memilih beristirahat di warung Yu Semi. Dilihatnya membawa Layur menuju rumah Bu Narsih. pemilik warung itu datang dari kejauhan membawa
Ternyata, hanya ada Dini, anak semata beberapa batang daun pisang. wayangnya yang menunggu di rumah. “Daunnya buat bikin pincuk?” tanya Layur.
“Mengapa ibumu tidak jaga-jaga di sini?” tegur “Iya, pengganti piring. Besok menunya gudangan Layur. Nada kecewa terlontar spontan. dan sayur urap. Sarapan sehat pakai daun-daunan.
“Kan tadi aku udah jelasin. Ibu keluar sebentar cari Semoga tamunya suka,” tutur Yu Semi. cengkih dan daun sirih. Kamu juga yang menyuruh “Semoga ya, Yu. Anak-anak yang nari juga girang Ibu menaruh itu untuk mengusir semut di kamar,” banget. Mereka dikasih duit oleh para turis,” ungkap Dini tidak terima kalau ibunya disalahkan. “Tadi, Mas Layur. Naryo juga sudah mengecek ke sini. Semua aman dan “Wah, kok aku enggak dikasih?” sela Yu Semi pura-
komplet, kata dia.”
pura cemberut.
Layur pun beranjak memeriksa kamar mandi,
“Kan Yu Semi dikasih senyum manis sama
ruang tamu, dapur, dan kamar tidur di rumah Bu
bulenya!” goda Layur yang dibalas dengan tawa keras
Narsih. Dia lega. Semua tempat sudah siap dan rapi
Yu Semi.
serta bersih.
“Ngomong-omong, bapakmu kok ndak kelihatan
“Makasih ya Dini, cantik. Aku pindah ke
to? Apa pas banyak tamu begini, dia tetap cari duit?
penginapan sebelah. Kamu jangan cemberut gitu.
Kok aneh. Tamu malah ditinggal pergi,” komentar Yu
Nanti tamunya jadi takut,” canda Layur untuk
Semi sambil bersungut-sungut.
berpamitan. Masih ada lima rumah penginapan lagi
yang harus dia tengok. Layur mencolek wanita di sebelahnya itu.
Dini melengos. Dia tidak suka dengan Layur yang “Kok Yu Semi makin sering tanya soal bapakku to?
dia anggap tingkahnya sok hebat. Kenapa, Yu?”
112 BAB 9 | Musuh Mendekat Layur Tetaplah Berlayar 113
Yu Semi melengos tapi terlanjur terlihat pipinya
memerah. “Ya ndak gitu. Yu Semi cuma heran, kok
bapakmu tega.”
Matahari terbit di sisi timur Pantai Tambaksegaran.
Layur menghela dalam hati. Bapak memang
Deretan kereta kuda berjajar menanti tamu-tamu
paling tega bikin kecewa.
menaikinya dengan wajah cerah. Warna-warni rumbai
“Ciloko! Celaka!” tiba-tiba Pak Kadus sudah ada di kepala kuda terayun-ayun mengikuti kelincahan di depan mereka berdua. Wajahnya gundah tampak kuda menapaki pasir. Sebagian turis memilih menaiki tidak senang. kuda tanpa kereta. Alun sibuk mengabadikan keseruan
“Kenapa, Pak?” tanya Yu Semi ikut panik. Layur itu untuk segera dia tampilkan di laman media pun penasaran. sosialnya.
“Kelabang. Ada kelabang di kasur tamu. Mereka Beruntung, semua tamu bertahan menginap di menjerit dan mengira itu kalajengking.” Dusun Prau dan tak satu pun yang ngotot pindah
hotel. Bujukan dan jaminan dari ketua rombongan
Ndak mungkin, tadi aku sudah cek lagi setelah
bahwa semua kamar sudah bersih membuat rasa
Mas Naryo mengecek semuanya, pikir Layur.
takut para wisatawan luntur. Lebih-lebih keramahan
“Padahal, Naryo sudah saya suruh pastikan tuan rumah dan camilan yang berlimpah terus semua kamar termasuk toilet harus bersih. Satu semut mengalir sampai malam. pun tak boleh ada di situ!” balas Yu Semi geram.
“Mas Naryo, semua persiapan di gua sudah
“Naryo sudah yakin kalau semua pondokan bersih. oke, to?” tanya Layur memastikan. Pemuda yang Aneh banget. Kok bisa ada kelabang di tiga pondokan.” diangkat sebagai pengelola wisata susur gua itu pun mengangkat jempol. Semua ban apung sudah dia cek
“Tiga??” Layur dan Yu Semi teriak berbarengan.
dan diisi angin hingga penuh. Demikian pula rambu-
“Lantas, para tamu gimana?” tanya Layur cemas. rambu dari bendera kain sudah terpasang di pinggir-
“Mereka masih menunggu di teras dan depan pinggir sungai. Anak buah Naryo pun sudah bersiap di rumah. Banyak yang ingin pindah hotel di kota depan gua sejak subuh. Yogyakarta. Tapi, mereka sedang dibujuk agar tetap “Musala juga sudah siap dipakai, kok. Air untuk tinggal di sini,” tutur Pak Kades dengan panik. wudu dan bersih-bersih badan setelah mereka susur Layur pun tak kalah paniknya. sungai pun melimpah. Kang Wasis meminjamkan mesin pompa,” tutur Naryo.
114 BAB 9 | Musuh Mendekat Layur Tetaplah Berlayar 115

“Mantap, Mas. Pastikan juga semua minuman “Buruan kita ke sana, Mas. untuk tamu sebanyak tiga bus cukup ya. Tahu sendiri Ayo!” kan, daerah sini puanas pol!” sahut Layur.
Kemarin ada kelabang di
“Eh, wajahmu kayak ngantuk gitu?” selidik Mas penginapan, sekarang tahu-Naryo. tahu ada ular di sekitar gua.
Ada apa ini?
Layur berusaha tersenyum. “Iya, Mas. Semalam
mumet dan dagdigdug mikir kamar para tamu. Aku
ndak bisa tidur. Khawatir ada binatang lagi yang bikin
kaget mereka. Untung, sampai pagi ndak ada yang
laporan aneh-aneh lagi.”
“Eh, layur mau ikut ke gua? Bentar lagi saya mau
ngecek. Mendahului para tamu ini yang mau sarapan
dulu,” tanya Mas Naryo.
Layur senang. Tentu saja dia mau. Mending
membonceng Mas Naryo pakai motor daripada
bareng Alun dengan sepedanya.
Trrrr … trrr!
Ponsel Naryo bergetar. Buru-buru dia angkat
dan dia berbicara serius. Bahkan tegang. Berkali-
kali dia berbicara dengan nada bicara tinggi. Layur
イMエ#エfヲ# # # #F# M # #エf rF#ヲ >M M
“Ada ular di depan gua!” bisik Naryo kepada Layur
dengan muka tegang.
“Katamu aman, Mas?” Layur tak habis mengerti.
“Aku juga ndak ngerti. Sudah seminggu tempat itu
kami bersihkan. Anehnya, ular yang ditangkap anak
buahku adalah ular sawah. Itu bukan jenis ular yang
biasa ada di bukit batu gamping.”
116 BAB 9 | Musuh Mendekat Layur Tetaplah Berlayar 117
