BAB 8

 

Sorot Kamera

 

Tiga bulan kemudian.

“Bapak tidak menemani aku wawancara?” Layur

mencegat bapaknya di depan pintu rumah. Hari

masih terlalu pagi. Ayam masih saling sahut dengan

kokoknya, dan matahari pun malas-malasan untuk

menampakkan diri.

“Bapakmu harus melaut, Nduk. Seminggu ini, hasil

tangkapan Bapak sangat sedikit. Bapak harus cari

makan.” Bapak bersabar menunggu Layur beringsut

hingga lelaki dengan kulit kehitaman dibakar

matahari itu bisa melangkah ke luar rumah.

Layur mengikuti langkah bapaknya dari belakang.

“Wartawan pinginnya mewawancarai Bapak juga.

Mereka pingin dengar cara Bapak mengasuh aku.

Mereka tahu, Bapak orangtua tunggal.”

Bapak tidak mengucap kata. Dia meraih jaring

dan caping yang tergantung di atas teritis rumah.

“Bapak pulang nanti sore? Mungkin Layur ada

di luar sampai magrib atau malam.” Nada bicara itu

datar. Kecewa.

Bapak menganggukkan kepala.

 

90 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Bapak tersenyum seperti terpaksa. Mulutnya

pahit, selain karena tadi tidak ada kopi di meja, juga

karena kata-kata Kang Wasis ada benarnya.

Bapak bertelanjang kaki menyusuri pasir pantai yang “Ribut lagi sama anak wedok, ya Kang?” tebak basah. Sandal dari ban bekas dia tenteng. Jaring dia Kang Wasis. selempangkan di pundak kiri. Kepalanya tertunduk, Bapak menoleh. “Anakku bukan anak-anak lagi,

setengahnya tertutup caping. Sudah sebulan ini,

Kang. Maunya banyak. Kadang keminter. Sok pinter.”

Layur beberapa kali lupa dengan kebiasaannya

menyiapkan bekal makan untuk dibawa bapaknya Kang Wasis menepuk Bapak. “Sst ... jangan menyebut

melaut. Untunglah, Kang Wasis pasangan melautnya anakmu sok pinter. Dia memang pintar. Paling pintar di

dusun ini. Kakang harus bangga. Lha memang kita ini

tahu hal itu sehingga membawa bekal lebih banyak.

orang-orang dari angkatan bodo, kok. Eh, nyuwun sewu.

Layur memang semakin jarang tinggal di rumah. Maaf Kang,” canda Kang Wasis. Bahkan, terkadang ia sudah keluar rumah sebelum Bapak mendesah panjang. “Aku khawatir. Anakku itu

langit benar-benar terang. Ia sibuk bersama Alun, ke

keblinger. Salah jalan. Kepintaran yang dia punya malah

sana dan kemari memotret dan menyiapkan rencana

membuat bubrah, rusak kehidupan nelayan yang sudah

dusun wisata. Sepulang dari sekolah, Layur masih kita jalani sejak nenek moyang.” bergelut dengan kesibukannya hingga lepas magrib.

“Amit-amit, Kang. Jangan mikir yang buruk tentang

“Kalau mau melaut, wajah tidak boleh ditekuk- anakmu. Kalau kita tidak bisa mengikuti mereka, tekuk begitu, Kang. Nanti yang jaga laut menolak setidaknya kita bisa mendorong agar mereka semakin

kedatangan kita,” goda Kang Wasis. Setelah maju. Wis ah, yuk kita dorong perahu!” sahut Kang Wasis.

meletakkan jaring dan dayung ke dalam perahu,

berdua mereka mendorong perahu itu hingga

menyatu dengan laut.

“Apa wajahku kelihatan lagi enggak senang, to,

“Kamu telat!” Alun terlihat kesal. Sementara beberapa

Kang?” Bapak berusaha untuk tersenyum.

anggota kru televisi sudah menunggu Layur dengan

“Dibandingkan saat Kakang nabuh kendang, ya tidak sabar. Pagi itu, mereka berniat mengabadikan wajah yang ini pol jeleknya, hahaha!” suasana pagi di Dusun Prau. Terlambat sebentar saja,

indahnya cahaya matahari pagi sudah menghilang.

 

92 BAB 8 | Sorot Kamera Layur Tetaplah Berlayar 93

Dengan kelincahan yang dia miliki, Layur

memenuhi beberapa adegan yang diminta oleh

kru televisi pembuat program acara perjalanan itu.

Layur berjalan beberapa langkah menggunakan kruk

dengan latar belakang Bukit Menara dan matahari

pagi berwarna merah kekuningan dengan kabut tipis

menghalangi.

“Oke … take dua! Diulang ya, Dik. Tolong jalan lagi

tiga langkah dan langsung menyapa ibu penjual peyek

jingking! Siap?” produser acara itu mengulang lagi

perintahnya. “Action!”

 

94 BAB 8 | Sorot Kamera Layur Tetaplah Berlayar 95

Rambut Layur melambai membentuk siluet

yang amat indah. Kamera bergerak lincah mengitari

Layur dari depan, memutar, dan merekam adegan

keakraban gadis itu dengan Yu Semi yang diminta Sabtu, 10.05 bergaya dengan menggendong tenggok atau bakul “Ndak usah dibantu, aku bisa duduk sendiri!” Layur dari anyaman bambu. Dari kejauhan, Alun mengagumi menepis tangan Alun yang hendak membantunya kenampakan itu. Sampai dia terlupa dengan janjinya duduk di dingklik. Dengan kesusahan sambil untuk banyak membuat potret di pagi itu. berpegangan pada tiang rumah, Layur pun bisa “Sst, sudah waktunya berangkat ke sekolah,” bisik duduk. Dia raih pisau dan sebatang singkong. Dengan Yu Semi kepada gadis di sampingnya. Pengambilan cekatan, tangannya mengupas singkong itu, lantas gambar baru saja usai. “Biar Alun mengantar kamu membelahnya dan menaruh begitu saja di lantai. Dua pakai sepeda daripada telat.” orang ibu warga dusun dengan gesit juga melakukan

hal sama. Mereka sedang membuat singkong kering

Layur mengangguk dua kali, entah mengapa,

yang disebut gaplek.

Layur semakin senang bersepeda dengan teman laki-

lakinya itu. “Eh, kamu rekam tadi, ya?” Layur mendelik. Dia

tidak suka kalau Alun mengabadikan dirinya apalagi

“Nanti ganti seragam di sekolah saja. Jangan lupa

dengan cara diam-diam.

cuci muka dulu.” Yu Semi terdiam dan mengamati

wajah Layur dengan pandangan tajam. “Kamu Alun tersenyum nakal. “Ini lagi bikin konten berantem lagi dengan bapakmu, ya?” cara membuat gaplek. Lumayan, video-video kita di Youtube banyak banget yang menonton.” Alun pun

Layur memilih untuk mengalihkan pembicaraan.

mengarahkan kedua ibu untuk menata potongan

“Yu, jangan lupa, habis ini mereka mau syuting lagi di

singkong itu ke atas tampah dan meminta mereka

warung. Mereka mau mendokumentasikan cara bikin

beraksi untuk meletakkannya di atas genting. Butuh

walang goreng!”

waktu sekitar tujuh hingga sepuluh hari agar singkong

Layur pun pergi ke arah sepeda Alun diiringi itu betul-betul kering dan siap diolah menjadi gatot gelengan kepala Yu Semi. Di kejauhan, beberapa mobil atau tiwul. wisatawan berderet di tepian pantai. Hari demi hari, “Katamu, konten kita di Facebook banyak yang

jumlah pengunjung Pantai Tambaksegaran semakin

membenci juga ya?” tanya Layur khawatir.

bertambah.

 

96 BAB 8 | Sorot Kamera Layur Tetaplah Berlayar 97

“Mereka disebut sebagai haters, Layur. Orang- jadi mikir, jangan-jangan memang benar Pantai orang yang sengaja bikin gaduh di media sosial.” Tambaksegaran itu jorok!”

“Mestinya kamu jangan diam saja. Apalagi kalau Alun mengambil dua gelas air putih. Satu gelas mereka menjelek-jelekkan dusun kita,” imbuh Layur. untuknya dan satu gelas lainnya dia sodorkan pada Layur.

Alun menarik satu kursi dan duduk di samping

Layur. Dia buka aplikasi Facebook di ponselnya dan “Kamu butuh minum deh,” canda Alun. Layur

diperlihatkan kepada Layur. cemberut, tetapi dia terima juga gelas itu dan dia

habiskan separuh isinya. Air es yang segar!

“Kayak gini komentar negatif mereka. Kamu baca

sendiri, deh.”

Layur dengan cepat meneliti satu demi satu

komentar di bawah setiap foto yang di-posting oleh

Alun di Facebook. Banyak komentar positif yang

memuji kualitas foto itu. Banyak juga pengunjung

Facebook itu yang menanyakan lokasi setiap foto. Di

luar itu, cemoohan pun terselip di antara komentar-

komentar itu.

Layur geram. “Mestinya kamu blokir orang-orang

kayak gini. Atau sekalian kamu semprot biar mereka

kapok dan ndak asal ngomong. Mosok, pantai kita

dibilang sebagai pantai gersang dan jorok. Emang

mereka pernah datang ke sini?” omel Layur.

“Kalem lah, Layur. Itu kan media sosial. Emang

kamu yakin kalau foto orang yang berkomentar itu

asli? Namanya beneran itu? Belum tentu. Percuma

juga meladeni mereka dengan emosi,” jawab Alun

dengan kalem.

“Kamu jangan lembek gitu dong!” sergah Layur.

“Komentar ngasal gitu bisa merugikan kita. Orang

 

98 BAB 8 | Sorot Kamera Layur Tetaplah Berlayar 99

“Tujuan kita posting foto-foto di Facebook

apa sih? Biar orang tertarik dan punya kesan baik

terhadap dusun wisata kita ‘kan?” tanya Alun.

Layur menukas. ”Ya iyalah. Emang ada tujuan Minggu, 4 sore lain?” Trrr … trrr ….! Ponsel Alun bergetar. Buru-buru anak laki-laki itu mematikan perekaman video,

Alun senang, Layur sudah bisa diajak berpikir,

melepas ponsel dari penyangga berkaki tiga, dan

tidak emosian lagi. “Bayangkan, kalau kita ribut pada

menjawab panggilan.

orang yang nulis komentar. Orang menyerang kita

dibalas dengan serangan juga. Emang itu bener? “Oh, baik …. Berapa bus? Baik. Kami siapkan. Baik, Bukannya malah bikin jelek kesan kita di mata Bu. Baik …. Terima kasih.” Alun menutup teleponnya pengunjung akun kita?” dan menoleh ke wajah Layur dengan mata berbinar-

Layur mengangguk dua kali. “Iya juga. Ngapain binar. “Yess!!!!” kita ladeni ya?” Layur kaget dan hendak menebak kabar baik apa “Nah, pinter kamu. Tanggapi aja dengan santai. yang baru saja diterima oleh temannya itu. Sore itu, Ucapkan terima kasih dan enter aja. Beres. Atau Alun sedang mengajari Layur untuk membuat akun >M?#エF#rエ \#ゥ# #ヲ Facebook. rm F# r #F# ヲゥ# r rヲ# r FMエf#エ

membalas komentar negatif, mending aku bikin Tak sabar Alun untuk menceritakan isi konten baru untuk menjelaskannya. Seperti video pembicaraan di telepon barusan. gaplek tadi.”

“Rombongan turis dari Jakarta jadi datang!

Layur curiga. “Video yang aku lagi potong- Yes! Yes! Tiga bus lagi.” Alun melonjak kegirangan.

potong singkong tadi?” Layur pun tak menutupi rasa senangnya. Ia menjerit

Alun mengangguk. “Kemarin ada komentar jelek gembira berkali-kali. tentang makanan khas daerah kita. Dia mencemooh Ini kali pertama ada rombongan besar datang tiwul dan gaplek sebagai makanan sampah cocoknya khusus untuk mengunjungi Pantai Tambaksegaran.

buat makanan ternak. Nah, daripada aku ributin soal Ternyata, tidak sia-sia Alun, Layur, dibantu Pak itu, mending aku buat video keren tadi. Biar dia tahu, kepala dusun, dan Mas Naryo bahu membahu gaplek juga makanan untuk orang cantik. Kayak kamu.” menyiapkan dusun wisata di Dusun Prau.

“Aluuuun!”

 

100 BAB 8 | Sorot Kamera Layur Tetaplah Berlayar 101

“Mereka akan menginap di Yogyakarta atau Wajar kalau akhirnya rusak. Lagipula, ban itu dibeli sesuai rencana, menginap di rumah penduduk sini?” dalam kondisi bekas, ‘kan? Bilang aja ke Mas Naryo tanya Layur penasaran. untuk cari ban lebih banyak untuk serep!”

“Aku diminta mengirim gambar-gambar rumah

pondok di sini untuk mereka lihat. Mereka ingin

memastikan kamar mandi, kamar tidur, dapur, dan

semuanya bersih dan rapi,” sahut Alun.

Layur melangkah dengan pelan. Malam sudah

Layur meraih kedua kruknya dan berdiri. “Soal menggantikan petang. Dari lima warung ikan bakar itu, jangan khawatir. Sudah ada enam rumah di sini yang setiap hari buka, tinggal satu warung yang yang sangat siap menyambut mereka.” terang dengan lampunya. Ada rombongan dengan

dua mobil sedang menikmati makan malam di sana.

Alun menatap wajah Layur dengan serius.

Mungkin mereka tamu terakhir di malam itu.

“Layur, kamu jangan mengurusi ini sendirian. Selalu

serahkan urusan-urusan besar kepada Pak kepala “Masih di luaran, Layur?” tiba-tiba satu sapaan dusun dan Mas Naryo.” mampir di telinga Layur. Ia menoleh, ternyata Basri.

Layur tidak senang dinasihati. “Sudah kubilang, Layur balas menyapa. “Kamu baru pulang dari kamu jangan khawatir.” masjid?”

Alun tidak puas dengan jawaban Layur. “Kamu Basri mengangguk. Teman sebaya Layur itu juga belum melibatkan teman-teman kita kan? Ada setiap petang selalu mengajar anak-anak mengaji.

Vani, Basri, Petrus, Wawan, dan teman kita lainnya. Dia memang pandai membawakan diri dan Mereka bisa bantu kita menyiapkan banyak hal.” memimpin anak-anak di masjid. Sejak lama, Alun sudah menyarankan Layur untuk melibatkan Basri

Layur pura-pura tidak mendengar.

yang tempo lalu menerima bantuan laptop juga.

“Oh ya, Layur. Aku tadi terima laporan dari Mas Nanti saja, begitu jawaban Layur. Selalu. Naryo. Katanya, banyak ban untuk wisata susur “Dusun kita tambah ramai, ya Layur. Kamu

sungai yang bocor. Mas Naryo sendiri bingung

hebat. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan kasih

sebabnya,” lapor Alun.

tahu aku. Ya, siapa tahu aku bisa nolong angkat

Layur menukas cepat. “Namanya juga ban yang bangku atau tarik-tarik kabel,” canda Basri sambil sudah dipakai menyusuri sungai dua bulanan. Mana melambaikan tangan meneruskan langkah menuju nabrak batu sana sini saat dipakai mengapung. rumah.

 

102 BAB 8 | Sorot Kamera Layur Tetaplah Berlayar 103

Ya, seolah keajaiban, dusun yang dulu sudah Bapak pasti sudah di rumah, kata Layur di dalam sepi selepas magrib, kini malam lebih pendek hatinya. Harusnya aku menyiapkan makan malam

karena banyak aktivitas ekonomi berlangsung untuk Bapak. Juga bekal melaut esok hari. Layur

di sana sampai matahari tak tampak lagi. Bumi mempercepat ayunan kruknya. perkemahan di Bukit Menara pun mulai dikunjungi oleh rombongan turis maupun keluarga-keluarga

dari kota.

Tidak sedikit nelayan yang tak lagi melaut.

Mereka beralih profesi sebagai pemilik rumah

makan, menyewakan kamar untuk penginapan,

menjadi tukang parkir, hingga menyewakan

andong untuk berkeliling pantai. Sebagian lainnya

mencoba keberuntungan dengan menjual kaos

dan cinderamata yang dipasok dari pengusaha di

Yogyakarta. Bahkan, hanya orang-orang tua yang

masih bertekun untuk melaut. Sedangkan anak-anak

muda di Dusun Prau lebih suka mencari uang di atas

pasir dan air sungai bukan di atas laut.

Betapa bersyukurnya Layur karena sebentar

lagi ada rombongan dengan bus akan menjadi

rombongan terbesar yang akan menikmati wisata

di Dusun Prau. Rasanya, puncak sukses dia adalah

ketika yang datang ke Dusun Prau adalah bus-bus

besar yang berderet-deret, bukan sekadar motor

bahkan mobil.

Layur menoleh ke arah pantai. Dilihatnya perahu

Bapak sudah bersandar di sana diapit beberapa

perahu lainnya yang tak banyak.

 

104 BAB 8 | Sorot Kamera Layur Tetaplah Berlayar 105