BAB 7

 

Dunia Maya Jadikan

 

Mimpi Nyata

 

Siang tengah hari, 14.20

Layur terengah-engah. Namun, dia senang dan tak

sabar untuk menunjukkan temuannya kepada Pak

Kadus. Alun pun sigap berjalan di depan Layur untuk

memastikan temannya itu bisa melangkah memakai

kruk dengan mudah.

“Masih jauh?” tanya Pak Kadus

dengan nada penasaran.

“Dekat lagi, Pak. Di

samping batu segede kebo itu!”

sahut Alun sambil berlari-lari

kecil mendahului rombongan

warga dusun yang sedang

menaiki bukit yang sekarang

berubah nama menjadi Bukit Menara.

“Di balik belukar itu, Pak. Kiri …

kiri! Nah iya. Di situ,” kata Layur sambil

mengangkat kruk kanannya untuk menunjuk

ke depan. Sesaat, Layur sadar kalau

76 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 77 caranya kurang sopan. Dia pun segera menggunakan Serentak dua remaja itu menggeleng. Protes.

 

ibu jari kanannya untuk mengarahkan pandangan Pak

“Sebelum Pak Kadus ke sini, kami berdua sudah

Kadus.

masuk ke dalam gua. Aman, Pak …,” ujar Layur.

Pak Kadus sangat antusias. Dia melangkah

Akhirnya, Pak Kadus pun mengizinkan keduanya

dengan cepat dan menyibakkan belukar. Di

melangkah memasuki gua.

belakangnya, beberapa warga pun tak sabar ingin

melihat kenampakan yang diceritakan oleh Layur Cahaya lampu senter berpendar-pendar sejak mereka berangkat dari Dusun Prau. menciptakan pemandangan yang sangat memukau.

Layur berkali-kali mengingatkan Alun untuk memotret

Krucuk .... setiap sudut itu.

Krucuk .... “Jangan lupa, nanti kamu tampilkan foto-foto itu lewat internet!”

Terdengar gemericik air dari tempat yang baru

saja mereka datangi. Alun mengacungkan jempol. “Aman. Pasti!”

Pak Kadus dan warga terperangah. Mulut mereka Naryo, pemuda yang berjalan paling depan tiba-ternganga. tiba mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

“Stop! Jangan maju lagi. Berbahaya.”

“Astagaaaa … mengapa puluhan tahun saya

tinggal di Dusun Prau tidak menyadari kalau ada Di depan mereka, lantai gua seperti terpotong gua alam sebagus ini?” desah Pak Kadus. Persis di dengan tiba-tiba berganti dengan bibir sungai bawah depannya, terlihat gua kapur dengan stalaktit dan tanah dengan aliran air yang tenang. Pak Kadus dan stalakmit yang masih alami. Dalam remang-remang Naryo mengarahkan nyala lampu senter seturut

cahaya yang menembus ke dalam gua, terpantul aliran sungai. Tampak sungai itu berkelok-kelok landai dinding gua yang basah dan kecipak air sungai yang menuju tempat jauh di depan. Di atasnya, dinding membentur batu gamping. gua setinggi empat orang dewasa seolah membentuk

kanopi alam yang memikat.

“Siapkan senter,” perintah Pak Kadus. “Naryo,

kamu bantu ukur kedalaman gua ini menggunakan “Dari bibir gua tadi sampai pinggir sungai ini

# # j#r ゥ エ F#エ |# ヲ#ゥr#エ エff #」# Fr ゥ # sekitar enam puluh meter. Sedangkan lebar sungai ini Berbahaya kalau kalian terpeleset.” lebih kurang delapan hingga dua belas meter.” Naryo

dengan sigap menggunakan ruas-ruas telunjuknya

 

78 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 79 untuk memperkirakan lebar dan panjang sungai. Tadi, Yu Semi wanti-wanti. “Pokoknya, gatotnya

Pemuda itu memang jago membuat peta dengan dimakan dulu. Soalnya sudah terlanjur Ibu campur

memanfaatkan jemarinya sebagai skala. Aku juga dengan parutan kelapa, ya.” rエfrエ 」#Fr # 」#エ# fMソf # M M r \#エf ›# ソ ヲ# #

Di sebelahnya, Alun dan Naryo lebih memilih

Layur di dalam benaknya.

menikmati tiwul dari rantang satunya. Mereka

“Pak Kadus, mohon izin minggu depan saya akan menggunakan alas daun jati untuk menikmati mengajak tim mapala kampus saya untuk memetakan penganan berwarna kecoklatan dengan taburan gua dan sungai bawah tanah ini lebih detail lagi. parutan kelapa dan gula pasir itu. Saya yakin, bentukan alam ini cocok dijadikan wisata petualangan!” ujar Naryo dengan mata berbinar-binar.

Layur dan Alun saling berpandangan dan lantas

menepukkan kedua tangan mereka. Tos!

 

Pak Kadus membantu Layur untuk duduk

di atas rumput sejarak sepuluh langkah

di depan gua. Peluh rombongan warga

dusun itu membanjir setelah

menelusuri gua yang mereka datangi

tadi. Layur lantas membuka rantang

bersusun tiga yang mereka bawa. Yu

Semi dan beberapa ibu warga dusun

ikhlas membawakan banyak bekal

untuk rombongan itu.

Layur mencuil gatot dari salah

satu rantang itu. Sudah terbayang

gurihnya penganan berwarna

kehitaman dari gaplek atau

singkong kering itu.

 

80 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 81

Layur menggeser duduknya mendekati Pak Naryo pun menjelaskan, paralayang tak Kadus yang asyik mengobrol dengan tiga warga memerlukan pesawat terbang. Atletnya akan dusun lainnya. Dengan tangkas, Layur menceritakan melompat dari atas bukit dan memanfaatkan tiupan impiannya untuk membuat banyak objek wisata di angin untuk melayang di udara. Dusun Prau dan Pantai Tambaksegaran.

“Apa cocok tempat itu untuk terjun seperti itu?

“Selain wisata menyusuri gua yang tadi, Layur Apa tidak kurang tinggi, Naryo. Apalagi angin laut itu juga yakin Bukit Menara ini cocok sekali jadi tempat bisa ke arah mana-mana.” Pak Kadus ragu. berkemah, Pak. Kalau malam hari, pemandangan Naryo tak ciut mendengar ujaran Pak Kadus yang

langit dicampur dengan debur ombak dari bawah

pesimistis. “Pokoknya, serahkan itu pada Naryo, Pak.

sana akan menjadi hiburan yang tidak ditemukan di

Teman Naryo banyak yang jadi pengurus FASI alias

kota,” usul Layur.

Federasi Aero Sport Indonesia. Biar mereka yang

Pak Kadus mengacungkan jempol tangan ngukur-ngukur nanti!” kanannya. “Nanti, biar saya rembug bareng warga.

Layur mencolek lengan Alun yang disambut

Soalnya tempat ini tidak ada listrik, tidak ada fasilitas

dengan kerling mata sahabatnya itu. Rasanya, impian

peneduh, juga tak ada warung. Orang kalau mau salat

mereka semakin dekat.

juga butuh musala dan tempat berwudu.”

Ah benar juga, pikir Layur. Banyak hal perlu

dipersiapkan sebelum rencana ini jadi kenyataan.

“Pak Kadus, izin untuk usul,” tiba-tiba Naryo

Sekali minum, es teh manis di tangan Layur langsung

nimbrung. “Lihat bukit di sebelah sana. Bukit itu kan

tandas. Mukanya kemerahan seperti udang rebus

belum ada namanya. Saya yakin itu bisa jadi tempat

setelah setengah hari dirinya ikut mendaki Bukit Menara.

olahraga!”

“Kamu yang dibonceng kok kelihatan paling

Alun mengerutkan kening. “Olahraga apa, Mas?

capek, to Nduk?” canda Yu Semi sambil menawarkan

Panjat tebing?”

teko berisi air putih kepada Layur. Sore itu, sengaja

Naryo menggeleng. “Paralayang! Itu lho, olahraga Layur dan Alun mampir dulu di warung Yu Semi untuk terbang bebas menggunakan parasut.” melepas lelah.

“Kan di sini ndak ada lapangan terbang, Mas? “Lha kan aku makannya gatot dan tiwul, Yu.

Loncatnya gimana?” tanya Layur. Makanya gampang lemes,” sahut Layur tak mau kalah

melucu. “Beda sama tuh bocah. Tiap hari makan ayam

 

82 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 83 goreng. Jadinya kuat boncengin aku naik turun bukit “Kalau boleh, Yu Semi juga mau bantu pakai gatot pakai sepeda.” dan tiwul lagi. Pokoknya kalau kamu kumpul sama Pak

Kadus atau siapa saja untuk bahas rencana ini, Yu Semi

Alun pura-pura tak mendengar. Ia asyik membuka-

akan kirimkan satu rantang penganan buat kalian!”

buka hasil fotonya di ponsel. Ada hampir seratus

gambar dia peroleh selama mengelilingi Bukit Menara “Biasanya, kalau orang sudah kirim-kirim rantang, tadi. Nanti malam, semua foto ini mau aku taruh di pasti ada maunya!” tebak Layur menggoda. Facebook, kata Alun di dalam hati.

Yu Semi mengacak-acak rambut Layur sambil

tertawa panjang sekali.

“Apa Yu Semi juga pingin bikin pondok penginapan

seperti Bu Narsih?”

“Walah, kamu ngenyek. Meledek Yu Semi ya,”

sahut Yu Semi cepat. “Lha rumah Yu Semi saja seperti

kandang bebek gitu lho. Bukan itu!” Yu Semi beringsut.

Dia bisikkan sesuatu di telinga Layur. Alun kesal.

Mosok duduk bertiga, dua di antaranya bisik-bisik.

Yu Semi menggeser duduknya mendekati “Beres, Yu. Layur dukung seribu persen!” seru Layur.

Layur. Diraihnya tangan kanan remaja itu.

“Aku enggak dikasih tahu?” rengek Alun.

“Yu Semi orang bodo, tetapi Yu Semi tidak

“Ini urusan para perempuan!” sergah Layur yang

mau miskin seperti ini sampai mati,” katanya lirih.

dilanjutkan dengan cibiran.

“Makanya, Yu Semi mbrebes mili, meneteskan air

mata, saat mendengar kamu bilang di depan Pak

Bupati untuk membangun desa ini. Niat baikmu pasti

jadi kenyataan, Nduk. Pasti Gusti mberkahi niatmu.”

Layur mengangguk dua kali. Dipandangnya Alun serius dengan rencananya. Dengan cekatan, dia sosok perempuan yang terlihat lebih tua daripada membuat akun media sosial di laptopnya. Secara rutin usia sebenarnya itu. Perempuan yang selama ini dia memasang foto-foto hasil jepretannya di akun itu.

mengasihinya seolah menjadi pengganti ibunya Awal-awal, akun Facebook itu masih sepi pengunjung.

yang telah tiada. Alun hampir putus asa sampai kemudian dia mendapat

ide cerdik.

“Bantu Layur dengan doa, ya Yu ….”

 

84 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 85

Alun pun segera bergabung di banyak grup Risikonya, Alun dan Layur harus menyediakan Facebook terutama penyuka jalan-jalan. Di sana, dia waktu khusus untuk membalas komentar-komentar rajin berkomentar secara positif sambil menyelipkan itu. Pagi hari Alun pasang foto, siang hari dia pesan untuk mampir ke akunnya. mengecek dan menjawab setiap komentar, dan sorenya gantian Layur menjadwalkan diri untuk

“Makanya, kamu harus ngajari aku terus pakai

mengunjungi grup penyuka perjalanan.

laptop ini,” rayu Layur. “Jangan sok sibuk sebelum aku

benar-benar bisa pakai Facebook dan e-mail ya!” Hari demi hari berganti, sedikit demi sedikit, mulai terlihat beberapa mobil dan motor pengunjung

“Harusnya, aku enggak cuma ngajari kamu saja.

berderet di tepian Pantai Tambaksegaran. Sebagian

Mending bareng-bareng sama penerima bantuan

besar adalah kendaraan dengan plat nomor lokal.

laptop lainnya. Biar pinter bareng,” sahut Alun sambil

tetap memandang ke arah laptop. “Udah seneng mulai ada yang datang ke sini,

Alun,” ucap syukur Layur. “Tak mengapa kalau yang

Layur tampak tidak suka dengan usul itu. Baginya,

datang masih penduduk sekitar Dusun Prau. Pasti

dia harus tahu lebih dulu sebelum teman-teman

hasil tidak mengkhianati usaha, kan?” Begitu Layur

itu bisa mengoperasikan laptop. Toh nanti dia bisa

menyemangati Alun.

gantian mengajari mereka.

“Enggak mengira, ya. Kita bisa promosi wisata

Pelan-pelan, akun

tanpa perlu cetak poster dan teriak-teriak sepanjang

Facebook Alun dan

jalan. Orang datang ke sini karena kita menyebar foto

Layur mulai mendapat

dan video melalui internet!” sahut Alun.

permintaan

pertemanan.

Demikian pula

dengan foto-foto

yang mereka

pajang di sana

semakin ramai

mendapat

komentar.

 

86 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 87

“Apa rencana kita besok?” tanya Layur antusias. sambil menunduk dalam-dalam. Di depannya, dua orang lelaki berotot sedang menuding-nuding orangtua

Alun membuka buku catatannya. “Kita mau bikin

Layur itu. Nadanya tinggi tanpa mau dipotong. Bapak

video pendek untuk promosi wisata susur gua. Terus,

pun tak kuasa menyela.

mau bikin foto-foto penginapan Bu Narsih. Nah, ini

yang belum kita jadwalkan … kapan kita mau ajak “Pokoknya, kamu bapaknya. Didik anakmu itu biar teman-teman kita untuk latihan internet?” tahu tatanan di sini. Kalau terjadi rusuh nanti, kamu orang yang paling bertanggung jawab!” bentak salah

Layur tidak merespons. Rasanya, belum perlu

seorang dari pengancam itu.

melibatkan banyak orang, ‘kan.

Orang kekar satunya merangsek dan mengancam

sekali lagi. “Utangmu sudah banyak pada juragan.

Hidupmu enggak ada apa-apanya kalau tidak

ditolongi oleh dia. Jangan mimpi jadi orang kaya

Sayangnya, niat baik Layur dan Alun untuk seperti dulu. Kamu pengangguran kalau tidak ada

memakmurkan dusun mereka dengan usaha orang yang membantu. Makanya, jangan bikin pariwisata tidak sepenuhnya lancar. juragan marah dan ngamuk.”

Di suatu malam, Bapak dicegat Lantas, dua pengancam itu bergegas menghilang ketika baru saja pulang dari rumah di balik deretan perahu. Bapak masih berdiri Pak Kadus. Bukannya melawan, mematung di sana. Lama sekali. Bapak malah berdiri mematung

88 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 89