Dunia Maya Jadikan
Mimpi Nyata
Siang tengah hari, 14.20
Layur terengah-engah. Namun, dia senang dan tak
sabar untuk menunjukkan temuannya kepada Pak
Kadus. Alun pun sigap berjalan di depan Layur untuk
memastikan temannya itu bisa melangkah memakai
kruk dengan mudah.
“Masih jauh?” tanya Pak Kadus
dengan nada penasaran.
“Dekat lagi, Pak. Di
samping batu segede kebo itu!”
sahut Alun sambil berlari-lari
kecil mendahului rombongan
warga dusun yang sedang
menaiki bukit yang sekarang
berubah nama menjadi Bukit Menara.
“Di balik belukar itu, Pak. Kiri …
kiri! Nah iya. Di situ,” kata Layur sambil
mengangkat kruk kanannya untuk menunjuk
ke depan. Sesaat, Layur sadar kalau

76 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 77 caranya kurang sopan. Dia pun segera menggunakan Serentak dua remaja itu menggeleng. Protes.
ibu jari kanannya untuk mengarahkan pandangan Pak
“Sebelum Pak Kadus ke sini, kami berdua sudah
Kadus.
masuk ke dalam gua. Aman, Pak …,” ujar Layur.
Pak Kadus sangat antusias. Dia melangkah
Akhirnya, Pak Kadus pun mengizinkan keduanya
dengan cepat dan menyibakkan belukar. Di
melangkah memasuki gua.
belakangnya, beberapa warga pun tak sabar ingin
melihat kenampakan yang diceritakan oleh Layur Cahaya lampu senter berpendar-pendar sejak mereka berangkat dari Dusun Prau. menciptakan pemandangan yang sangat memukau.
Layur berkali-kali mengingatkan Alun untuk memotret
Krucuk .... setiap sudut itu.
Krucuk .... “Jangan lupa, nanti kamu tampilkan foto-foto itu lewat internet!”
Terdengar gemericik air dari tempat yang baru
saja mereka datangi. Alun mengacungkan jempol. “Aman. Pasti!”
Pak Kadus dan warga terperangah. Mulut mereka Naryo, pemuda yang berjalan paling depan tiba-ternganga. tiba mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
“Stop! Jangan maju lagi. Berbahaya.”
“Astagaaaa … mengapa puluhan tahun saya
tinggal di Dusun Prau tidak menyadari kalau ada Di depan mereka, lantai gua seperti terpotong gua alam sebagus ini?” desah Pak Kadus. Persis di dengan tiba-tiba berganti dengan bibir sungai bawah depannya, terlihat gua kapur dengan stalaktit dan tanah dengan aliran air yang tenang. Pak Kadus dan stalakmit yang masih alami. Dalam remang-remang Naryo mengarahkan nyala lampu senter seturut
cahaya yang menembus ke dalam gua, terpantul aliran sungai. Tampak sungai itu berkelok-kelok landai dinding gua yang basah dan kecipak air sungai yang menuju tempat jauh di depan. Di atasnya, dinding membentur batu gamping. gua setinggi empat orang dewasa seolah membentuk
kanopi alam yang memikat.
“Siapkan senter,” perintah Pak Kadus. “Naryo,
kamu bantu ukur kedalaman gua ini menggunakan “Dari bibir gua tadi sampai pinggir sungai ini
# # j#r ゥ エ F#エ |# ヲ#ゥr#エ エff #」# Fr ゥ # sekitar enam puluh meter. Sedangkan lebar sungai ini Berbahaya kalau kalian terpeleset.” lebih kurang delapan hingga dua belas meter.” Naryo
dengan sigap menggunakan ruas-ruas telunjuknya
78 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 79 untuk memperkirakan lebar dan panjang sungai. Tadi, Yu Semi wanti-wanti. “Pokoknya, gatotnya 
Pemuda itu memang jago membuat peta dengan dimakan dulu. Soalnya sudah terlanjur Ibu campur
memanfaatkan jemarinya sebagai skala. Aku juga dengan parutan kelapa, ya.” rエfrエ 」#Fr # 」#エ# fMソf # M M r \#エf ›# ソ ヲ# #
Di sebelahnya, Alun dan Naryo lebih memilih
Layur di dalam benaknya.
menikmati tiwul dari rantang satunya. Mereka
“Pak Kadus, mohon izin minggu depan saya akan menggunakan alas daun jati untuk menikmati mengajak tim mapala kampus saya untuk memetakan penganan berwarna kecoklatan dengan taburan gua dan sungai bawah tanah ini lebih detail lagi. parutan kelapa dan gula pasir itu. Saya yakin, bentukan alam ini cocok dijadikan wisata petualangan!” ujar Naryo dengan mata berbinar-binar.
Layur dan Alun saling berpandangan dan lantas
menepukkan kedua tangan mereka. Tos!
Pak Kadus membantu Layur untuk duduk
di atas rumput sejarak sepuluh langkah
di depan gua. Peluh rombongan warga
dusun itu membanjir setelah
menelusuri gua yang mereka datangi
tadi. Layur lantas membuka rantang
bersusun tiga yang mereka bawa. Yu
Semi dan beberapa ibu warga dusun
ikhlas membawakan banyak bekal
untuk rombongan itu.
Layur mencuil gatot dari salah
satu rantang itu. Sudah terbayang
gurihnya penganan berwarna
kehitaman dari gaplek atau
singkong kering itu.
80 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 81
Layur menggeser duduknya mendekati Pak Naryo pun menjelaskan, paralayang tak Kadus yang asyik mengobrol dengan tiga warga memerlukan pesawat terbang. Atletnya akan dusun lainnya. Dengan tangkas, Layur menceritakan melompat dari atas bukit dan memanfaatkan tiupan impiannya untuk membuat banyak objek wisata di angin untuk melayang di udara. Dusun Prau dan Pantai Tambaksegaran.
“Apa cocok tempat itu untuk terjun seperti itu?
“Selain wisata menyusuri gua yang tadi, Layur Apa tidak kurang tinggi, Naryo. Apalagi angin laut itu juga yakin Bukit Menara ini cocok sekali jadi tempat bisa ke arah mana-mana.” Pak Kadus ragu. berkemah, Pak. Kalau malam hari, pemandangan Naryo tak ciut mendengar ujaran Pak Kadus yang
langit dicampur dengan debur ombak dari bawah
pesimistis. “Pokoknya, serahkan itu pada Naryo, Pak.
sana akan menjadi hiburan yang tidak ditemukan di
Teman Naryo banyak yang jadi pengurus FASI alias
kota,” usul Layur.
Federasi Aero Sport Indonesia. Biar mereka yang
Pak Kadus mengacungkan jempol tangan ngukur-ngukur nanti!” kanannya. “Nanti, biar saya rembug bareng warga.
Layur mencolek lengan Alun yang disambut
Soalnya tempat ini tidak ada listrik, tidak ada fasilitas
dengan kerling mata sahabatnya itu. Rasanya, impian
peneduh, juga tak ada warung. Orang kalau mau salat
mereka semakin dekat.
juga butuh musala dan tempat berwudu.”
Ah benar juga, pikir Layur. Banyak hal perlu
dipersiapkan sebelum rencana ini jadi kenyataan.
“Pak Kadus, izin untuk usul,” tiba-tiba Naryo
Sekali minum, es teh manis di tangan Layur langsung
nimbrung. “Lihat bukit di sebelah sana. Bukit itu kan
tandas. Mukanya kemerahan seperti udang rebus
belum ada namanya. Saya yakin itu bisa jadi tempat
setelah setengah hari dirinya ikut mendaki Bukit Menara.
olahraga!”
“Kamu yang dibonceng kok kelihatan paling
Alun mengerutkan kening. “Olahraga apa, Mas?
capek, to Nduk?” canda Yu Semi sambil menawarkan
Panjat tebing?”
teko berisi air putih kepada Layur. Sore itu, sengaja
Naryo menggeleng. “Paralayang! Itu lho, olahraga Layur dan Alun mampir dulu di warung Yu Semi untuk terbang bebas menggunakan parasut.” melepas lelah.
“Kan di sini ndak ada lapangan terbang, Mas? “Lha kan aku makannya gatot dan tiwul, Yu.
Loncatnya gimana?” tanya Layur. Makanya gampang lemes,” sahut Layur tak mau kalah
melucu. “Beda sama tuh bocah. Tiap hari makan ayam
82 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 83 goreng. Jadinya kuat boncengin aku naik turun bukit “Kalau boleh, Yu Semi juga mau bantu pakai gatot pakai sepeda.” dan tiwul lagi. Pokoknya kalau kamu kumpul sama Pak
Kadus atau siapa saja untuk bahas rencana ini, Yu Semi
Alun pura-pura tak mendengar. Ia asyik membuka-
akan kirimkan satu rantang penganan buat kalian!”
buka hasil fotonya di ponsel. Ada hampir seratus
gambar dia peroleh selama mengelilingi Bukit Menara “Biasanya, kalau orang sudah kirim-kirim rantang, tadi. Nanti malam, semua foto ini mau aku taruh di pasti ada maunya!” tebak Layur menggoda. Facebook, kata Alun di dalam hati.
Yu Semi mengacak-acak rambut Layur sambil

tertawa panjang sekali.
“Apa Yu Semi juga pingin bikin pondok penginapan
seperti Bu Narsih?”
“Walah, kamu ngenyek. Meledek Yu Semi ya,”
sahut Yu Semi cepat. “Lha rumah Yu Semi saja seperti
kandang bebek gitu lho. Bukan itu!” Yu Semi beringsut.
Dia bisikkan sesuatu di telinga Layur. Alun kesal.
Mosok duduk bertiga, dua di antaranya bisik-bisik.
Yu Semi menggeser duduknya mendekati “Beres, Yu. Layur dukung seribu persen!” seru Layur.
Layur. Diraihnya tangan kanan remaja itu.
“Aku enggak dikasih tahu?” rengek Alun.
“Yu Semi orang bodo, tetapi Yu Semi tidak
“Ini urusan para perempuan!” sergah Layur yang
mau miskin seperti ini sampai mati,” katanya lirih.
dilanjutkan dengan cibiran.
“Makanya, Yu Semi mbrebes mili, meneteskan air
mata, saat mendengar kamu bilang di depan Pak
Bupati untuk membangun desa ini. Niat baikmu pasti
jadi kenyataan, Nduk. Pasti Gusti mberkahi niatmu.”
Layur mengangguk dua kali. Dipandangnya Alun serius dengan rencananya. Dengan cekatan, dia sosok perempuan yang terlihat lebih tua daripada membuat akun media sosial di laptopnya. Secara rutin usia sebenarnya itu. Perempuan yang selama ini dia memasang foto-foto hasil jepretannya di akun itu.
mengasihinya seolah menjadi pengganti ibunya Awal-awal, akun Facebook itu masih sepi pengunjung.
yang telah tiada. Alun hampir putus asa sampai kemudian dia mendapat
ide cerdik.
“Bantu Layur dengan doa, ya Yu ….”
84 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 85
Alun pun segera bergabung di banyak grup Risikonya, Alun dan Layur harus menyediakan Facebook terutama penyuka jalan-jalan. Di sana, dia waktu khusus untuk membalas komentar-komentar rajin berkomentar secara positif sambil menyelipkan itu. Pagi hari Alun pasang foto, siang hari dia pesan untuk mampir ke akunnya. mengecek dan menjawab setiap komentar, dan sorenya gantian Layur menjadwalkan diri untuk
“Makanya, kamu harus ngajari aku terus pakai
mengunjungi grup penyuka perjalanan.
laptop ini,” rayu Layur. “Jangan sok sibuk sebelum aku
benar-benar bisa pakai Facebook dan e-mail ya!” Hari demi hari berganti, sedikit demi sedikit, mulai terlihat beberapa mobil dan motor pengunjung
“Harusnya, aku enggak cuma ngajari kamu saja.
berderet di tepian Pantai Tambaksegaran. Sebagian
Mending bareng-bareng sama penerima bantuan
besar adalah kendaraan dengan plat nomor lokal.
laptop lainnya. Biar pinter bareng,” sahut Alun sambil
tetap memandang ke arah laptop. “Udah seneng mulai ada yang datang ke sini,
Alun,” ucap syukur Layur. “Tak mengapa kalau yang
Layur tampak tidak suka dengan usul itu. Baginya,
datang masih penduduk sekitar Dusun Prau. Pasti
dia harus tahu lebih dulu sebelum teman-teman
hasil tidak mengkhianati usaha, kan?” Begitu Layur
itu bisa mengoperasikan laptop. Toh nanti dia bisa
menyemangati Alun.
gantian mengajari mereka.
“Enggak mengira, ya. Kita bisa promosi wisata

Pelan-pelan, akun
tanpa perlu cetak poster dan teriak-teriak sepanjang
Facebook Alun dan
jalan. Orang datang ke sini karena kita menyebar foto
Layur mulai mendapat
dan video melalui internet!” sahut Alun.
permintaan
pertemanan.
Demikian pula
dengan foto-foto
yang mereka
pajang di sana
semakin ramai
mendapat
komentar.
86 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 87

“Apa rencana kita besok?” tanya Layur antusias. sambil menunduk dalam-dalam. Di depannya, dua orang lelaki berotot sedang menuding-nuding orangtua
Alun membuka buku catatannya. “Kita mau bikin
Layur itu. Nadanya tinggi tanpa mau dipotong. Bapak
video pendek untuk promosi wisata susur gua. Terus,
pun tak kuasa menyela.
mau bikin foto-foto penginapan Bu Narsih. Nah, ini
yang belum kita jadwalkan … kapan kita mau ajak “Pokoknya, kamu bapaknya. Didik anakmu itu biar teman-teman kita untuk latihan internet?” tahu tatanan di sini. Kalau terjadi rusuh nanti, kamu orang yang paling bertanggung jawab!” bentak salah
Layur tidak merespons. Rasanya, belum perlu
seorang dari pengancam itu.
melibatkan banyak orang, ‘kan.
Orang kekar satunya merangsek dan mengancam
sekali lagi. “Utangmu sudah banyak pada juragan.
Hidupmu enggak ada apa-apanya kalau tidak
ditolongi oleh dia. Jangan mimpi jadi orang kaya
Sayangnya, niat baik Layur dan Alun untuk seperti dulu. Kamu pengangguran kalau tidak ada
memakmurkan dusun mereka dengan usaha orang yang membantu. Makanya, jangan bikin pariwisata tidak sepenuhnya lancar. juragan marah dan ngamuk.”
Di suatu malam, Bapak dicegat Lantas, dua pengancam itu bergegas menghilang ketika baru saja pulang dari rumah di balik deretan perahu. Bapak masih berdiri Pak Kadus. Bukannya melawan, mematung di sana. Lama sekali. Bapak malah berdiri mematung
88 BAB 7 | Dunia Maya Jadikan Mimpi Nyata Layur Tetaplah Berlayar 89
