Geliat di Dusun Prau
Tiga bulan kemudian.
“Bapak cari apa, to?” Layur mencoba membuntuti
bapaknya yang hilir mudik seperti seseorang yang
kehilangan ayam.
Bapak tidak menyahut. Ia malah beranjak ke
gandok, ruangan di bagian belakang rumah untuk
menyimpan barang-barang. Rumah Layur memang
besar. Ada sentong tempat tidur keluarga, pringgitan
untuk menerima tamu, dan ada pendopo yang
sekarang dibiarkan kosong karena tak utuh lagi
semenjak terjadi ledakan bondet sepuluh tahun silam.
“Aku bisa bantu kalau tahu Bapak sedang cari
apa,” ujar Layur lagi.
Bapak masih bungkam, sementara tangannya
memilah kunci-kunci yang mulai berkarat dan
terangkai dalam gulungan kawat. Dibukanya pintu
gandok setengah dan … uhuuk! Uhuuk! Serentak, Bapak
dan Layur terbatuk-batuk. Debu dan udara pengap
menguar dari dalam ruangan yang tertutup rapat itu.
Sepuluh tahun lamanya, jendela dan pintu gudang itu
tertutup rapat. Seolah-olah Bapak ingin melupakan kejadian memilukan sepuluh tahun lalu ketika rumah berakhir di atas benda asing yang tertutup mereka meledak bersama dengan pabrik bom ikan tikar pandan lebar dan berdebu. di tempat itu. Ledakan yang turut meremukkan kaki 
“Itu yang Bapak cari?” Layur menunjuk
Layur.
gundukan di bawah tikar.
“Nduk, tunggu di situ. Bapak buka jendela
Bapak tersenyum lebar. “Betul. Di bawah
dari dalam,” perintah Bapak sambil
tikar pandan itu, tersimpan seluruh senjata
menahan langkah Layur yang
Bapak.”
hendak melintasi pintu.
Layur bingung. Bapak tetap menyuruh
Klik! Bapak menyalakan
Layur untuk tidak mendekat.
lampu redup di ruangan
Dengan perlahan-lahan, tikar
itu. Tampaknya, lampu
pandan itu dia gulung dan
itu sudah menua
tampaklah gamelan yang ditata
sehingga berkedip-
berderet. Layur tidak ingat
kedip layaknya
apakah dulu pernah melihatnya.
bocah yang tertidur
Mungkin pernah, tetapi pasti
bertahun-tahun.
sebelum dia berusia
Sinar matahari lima tahun. langsung menyeruak ke
dalam ruangan
itu ketika dua
daun jendela
lebar didorong
Bapak ke luar.
Sorot cahaya
matahari
membentuk
garis-garis putih
menerobos
jendela dan
50 BAB 5 | Geliat di Dusun Prau Layur Tetaplah Berlayar 51
“Itu saron namanya,” Bapak menunjuk benda Layur manggut-manggut tetapi masih bingung.
berbentuk bilah-bilah besi yang letaknya di bawah
“Ledhek itu kesenian asli sini?”
jendela. “Kalau yang bulat-bulat itu bonang. Nah,
kalau yang itu …” Bapak dengan sabar menjelaskan. “Ledhek itu
ada di beberapa daerah di Jawa. Selain di tempat kita,
“Tunggu, biar Layur tebak,” potong Layur sigap.
kesenian ini juga ada di Blora Jawa Tengah, di Sleman,
“Aku sering lihat itu. Namanya gendang, kan Pak?”
dan beberapa daerah lain.”
Bapak mengiyakan. “Orang sini menyebutnya
“Penari seperti Yu Semi, dulu pasti ayu ya, Pak?”
kendang. Itu alat musik andalan bapakmu ini.”
“Kamu tanya atau meledek penjual rempeyek
Layur tidak sabar untuk tahu maksud Bapak yang
jingking itu?”
sebenarnya.
Bapak dan anak itu pun tertawa bersama.
“Bapak mau menjual gamelan ini untuk membeli
perahu baru?” “Tunggu sebentar, Bapak tunjukkan sesuatu,” ujar
Bapak sambil berjalan cepat masuk ke kamar.
Dalam hati, Layur tidak ingin itu terjadi.
Bapak keluar kamar sambil membawa beberapa
“Hahaha ….”
kertas. Wajahnya ceria sekali.
Tawa Bapak pun pecah. Kedua tangannya dia
“Nih, foto-foto zaman dulu, sudah kuning
tumpangkan di bahu Layur. Putri tunggalnya itu kesal
kertasnya tapi kamu bisa kenali orang-orang di
karena ditertawakan.
gambar ini, ndak?” tanya Bapak bereka-teki.
“Ora, Nduk. Enggak. Bapak mau jadi niyaga.
Layur mengamati foto pertama. Tampak
Jadi pengrawit, memainkan gamelan ini bareng
beberapa niyaga duduk di depan gamelan. Mereka
Kang Wasis, Pak Sutar, Naryo, dan Yu Semi yang jadi
masih muda-muda, ganteng dan cantik. Layur
ledhek.”
mengambil foto kedua, pastinya ini para sinden kalau
“Ledhek?” dilihat dari posisi duduknya. Foto ketiga, adalah foto
setengah badan seorang lelaki gagah dengan kumis
Bapak menuntun Layur ke luar gandhok dan
tipis. Ia memegang pemukul gamelan yang berbentuk
mengajaknya duduk di pringgitan.
seperti roda mobil mainan.
“Yu Semi itu, zaman mudanya adalah penari
“Lha terus, mana yang foto Yu Semi, Pak?”
tayub kondang dari Dusun Prau ini. Sebutan untuk
penari tayub adalah ledhek.”
52 BAB 5 | Geliat di Dusun Prau Layur Tetaplah Berlayar 53
Bapak senang karena rasa ingin tahu Layur sudut dusun. Ya, dua hari lagi, akan berlangsung terhadap kesenian tradisional cukup besar. Bapak pencanangan program “Desa Digital” yang dipusatkan menjelaskan satu persatu teman masa mudanya di di dusun nelayan itu. Konon, akan ada menteri yang kelompok pengrawit itu. datang.
“Yang ganteng foto sendirian itu, Bapak.” Alun menyenderkan sepedanya di pohon gayam tak jauh dari buk tempat Layur duduk sambil terdiam.
“Wuuuih ... andai Bapak bisa mempertahankan
Buk adalah tembok setinggi setengah meter yang
kegantengan sampai masa tua, pasti Layur bangga,”
membentang di pinggir jembatan kali. Dari tempat itu,
canda Layur.
Alun dan Layur bisa memandang kesibukan di dusun
Bapak tergelak. “Kamu malu lihat wajah Bapak mereka. yang sekarang?”
“Kamu masih ingat dengan apa yang aku bilang
Gantian Layur yang tertawa keras. sewaktu kita malam-malam berada di atas sana?”
“Nah, sekarang coba tebak … mana wajah Yu Semi Layur bertanya kepada Alun sambil menunjuk ke Bukit dan mana wajah almarhum ibumu di foto ini!” Merana.
Layur mengerutkan kening. Memelototi foto. Alun duduk di samping Layur dan merogoh Akhirnya, dia menyerah. Tidak tahu. Karena semua kantong celananya untuk mengeluarkan ponsel.
wajah perempuan di situ cantik semua. Layur melotot. “Jangan pernah main itu kalau
sedang ada orang ngajak ngomong!”
Alun tersipu. Sejak menara di Bukit Merana
berfungsi, internet sangat mudah diakses dari ponsel.
Tak! Tak! Tak! Alun seolah tak bisa lepas dari alat di genggamannya
itu.
Patok bambu dipukul berkali-kali hingga kuat
menahan janur yang terikat di sebatang bambu “Iya. Masih ingat.” melengkung. Dua buah janur telah berdiri anggun “Ingat apa?” di ujung depan Dusun Prau. Sementara itu, belasan “Menjadikan Pantai Tambaksegaran dan Dusun Prau
orang muda sibuk memasang tenda megah di tengah
seperti tempat wisata di Parangtritis sana. Ya ‘kan?”
lapang tak jauh dari bibir Pantai Tambaksegaran.
Layur mendesah. “Bapakku enggak setuju.”
Dusun Prau mendadak penuh keriuhan. Laki-laki
dan perempuan, tua dan muda sibuk mematut seluruh
54 BAB 5 | Geliat di Dusun Prau Layur Tetaplah Berlayar 55
Alun kaget. Dia lantas berdiri di depan saling lihat apa yang dilakukan dan dikirim orang sahabatnya itu. “Bapakmu bilang enggak boleh?” melalui internet. Entah itu foto, video, atau cerita.
Bayangkan, kalau aku tampilkan keindahan Pantai
Layur menggeleng. “Semalam aku ceritakan
Tambaksegaran dan suasana malam di atas Bukit
rencanaku itu pada Bapak. Dia diam saja terus pergi.
Merana di sana, jutaan orang di Indonesia bahkan
Katanya mau latihan tayub buat pentas besok. Kalau
dunia bisa seketika melihatnya.”
Bapak diam dan pergi saat diajak bicara, itu tandanya
dia tidak setuju.” Mata Layur langsung berbinar-binar. Ide Alun
cemerlang sekali. “Kamu cerdas, Alun. Pokoknya kita
“Mirip kamu, hahaha ….”
pakai internet untuk mengenalkan dusun kita. Kita
Layur cemberut dan meraih satu buah gayam manfaatkan ponsel kamu dan laptopku …. ups!” kering di dekat kakinya lantas melempar sekuat Layur keceplosan. Terlambat, Alun sudah
tenaga ke arah Alun. Bocah lelaki gempal itu menepis
mendengar. Dengan pandangan penuh selidik, Alun
lemparan Layur dengan mudah.
menatap Layur tanpa berkedip.
Layur tak jadi melemparkan buah gayam kering
“Jadi, bener ya kata anak-anak sini. Kamu
kedua saat Alun Kembali duduk di sampingnya.
termasuk dalam sepuluh pelajar berprestasi yang
“Dulu, Bapak pernah bilang kalau aku enggak akan mendapat bantuan laptop saat Pak Menteri usah aneh-aneh. Pokoknya aku disuruh sekolah yang nanti ke sini?” rajin. Main saja enggak boleh jauh-jauh. Apa karena Layur tertawa kecil. “Eh, anu … bukan maksudku
aku jalan pakai tongkat gini, ya?”
enggak mau cerita. Cuma ….”
Alun tersentak. Ia tak ingin sahabatnya itu
“Cuma apa? Cuma khawatir aku iri, ‘kan? Iya, aku
bersedih. Buru-buru ia alihkan pembicaraan. “Padahal,
iri banget. Banget, hahaha ....”
aku sudah siap bantu kamu promosikan dusun kita di
internet! Kamu tahu tidak, tahun ini sudah puluhan Layur seperti memendam rasa penasaran. Tak juta orang Indonesia punya akun Facebook. Kamu kuat untuk menyimpan di dalam hati, akhirnya dia tahu Facebook?” tanya Alun. lontarkan satu permintaan kepada Alun.
Layur memandang Alun dengan wajah polos. “Aku itu bodo, ndak ngerti apa itu internet, apa itu Menggeleng pun dia malu. Facebook. Kamu mau kan ngajari aku nantinya? Nanti
kalau aku sudah dapat laptop,” pinta Layur dengan
“Bilang saja kalau kamu enggak tahu,” ledek Alun.
mimik serius.
“Facebook itu disebut media sosial. Orang-orang bisa
56 BAB 5 | Geliat di Dusun Prau Layur Tetaplah Berlayar 57

Alun mengedipkan kedua matanya beberapa kali dusun sebelah. Pertanda sore akan digantikan oleh dan itu membuat Layur menjadi sebal. petang. Dua anak itu berboncengan untuk kembali ke
rumah mereka. Sepeda melaju pelan membelah jalan
Canda Alun, “Berani bayar berapa, hahaha!”
dusun yang bergelombang berlapis batu dan tanah.
Layur tertawa keras. “Alun, alun! Dasar kamu itu
kayak buruh gendong ikan. Apa-apa minta bayaran.” Plok!
Alun pun meyakinkan Layur. “Mosok sih, aku Layur menepuk punggung Alun dengan keras.
enggak bagi-bagi ilmu sama kamu, Layur. Bahkan … Sahabatnya itu terlonjak kaget membuat sepedanya aku siap melatih kamu dan teman-teman yang nanti oleng. terima bantuan laptop biar lancar berselancar di internet. Tapi, kamu pastikan dulu gimana caranya “Aku dapat ide cemerlang!” pekik Layur. “Aku menyampaikan ide bikin dusun wisata ke orang-orang punya cara jitu untuk menyampaikan ideku di depan di sini.” banyak orang. Ya, pasti berhasil!”
Angin bertiup lebih kencang saat itu. Lantunan
azan terdengar entah dari masjid di Dusun Prau atau
58 BAB 5 | Geliat di Dusun Prau Layur Tetaplah Berlayar 59

! !($

Berjuang Kendati
Ditentang
*</;S;3CD@</;S>3>5S>?>5S>3>5S>?>5S5?>5P
2;HLCaK7F=7Fa:7FaJGI7CaJGI7?a:??CLK?aJL?Ka
8;IJ7>LK7FaE;F==;E7a:?aJ;C;D?D?F=aK;F:7a8;J7IWa
,7JO7I7C7Ka#LJLFa/I7LaK7EH7CaI?F:LaE;F7I?aK7OL8a
:7FaE;F?CE7K?a=;F:?F=aA7N7aO7F=a7E7Ka7CI78a:?a
K;D?F=7aE;I;C7Wa
!7H7CaE;F=;D7HaH;DL>aO7F=aE;E87FA?Ia:?aC;F?F=a
:7FaD;>;IFO7Wa!7ALaJLIA7FFO7aE;F=>?K7EaH;IK7F:7a
JL:7>a87J7>aCLOL8Wa#?aJ7EH?F=FO7Xa6La1;E?aKLILFa:7I?a
H7F==LF=aJ7E8?Da8;IC7D?¥C7D?aE;D7E87?C7FaK7F=7Fa
C;a7I7>aH;FGFKGFaO7F=aE;E7F==?DaF7E7FO7Wa*7D?a
?KLXa?7aK7EH7CaC;F;Ja:;F=7FaI?7J7Fa87Ca7IK?Ja?8LCGK7a
KLILFaC;aH7FK7?Wa!?8?Ia6La1;E?a8;I=?F9LaE;I7>a:;F=7Fa
8;:7CaK;87DaE;E8L7KaJ;EL7aH;F:L:LCa#LJLFa/I7La
/7F=D?F=Wa*;87O7a:7FaJ;D;F:7F=aO7F=a:?7aC;F7C7Fa
E;E8L7KFO7aJLD?Ka:?C;F7D?Wa!;F7IC7>aH;F7I?aDLN;Ja
?KLa7:7D7>aH;FAL7DaI;EH;O;CaA?F=C?F=aO7F=aK?7Ha
H7=?aE;E7C7?a:7JK;Ia8;IC;D?D?F=aE;E87N7a
C;I7FA7F=a87E8L[
60 ! !aUab Geliat di Dusun Prau “Ssst … jangan berisik,” tegur Yu Semi kepada Sudah sembilan anak berprestasi berdiri berjajar anak-anak yang mengobrol diselingi tawa. Terlihat di atas panggung seperti deretan wayang. Siapa lagi pembawa acara sudah memegang mikrofon di atas anak satunya? panggung.
“Dan … kami panggil siswa berprestasi kesepuluh
“Berikutnya, tibalah saat yang kita nantikan. … Alun Saptata. Silakan naik ke panggung!” Inilah, penyerahan perangkat pendidikan kepada Deg! Jantung Layur seperti berhenti beberapa
siswa dan siswi berprestasi. Kami undang, Bapak
detik. Aduh, anak itu main rahasia juga ya. Dia tidak
Bupati Gunungkidul untuk berkenan menyerahkannya
bilang-bilang kalau mendapat hadiah juga. Layur
….” Suara pembawa acara menyentak kesadaran Layur
gemas dan rasanya ingin meninju lengan Alun.
yang sedari tadi tak lepas memandang kagum ke arah
bapaknya. Kembali tepuk tangan bergema memantul di
dinding-dinding bukit kapur yang mengelilingi Dusun
“Nduk … rapikan rambutmu. Itu berantakan
Prau saat Pak Bupati menyerahkan alat pendidikan
poninya,” bisik Bapak yang tiba-tiba sudah ada di
berupa laptop.
sampingnya. Dengan cekatan, Bapak menyelipkan
kruk di kedua lengan Layur. “Tunggu …,” tiba-tiba Pak Bupati menahan Langkah Layur yang hendak turun dari panggung. Ia
“Nih, pakai sisirku!” Yu Semi tak ketinggalan ikut
anak terakhir di panggung itu. “Saya ingin berbincang
repot. Bapak cepat meraih sisir itu dan dengan penuh
sejenak denganmu, Nak.”
kasih merapikan rambut putrinya.
Layur seolah ingin berteriak girang. Ini kesempatan
Layur terkesiap. Ia tak ingat kapan terakhir kali
emas untukku!
Bapak menyisir rambutnya. Bahkan, mungkin ini kali
pertama. Layur serasa ingin menangis haru andai tak “Namamu … Layur, ya?” tanya Pak Bupati sembari ingat bedaknya yang mungkin akan luntur oleh air melirik piagam yang dipegang oleh gadis di depannya.
mata. Jelas tertera di kertas itu nama si anak berprestasi.
Bapak memandang Layur yang selangkah demi “Betul, Pak Bupati ….” Sahut Layur dengan degup selangkah menapaki tangga panggung luas itu. jantung yang semakin kencang berdegup.
Ia biarkan air matanya menggenang dan jatuh di “Hari ini saya mewakili Pak Menteri yang kelopak matanya. “Andai ibumu masih ada, pasti berhalangan hadir. Beliau menitipkan pesan agar dia juga sebangga bapakmu ini,” lirih Bapak berucap kalian semua dapat memanfaatkan bantuan untuk dirinya.
62 BAB 6 | Berjuang Kendati Ditentang Layur Tetaplah Berlayar 63 pemerintah ini dengan sebaik-baiknya.” Pak Bupati “Tapi, kamu belum menjawab pertanyaan Bapak.

terdiam sebentar. “Apa rencanamu dengan laptop Bagaimana kamu memanfaatkan laptopmu untuk
itu?” tanya Pak Bupati dengan nada santai. mewujudkan semua itu?”
Ya, Allah, izinkan aku menyampaikan kata-kata Layur mengangkat kotak laptopnya tinggi-yang sudah aku hafal sejak semalam, kata Layur di tinggi. “Pakai internet, Pak Bupati. Kami sangat dalam benaknya. bersyukur karena Dusun Prau ditetapkan sebagai salah satu Desa Digital. Saya
“Saya ingin menyulap Pantai Tambaksegaran dan
akan membuat banyak foto dan
Dusun Prau ini, Pak Bupati!” kata Layur dengan mantap.
video tentang kehidupan dusun
Menyulap? ini melalui media sosial
Hening. Masyarakat yang mengitari panggung bersama teman-teman itu saling bertanya-tanya. Apa maksud anak itu. Pak saya yang hari ini Bupati pun mengerutkan keningnya. menerima laptop.
“Coba, bagaimana caramu akan menyulap pantai
ini menggunakan laptop?” selidik Pak Bupati.
Layur memindahkan mikrofon ke tangan kirinya
karena tangan kanannya sudah basah oleh keringat.
Alun mengacungkan ibu jari kanannya untuk
menyemangati Layur. Ayo, kamu berani ngomong,
Layur. Go! Go!
“Saya ingin mengubah dusun nelayan ini menjadi
dusun wisata, Pak Bupati,” sahut Layur mantap. “Saya
juga memimpikan rumah-rumah nelayan di sekeliling
tenda ini menjadi pondok penginapan bagi para
wisatawan. Juga, warung-warung di sana menjadi
pusat kuliner aneka hasil laut.”
Pak Bupati tampak
sangat antusias.
64 BAB 6 | Berjuang Kendati Ditentang Layur Tetaplah Berlayar 65 Terutama teman saya yang gempal itu ….” Layur 
mengarahkan telunjuknya ke Alun yang menjadi
tersipu.
Pak Bupati seperti kehilangan kata-kata
mendengar ide cemerlang Layur. Tangannya
terentang lebar sambil berkata, “Mengapa Bapak
dan Ibu semua tidak ada yang bertepuk tangan
mendengar ide luar biasa dari siswi berprestasi ini?”
Serentak, tepuk tangan kembali bergemuruh di Bu Narsih tergopoh-gopoh mendekati Layur. Tangan tempat itu. Semua orang bertepuk tangan. Oh tidak, kanannya menenteng pisang ranum sedangkan
Bapak terdiam. Kedua tangannya kaku tergantung di rantang tiga susun teracung melalui tangan kirinya.
kiri kanan badannya.
“Beneran ini untukku, Bu?” Layur sangat senang.
Dari semua jenis buah, pisang adalah pilihan dia
nomor satu. Maklum, selama ini Layur memang hanya
mengenal pisang, jambu, salak, dan ceplukan sebagai
jenis-jenis buah yang dia tahu.
“Serius! Ini Ibu masak sayur gori pakai tetelan iwak
sapi. Enak banget. Kamu harus bawa pulang juga.” Bu
Narsih menyodorkan rantang. Di Dusun Prau, semua
daging disebut iwak yang sebenarnya berarti ikan.
Layur kikuk.
Bu Narsih merasa aneh, ada yang salah sampai dia
sadar sesuatu.
”#ゥ#m イ## ヲ#エ o> \#イ #m ># #エ # #
Yo wis. Yuk, Ibu antar kamu pulang untuk naruh pisang
dan rantang.”
Layur mengedip nakal. “Di rumah Bu Narsih tidak
ada piring? Kok tidak menawari saya mampir ke rumah
Ibu saja?”
66 BAB 6 | Berjuang Kendati Ditentang Layur Tetaplah Berlayar 67
Bu Narsih tertawa keras. Rumah dia hanya Dua perempuan dengan selisih usia dua puluh dua puluh langkah dari tempat mereka mengobrol, tahun itu tertawa bersama. Bu Narsih pun masuk ke sedangkan untuk menuju rumah Layur harus melewati dalam rumah, menyiapkan sepasang piring dan nasi kali dan beberapa kebun milik warga. satu ceting. Diajaknya Layur menikmati sayur gori nan
gurih.
“Kok tumben, Bu Narsih bagi-bagi pisang untuk
aku?” tanya Layur dengan polosnya. Ia memilih duduk “Satu lagi permintaan Ibu, Layur. Yang ini pasti di teras Bu Narsih yang menghadap ke laut. Beberapa kamu bisa bantu. Atau sebaliknya, ini anggap saja Ibu pot bunga wijayakusuma tergantung rapi di besi membantu kamu.” penyangga talang. Dua di antaranya sedang mekar “Kata-kata Bu Narsih kok mbulet-mbulet seperti
dengan warna putih seperti gulungan tisu. Layur
rambut dikepang,” canda Layur.
senang memandanginya.
Bu Narsih menyahut cepat. “Aku kepikiran
“Ibu malu mau bilang ….” Bu Narsih tersipu. “Ini lho,
dengan kata-katamu di depan Pak Bupati. Itu lho
ragil Ibu yang kuliah di Semarang mengirim ponsel
tentang rencana bikin dusun wisata di sini. Apa boleh
baru. Dia dengar kalau di sini sudah ada internet.
kalau Ibu dibantu menyulap rumah ini jadi pondok
Layur bantu Ibu ya. Ajari Ibu pakai ponsel.”
penginapan?”
Layur membelalakkan matanya. Lantas tertawa
Layur membelalak. Wah, ide yang baru saja aku
panjang.
lempar di depan Pak Bupati dan warga Dusun Prau
Bu Narsih cemberut. “Layur malah menertawakan langsung disambut antusias oleh Bu Narsih. Ibu. Ibu memang bodo ….”
“Rumah ini kan ada tiga kamar tidur. Ruang tengah
Layur tambah keras tertawa. juga luas. Dapur dan kamar mandi sudah ibu renovasi setahun lalu. Kamu sudah dengar juga kan, ragil Ibu
“Kalau Layur meledek Ibu terus, pisangnya ndak
belum tentu pulang kemari dalam waktu dekat karena
jadi saya kasihkan!” canda Bu Narsih.
dia setelah sarjana mau langsung lanjut ambil jenjang
“Waduuuh, jangan Bu. Maaf banget. Layur master karena dapat beasiswa. Sementara, kamar memang wajib tertawa mendengar permintaan Ibu.” yang dulu dipakai almarhum anak mbarep kosong
“Kok gitu?” sejak dulu,” urai Bu Narsih panjang lebar.
“Lha boro-boro ngajari Ibu. Lha Layur saja belum “Setuju banget, Bu Narsih. Apalagi kalau bunga-pernah pegang apalagi punya ponsel. Layur ndak bunga wijayakusumanya dipertahankan ya. Itu yang ngerti sama sekali. Baru besok mau minta diajari Alun akan bikin betah para tamu pondok ini!” seru Layur.
untuk pakai laptop!”
68 BAB 6 | Berjuang Kendati Ditentang Layur Tetaplah Berlayar 69

Bu Narsih sangat gembira. “Bantu Ibu untuk
merancang kamar dan dinding rumah ini biar pantas
menerima tamu-tamu bahkan bule ya, Layur!”
Layur mengangguk tiga kali dengan cepat. Dia sangat
mantap.
Tiba-tiba Bu Narsih seperti ingat sesuatu.
“Ngomong-omong, bapakmu mendukung rencanamu,
kan Layur?”
“Nduk, Bapak tidak ingin kamu kecewa,” ujar
Bapak dengan nada berhati-hati.
Layur duduk dengan hati-hati. Kruk dia sandarkan
Bapak menyeruput kopi pahit di bibir meja.
dari gelas beling di tangannya. “Itu sebabnya Bapak tidak ikut bertepuk tangan Ceting tempat nasi telah saat Pak Bupati memuji Layur?” sahut Layur dengan kosong setelah anak dan nada datar.
bapak di rumah itu selesai
Bapak tersentak. Tangannya yang memegang
menikmati makan malam.
gelas kopi bergetar. Ia tidak menyangka kalau Layur
Layur mengelap tangannya
jeli mengamati responsnya saat anak itu berada di
usai meletakkan piring dan
atas panggung.
sendok ke para-para atau
rak piring berbahan “Bapak tidak setuju dengan niat Layur?” desak
kayu. gadis itu sambil mengelap meja yang terkena tetesan
kopi dari cangkir Bapak.
“Nduk, mestinya kamu bisa sampaikan itu dulu ke
Bapak sebelum mengungkapkan di depan Pak Bupati.”
Layur menggigit bibirnya. Sedih.
“Dua hari lalu, Layur sudah sampaikan hal itu.
Tetapi, Bapak diam saja. Terus pergi. Lebih penting
main kendang.”
70 BAB 6 | Berjuang Kendati Ditentang Layur Tetaplah Berlayar 71
Bapak menyeruput sisa kopinya. Semakin terasa Bapak menaruh kopi pahitnya, beranjak dari pahit. “Tadi ada beberapa warga dusun mendekati tempat duduk, dan berdiri di belakang Layur yang Bapak setelah acara selesai. Mereka wanti-wanti masih duduk di bangku. Bapak mengelus lembut putri kepada Bapak agar menasihatimu, Nduk.” kesayangannya itu.
Layur menatap bapaknya. Menasihati? Nasihat “Nduk, Bapak cuma ingin kamu mau menimbang-apa? nimbang nasihat Bapak.”
“Kamu bebas untuk melakukan semua hal yang “Layur juga, Pak. Aku ingin Bapak percaya baik. Namun, beberapa orang tua di sini berpesan padaku.” agar Bapak mencegahmu membuat rencana yang Krik … krik. Jangkrik mengambil alih malam
akan mengubah tatanan di dusun ini,” tutur Bapak.
dengan lengkingannya. Bapak dan anak itu membisu.
“Berapa orang itu, Pak?” Layur seperti sudah tidak Sedemikian sepi sampai-sampai suara ombak ingin melanjutkan perbincangan itu. “Tahukah, Bapak menepuk-nepuk pasir pantai terdengar jelas. Bapak kalau tadi pun, banyak orang yang menyalami dan masuk ke kamar meninggalkan Layur memandang
memeluk Layur. Mereka sangat berharap agar niat gelap malam. Layur teringat paras tercantik di dalam Layur mengubah dusun ini menjadi lebih makmur foto hitam putih yang Bapak perlihatkan sebelumnya.
segera terwujud. Yu Semi bahkan siap membuka Sosok Ibu. Pasti ia sangat mendukung semua rencana warung ikan bakar, Bu Narsih juga sangat ingin baikku. Tidak seperti Bapak. rumahnya menjadi pondok penginapan.”
Layur menghela napas. “Banyak juga ibu-ibu
yang siap mendorong anak-anaknya berlatih tari
tayub dan jaranan. Si Vani, Yuli, dan Ratna juga bilang
ke aku, mereka siap kumpul di sini kalau diperlukan.
Pak, orang-orang itu juga berharap Bapak mau
meminjamkan gamelan untuk karawitan. Jadi,
lebih banyak mana, orang yang mendukung Layur
dibandingkan dengan orang yang meminta Bapak
mencegah Layur mewujudkan rencana itu?”
72 BAB 6 | Berjuang Kendati Ditentang Layur Tetaplah Berlayar 73
