BAB 4

 

Merana

 

Pak Kadus sigap mencengkeram lengan bapak Layur.

“Sabar, Kang. Lihat, mereka semua berdiri

dan jumlahnya belasan orang,” tahan Pak Kadus.

Dia rebut kayu yang sedari tadi digenggam erat

Bapak. Naryo pun ikut memegangi lengan Bapak

agar tidak merangsek. Otot lengan itu menegang

dan berkeringat. Napas Bapak memburu pertanda

darahnya sedang mendidih tersulut amarah.

Astaga! Suara gemerisik dan bisik-bisik Pak Kadus

terdengar oleh orang-orang di tengah lapang itu. Di

depan warga dusun itu, orang-orang yang

mengerumuni Layur dan Alun telah berdiri siaga. “Saya Sasmito. Dua anak pintar ini lebih suka Seolah akan ada pertarungan dua kubu di tengah memanggil saya dengan julukan Tonas, hahaha ….”

malam itu.

Pria itu mengulurkan tangan kepada

“Bapak!” teriak Layur dengan wajah cerah. Dia Bapak lantas membungkuk hormat saat Layur pun berdiri sambil mengempit kruk. Tiga langkahnya memperkenalkan dia kepada bapaknya. memancing Bapak untuk bergerak maju pula.

Meskipun belum paham sepenuhnya, tetapi

“Kowe ora opo-opo, Nduk? Kalian tidak terluka?” keramahan Sasmito membuat Bapak melunak. Dia Bapak bertanya dengan cemas. memperkenalkan diri dan lantas memperkenalkan Pak

Kadus kepada orang-orang asing itu.

“Kami diajak makan, Pak!” Alun menyela.

Tangannya masih memegang pisang yang sudah dia “Tampaknya ada kesalahpahaman di antara kita,”

makan setengahnya. ujar Sasmito. “Bisa jadi surat pemberitahuan kami

belum sampai di tangan Pak Kepala Dusun.”

Bapak bingung. Dia menyapukan pandangan

ke arah meja di tengah tanah lapang itu. Ya, di sana Sasmito lantas menjelaskan siapa mereka. terlihat banyak piring dengan mangkuk-mangkuk Ternyata, rombongan itu adalah tim yang ditugaskan sayur dan lauk pauknya. Bapak merapat ke telinga oleh negara untuk mempercepat proses pembangunan layur dan bertanya lirih. fasilitas telekomunikasi di daerah-daerah tertinggal.

 

“Siapa mereka?”

“Ah iya. Itu Pak Tonas!”

Layur mengarahkan ibu jari tangan kanannya

kepada sosok di ujung meja. Seorang pria berbadan

besar dan tegap. Orang itulah yang tadi menemukan

Layur dan Alun mengendap-endap.

Ternyata, sosok itu sangat ramah. Brewok dan

kumis tebalnya tak mengurangi kesan bersahaja dan

senang menyambut orang asing. Ia berdiri, mengelap

telapak tangannya dengan tisu dan mendekati Bapak.

 

38 BAB 4 | Merana Layur Tetaplah Berlayar 39

“Saya pimpinan tim ini. Tim dari Tower Nasional “Kok saya sebagai kepala dusun tidak mendapat alias Tonas. Lokasi puncak bukit ini adalah titik paling pemberitahuan ya? Kan saya bisa bisa kerahkan ideal untuk mendirikan menara telekomunikasi. warga untuk membantu bapak-bapak proyek ini di

Bayangkan, dengan satu menara ini saja, lima desa Bukit Merana,” tanya Pak Kadus.

akan terbebas dari blank spot. Termasuk desa bapak- “Nyuwun pangapunten «ソmソエ Frイ## ヲ#エ bapak.”

Kemungkinan surat untuk sosialisasi masih tertahan

Pak Kadus mendekati Alun dan berbisik,” Opo kuwi di kantor kabupaten atau kecamatan. Oh ya, bukit ini blank spot. Aku ndak ngerti artinya.” ada namanya?”

Alun memandang Sasmito yang dibalas dengan Pak Kadus menjelaskan, “Leres, Pak. Betul. anggukan oleh lelaki tegap itu. Penduduk kami menyebutnya Bukit Merana sejak dulu. Karena, gersang dan cuma bisa ditanami

“Izin menjelaskan, ya Pak Tonas,” kata Alun.

singkong.”

Blank spot itu artinya tempat yang tidak

Sasmito manggut-manggut. “Oh maaf. Saya malah

mendapatkan sinyal telepon, Pak Kadus. Seperti

belum mempersilakan bapak-bapak untuk duduk.

Dusun Prau kita. Lihat, bukit-bukit tinggi yang

Silakan bergabung. Kami akan siapkan teh dan kopi.”

mengelilingi kita ini. Sinyal mentok di sebalik bukit.

Makanya dibutuhkan menara-menara di puncak bukit Dengan sigap, anak buah Sasmito merapikan

kita untuk memancarkan ulang sinyal itu.” meja dan menyingkirkan piring mangkuk yang ada

di sana. Lantas, dia mengganti piring mangkuk itu

Sasmito mengacungkan dua jempol tangannya.

dengan gelas-gelas kopi yang menguarkan aroma

“Kamu pintar, Nak. Salut karena kamu katanya sering

amat khas. Tak ada lagi rasa kikuk antara warga

naik ke puncak bukit ini untuk dapat sinyal telepon!

dusun dengan Sasmito. Mereka terlibat di dalam

Bayangkan kalau menara yang kita siapkan ini bisa

obrolan yang akrab.

terpasang tepat waktu ....”

Sasmito dengan santun mempersilakan Pak

Alun kembali menyela. “Iya, dan kita semua bisa

Kadus dan rombongannya untuk menikmati kopi dan

menerima panggilan telepon dengan gampang.”

camilan yang ada.

“Betul. Kita sedang ngebut membangun desa-desa

“Saya ini lahir di Dusun Wadas, lebih kurang

digital terutama di daerah 3T, yaitu daerah tertinggal,

setengah jam perjalanan dari sini, Pak. Jadi, boleh

terdepan, dan terluar. Biarpun desa di sini berada di

˜# # # r ヲ# Mエ# e#ヲ ソ ソ ソf # イ#ヲ# F#M #m rエr disebut saya adalah putra daerah,” tutur Sasmito.

juga jadi prioritas pemerintah untuk dibangun.”

 

40 BAB 4 | Merana Layur Tetaplah Berlayar 41

Pak Kadus langsung menyahut. “Lha, saya dulu Layur beringsut menjauhi meja itu. Ia berjalan pelan bersekolah di sana, di SMP 5.” ke sisi lain. Baginya, kerlip bintang dan pendar-pendar

cahaya dari pelita yang dipasang penduduk di bawah

Sasmito kaget. “Wah, kita bersekolah di tempat

Bukit Merana lebih menarik perhatian. Dua kerlip yang

yang sama, Pak. Cuma, saya hanya satu tahun

sama-sama indah.

bersekolah di sana sebelum pindah ke Batam dan

lanjut kuliah di Jerman dan Amerika. Alhamdulillah, “Alun, sini!” Layur melemparkan kerikil kecil ke kaki saya mendapat beasiswa.” Alun untuk menarik perhatian temannya yang sibuk

dengan ponsel itu. Alun girang membayangkan ia akan

Bapak, Pak Kadus, dan warga Dusun Prau yang

mendapat akses internet gratis yang dipancarkan dari

menyimak pembicaraan itu menjadi bangga. Sebab,

mes karyawan Tonas sepanjang waktu.

Dusun Wadas tempat kelahiran Sasmito dikenal

sebagai dusun termiskin dan tidak memiliki sumber air Alun menghampiri Layur sambil memasukkan yang cukup. ponsel ke kantong celana.

Ndak ada cara lain untuk menunjukkan rasa “Baru sekali ini aku malam-malam ada di atas terima kasih saya pada Bapak dan Ibu yang sudah ketinggian ini,” kata Layur seolah berbicara kepada membesarkan saya selain dengan cara dirinya sendiri.

pulang dan membangun tanah

“Biasanya, di bawah sana, aku cuma bisa

kelahiran,” lanjut Sasmito.

menatap kerlip bintang di atas. Sekarang, dari tempat

ini, dusun kita pun tampak seperti langit dengan

bintang juga.”

“Tapi, dusun kita pasti sudah sepi jam segini.

Warga dusun tak punya kegiatan setelah magrib,”

sahut Alun.

Layur menoleh cepat pada Alun. “Keluarkan

ponselmu. Ayo sini!”

Alun bingung, tetapi ia menurut. Ia mengeluarkan

ponsel dari kantong celana lantas mengulurkannya

kepada Layur. Ia memencet ponsel beberapa kali

sampai akhirnya menyerah.

 

42 BAB 4 | Merana Layur Tetaplah Berlayar 43

“Aku ra ngerti cara pakainya. Kamu saja, buka Layur terbahak-bahak. “Ponselmu dan menara foto-foto yang tadi siang,” kata Layur cepat. internet bisa mengubah Dusun Prau jadi penuh dengan kelap kelip dan kehidupan yang jauh lebih

“Nih, foto-foto Parangtritis, ‘kan?”

baik. Aku banyak baca soal itu dari buku-buku di

“Betul!” perpustakaan sekolahku.”

Layur memandangi foto-foto di ponsel itu dengan Alun mulai paham. Belum sempat dia menimpali, senyuman tersungging. Alun semakin tidak mengerti. Layur sudah berkata lagi.

“Kamu bisa membayangkan kalau foto ini diambil “Kamu bayangkan kalau tempat ini di malam hari malam hari?” dijadikan lokasi berkemah? Di sekeliling tempat ini

“Wah, pasti bagus banget ya. Ramai lampu-lampu dipenuhi dengan tenda-tenda dan mereka bisa berdiri dari rumah makan dan penginapan-penginapan di di tempat kaki kita berpijak ini. Memandang kerlip situ. Sorot lampu dari kendaraan dan bus yang lalu bintang di atas bukit, juga kerlip lampu nelayan dan lalang pasti jadi pemandangan yang bagus banget,” rumah-rumah penduduk di bawah sana.” sahut Alun. Layur menepuk pundak Alun satu kali. “Kamu Layur semakin cerah wajahnya. Apalagi ketika ingat dengan gua tempat aku terperosok?” sambung cahaya lampu temaram dari mes menerpa. “Sekarang, Layur. “Itu harta karun kita, Alun. Aku ndak ngerti bayangkan kalau itu bukan Pantai Parangtritis!” caranya tetapi pasti itu diminati banyak wisatawan.

Lha aku yang wong deso saja senang banget masuk

“Maksudmu?”

gua alam seperti itu!”

“Bayangkan, itu semua adalah dusun

Alun beringsut menjauh selangkah saat ada

kita. Dusun Prau. Ya, semua lampu dan

tanda-tanda kalau Layur mau menepuk dia lagi.

keramaian itu adalah pemandangan di

“Bayangkan kalau walang goreng dan peyek jingking

Pantai Tambaksegaran.”

dipromosikan pakai ponselmu itu? Kamu ….”

“Kamu ngelindur?”

“Stop!” Alun jadi paham dan bergairah.

“Kamu ingin menjadikan Dusun Prau dan Pantai

Tambaksegaran jadi tempat wisata seperti pantai di

sana itu?”

 

44 BAB 4 | Merana Layur Tetaplah Berlayar 45

Alun bangga disebut sebagai anak pintar.

“Kupikir, tempat ini jangan lagi disebut Bukit

Merana. Kesannya sedih. Nah, karena sekarang ada

menara di sini, bagaimana kalau kita usulkan nama

baru menjadi Bukit Mena ….”

Tiba-tiba, suara Bapak

menghentikan obrolan dua remaja itu.

“Layur! Alun! Sini. Kita mau

berpamitan.”

 

Layur menjentikkan jari. “Mumpung sebentar lagi

ada internet. Kita pamerkan semua tempat yang tadi

aku sebutkan itu di internet. Aku yakin, kepintaranmu

main internet pasti bermanfaat.”

 

46 BAB 4 | Merana Layur Tetaplah Berlayar 47