Cemas Terkepung
Laut Selatan, 14.10
Byur! Byuuuur!
“Awas, Kang! Tahan ... pegang talinya kuat-kuat.
Aku tarik dari sini!”
Seorang nelayan berkulit gosong dengan caping
lusuh berteriak keras kepada kawannya yang
tergelincir dari perahu. Ia bergegas menjulurkan
lengan jauh-jauh untuk menggapai jemari kawannya.
Ombak Laut Selatan sedang mengganas, bergulung-
gulung nyaris setinggi layar perahu.
Lelaki yang tercebur itu memeluk erat cadik sambil
melilitkan tali layar yang berhasil dia raih. Bibirnya
menggigil dan entah mengucapkan kata-kata apa.
“Geser ke sini pelan-pelan, Kang. Iya ... terus! Terus!”
Berhasil. Nelayan yang tercebur itu sedikit lebih
gempal sehingga kepayahan saat berguling
ke dalam perahu. Ia akhirnya memilih
berbaring sambil menata napas. Sesaat, ia
menengadah ke langit yang mulai kelabu.
Air asin merembes dari kaos putihnya,
menetes deras ke lantai perahu.

“Kamu mikir apa, Kang? Sejak tadi sorot matamu
kosong sampai bisa tergelincir dari perahu,” tanya
nelayan bercaping. Ia buka termos berisi teh panas,
menuangkan isinya ke dalam cangkir dan menyodorkan
kepada temannya yang menggigil basah kuyub.
«MエF#F#ヲ #ヲ F# # # # #エf rF#ヲ Mエ#ヲ
Mas.” Lirih temannya menyahut usai meminum
separuh cangkir. “Jangan-jangan anakku dapat celaka
ya ....”
Temannya menepuk-nepuk kawan seperahunya
itu. “Kang, kamu harus lebih memberikan kebebasan
pada Si Layur. Gendukmu itu sudah gede. Sudah bisa
menjaga diri. Lagipula, dia kan punya banyak teman.”
Lelaki satunya masih terlihat gelisah. “Kita balik
saja, ya.”
“Hus! Ngawur ... Hasil tangkapan ikan kita baru
segayung, Kang!”
Sore sudah merambat di Bukit Merana, Layur dan
Alun terus mengamati truk-truk besar menurunkan
muatan. Para pekerja bergegas bergerak dalam
senyap. Semua memakai helm proyek berwarna
oranye. Oh, tidak. Ada dua orang yang helmnya
berwarna putih mengkilat.
24 BAB 3 | Cemas Terkepung Layur Tetaplah Berlayar 25
“Dua orang yang pakai helm putih itu pangkatnya Alun menghela napas. “Ya sudah. Tapi kamu selalu lebih tinggi. Biasanya manajer atau malah direktur. di belakangku ya.” Begitu aku sering baca di buku,” bisik Alun yang Layur dengan pandangan tegang berjalan sejarak
disahut dengan anggukan oleh Layur.
lima langkah di belakang Alun. Kruk dia ayunkan pelan-
Kedua anak itu menjadi tidak percaya begitu pelan agar tidak menginjak daun kering yang dapat melihat rombongan orang dari luar dusun itu mulai menarik perhatian para pekerja itu. Sepuluh langkah, mematok tiang dan memasang pagar seng. Dimulai keduanya sudah merapat ke dinding seng yang baru dari jalan setapak yang tadi dipakai Alun naik ke terpasang. Alun memberi kode agar Layur mengarah puncak Bukit Merana. ke sisi kiri sejauh lima langkah. Di sana ada pohon
besar, cukup untuk berlindung sekaligus mengintip
“Kamu tidak bisa menelepon dari atas bukit lagi,
aktivitas para pekerja di kejauhan.
Alun. Mereka menutup rapat akses ke atas,” seru Layur
panik. Alun tak kalah bingung. Apa jadinya kalau “Mereka sedang membangun apa?” Layur sekeliling bukit itu tertutup rapat, pertanda dia tak keheranan. bisa menelepon kedua orangtuanya.
Alun memicingkan mata untuk melihat lebih jelas
“Lihat, mereka memasang patok larangan lagi. Di kejauhan, para pekerja sedang menurunkan melintas!” bisik Layur. Jelas terpampang papan besar besi-besi panjang serta kabel besar yang tergulung bertuliskan: dalam roda kayu setinggi dirinya.
Dilarang Masuk. Alun berpikir keras. Siapa mereka ini? Apa yang Kawasan Proyek Strategis Nasional Ini mereka lakukan? Apakah mereka orang-orang jahat?
Diawasi CCTV. Jangan-jangan ....
“Hai! Kalian siapa!”
Di sisi kirinya, terlihat mencolok logo TONAS.
Tiba-tiba, ada tangan kekar mencolek lengan
Alun yang hampir tahu banyak hal pun tak
Layur dan Alun dari belakang. Kedua bocah itu kaget
mengerti apa itu TONAS.
bukan kepalang. Saat menengok, hanya tampak siluet
“Aku harus mendekat,” ujar Alun tanpa lelaki besar menyerupai raksasa memakai helm putih.
menghiraukan teman di sampingnya.
“Aku temani! Jangan bilang tidak boleh!” Layur
menyahut cepat.
26 BAB 3 | Cemas Terkepung Layur Tetaplah Berlayar 27 Bapak berlarian panik. Dia mempercepat rencana pun dan dimana pun. Namun, naluri seorang bapak melaut hari itu. Hatinya sangat yakin kalau Layur tak bisa dibohongi. Terlebih, Layur adalah seorang sedang menghadapi masalah saat dia tinggal. perempuan dan ia pasti kesulitan untuk berlari kalau menghadapi bahaya.
“Layur tadi berboncengan naik sepeda dengan
Alun. Mereka menuju ke atas sana,” tunjuk Yu Semi ke Bapak segera mengumpulkan enam orang pria arah Bukit Merana. warga Dusun Prau untuk mencari putrinya. Bukit
Merana tidak berpenghuni. Pasti tempat itu segera
“Sudah lama?” sahut Bapak cepat.
gelap gulita begitu petang menjelang. Tak ada alasan
“Ya pokoknya Layur langsung berangkat begitu bagi warga Dusun Prau untuk menjejakkan kaki di tahu bapaknya sudah melaut,” tambah Yu Semi tempat gersang, sepi, dan tak ada satu rumah pun di penjual rempeyek jingking itu. sana.
Bapak mengacak-acak rambutnya dengan “Bawa senter semua! Tolong siapkan juga perasaan kalut. Langit sudah memerah di sisi barat, obat-obatan. Siapa tahu ....” Bapak tidak sanggup pertanda petang segera datang. melanjutkan kata-katanya.
“Eh, Basri!” panggil Bapak kepada seorang remaja Pak Kadus ikut dalam rombongan itu. Ia bersarung yang baru keluar dari halaman masjid. memimpin warga Dusun Prau itu melangkah ke Bukit “Kamu lihat Layur dan Alun bersepeda lewat sini?” Merana sejauh satu kilometer dari tempat tinggal Basri menggeleng. Demikian pula Wawan yang mereka. berjalan dengannya. “Kita berjalan kaki saja!” perintah Pak Kadus. “Kita Bapak bertambah bingung. Ia menanyai Sisil tidak tahu ada dimana genduk Layur dan Alun. Kita dan Vani yang tinggal di depan rumahnya. Keduanya segera berangkat sebelum hari jadi gelap.” sering terlihat bermain bersama Layur. Namun, tak Sepanjang jalan, mulut Bapak komat-kamit satu pun teman main Layur melihat anak itu sudah memohon keselamatan untuk putrinya. pulang menuruni Bukit Merana.
Satu dua senter sudah mulai dinyalakan. Jalan
Layur memang sudah bukan anak kecil lagi, setapak yang mereka lalui terdiri dari bebatuan kapur seragam sekolahnya pun sudah abu-abu putih yang ditata sekenanya. Sekadar untuk memudahkan
pertanda ia sudah duduk di jenjang sekolah menengah warga melintas dan tidak terpeleset saat jalanan itu atas. Bapak memang memberi kebebasan penuh pada tersiram air hujan. putrinya itu untuk bergaul dan bermain dengan siapa
28 BAB 3 | Cemas Terkepung Layur Tetaplah Berlayar 29

Jalan mulai menanjak ketika rombongan itu sejenak sambil terus menyorotkan lampu senter, sudah sampai di ujung jalan desa. Itu pertanda berharap dua anak hilang itu melihatnya. mereka sudah mulai menapaki kaki Bukit Merana.
“Kalian mulai melihat ada tanda-tanda
Bapak melangkah dengan cepat. Rombongan dia
mencurigakan?” tanya Pak Kadus.
tinggalkan di belakang.
Naryo, warga paling muda di
Kini, mereka sudah jauh meninggalkan dalam rombongan itu
Dusun Prau. Dari atas Bukit Merana, dusun itu menajamkan pen-
hanya tampak seperti deretan dengarannya.
cahaya lilin di kejauhan
dengan noktah-noktah merah.
Rombongan itu berhenti
30 BAB 3 | Cemas Terkepung Layur Tetaplah Berlayar 31
“Ada suara menderu seperti mesin. Tapi dari Pak Kadus menepuk pundak Bapak. Bapak mana, ya?” kata Naryo. mengangguk seolah paham maksud kepala dusunnya itu.
Pak Kadus dan Bapak terdiam. Benar. Itu suara
mesin, lemah tetapi jelas ada di sekitar tempat “Iya, saya lega. tak ada tanda-tanda kedua anak mereka berdiri. itu di bawah,” lirih Bapak berucap.
Bapak berkata, “Tidak mungkin itu suara mesin “Astaga, lihat di sana! Siapa yang memasang perahu. Terlalu jauh jaraknya dari sini.” pagar?” Tiba-tiba Naryo mengagetkan rombongan itu
dengan teriakannya.
Rombongan itu maju lagi dan sampai di
sekumpulan pohon jati yang seringkali dipakai Orang-orang tersentak melihat ada sesuatu
penduduk untuk melepas lelah. yang tak biasa di depan mereka. Kemarin, tempat itu
masih sama seperti puluhan tahun berjalan. Sekarang,
“Pak! Ini sepeda Alun, ‘kan?” Pak Kadus yang
pagar berbahan seng berdiri di sana. Pagar itu baru
memimpin rombongan itu berseru. Tangannya
terpasang beberapa meter, tetapi tonggak-tonggak
menuding sepeda hitam yang digeletakkan begitu
penahannya sudah berjajar memanjang pertanda
saja di bawah pohon jati.
sebentar lagi akan ada dinding seng di sepanjang
“Ya, ini juga botol minum Layur,” sahut Bapak tempat itu. Cahaya lampu senter menimpa dengan sambil mengangkat tinggi-tinggi benda kesayangan terang tulisan dan logo TONAS. Namun, tak satupun putrinya itu. dari anggota rombongan itu yang paham artinya.
Pak Kadus buru-buru menyorotkan lampu Bapak beringsut. Di kejauhan, samar-samar senter ke bawah tebing di depan deretan pohon jati terdengar deru mesin diesel. itu. Bapak terkesiap. Apakah Pak Kadus sepikiran “Sstt ... dari arah sana,” bisik Bapak.
dengannya?
Orang-orang itu mengangguk setuju. Mereka
“Kalian sorotkan senter ke bawah. Perhatikan
berjingkat mendekati arah suara gemuruh itu.
tanda apa pun kalian lihat seperti kruk Layur!”
Kemudian, sampailah mereka di depan pintu seng
perintah Pak Kadus.
yang sedikit terbuka.
Rombongan itu pun memencar di bibir tebing.
Pak Kadus meletakkan telunjuknya di depan bibir.
Lampu senter menari-mari seperti lampu panggung
“Matikan semua senter kalian!”
saat ada hajatan besar. Semak-semak dan bebatuan
runcing bergeming tertimpa cahaya itu.
32 BAB 3 | Cemas Terkepung Layur Tetaplah Berlayar 33
Bapak mengintip ke dalam sambil memegang Darah Bapak bagai mendidih. erat sebatang kayu yang dia persiapkan untuk Tak seorang pun akan kubiarkan melukai anak-
menjaga diri. Siapa tahu ada bahaya mengancam di
anak itu! Bapak merangsek sambil mengacungkan
depan. Pandangan dari arah pintu kecil itu terhalang
batang kayu dengan genggaman amat kuat. Dia lari
oleh beberapa truk besar. Namun, Bapak yakin kalau
menghambur ke arah Layur dan Alun berada!
di dalam ada orang sedang bercakap-cakap.
“Kalian semua tunggu aku di sini. Aku mau ke “Menyingkir kalian! dalam!”
“Hati-hati, Kang,” nasihat Pak Kadus. “Tak usah Jangan sentuh anakkuuu!”
bawa pentungan, nanti malah jadi ribut.”
Bapak tak menghiraukan. Kakinya sudah
berjalan sejauh sepuluh langkah. Dia menajamkan
pendengaran. Ya, tak salah lagi, ada orang bercakap-
cakap di tengah tanah lapang yang terang ditimpa
cahaya lampu dari mesin diesel.
Dengan mengendap-endap, Bapak melompati
kabel-kabel besar yang terjulur di tanah. Besi-besi
panjang dengan lingkaran sebesar paha orang
dewasa tertumpuk meninggi di salah satu sudut. Di
sisi lain, tampak dua kontainer yang sudah disulap
menjadi ruangan semacam kantor atau tempat
tinggal lengkap dengan pintu dan dua jendela.
Bapak tersentak! Dia mengejap-ejapkan mata.
Tidak salah lagi, itu Layur dan Alun yang duduk di
bangku panjang. Di sekelilingnya terlihat beberapa
pria tinggi besar berdiri mengepung dua remaja itu.
34 BAB 3 | Cemas Terkepung Layur Tetaplah Berlayar 35
