Layur Hilang
Bukit Merana, Selasa pukul 10.48
“Layur, nama apa pula itu?”
Alun tersenyum geli, ”Baru sekali ini aku punya
teman perempuan punya nama seperti itu.”
Layur cepat menengok ke anak lelaki teman
mainnya itu. Mendelik pura-pura kesal. Namun, gadis
itu memilih tidak peduli. Mending, dia melanjutkan
membuat wayang dari daun singkong. Sudah dua
tokoh dia buat. Ada Arjuna dan Gatotkaca.
Alun beringsut hendak mendekat, tetapi
Layur lebih sigap. Dia acungkan kruk ke muka
temannya yang berkalungkan ponsel itu.
8 BAB 1 | Menunggu Bapak Layur Tetaplah Berlayar 9
“Jangan dekat-dekat, nanti kamu menginjak Merana. Sekelilingnya hanya tampak dinding-dinding wayangku!” hardik Layur sengit. batugamping dengan gerumbul semak di sana-sini.
Tempat setandus ini membuat bibir dan mulut Layur
Alun tertawa keras. “Galak! Aku cuma mau kasih
cepat kering. Susah payah, Layur berusaha berdiri
tahu kalau layur itu nama ikan. Bentuknya gepeng dan
dengan bantuan dua kruk yang sudah menemaninya
panjang seperti sabuk, eh ikat pinggang. Enak dibuat
sekian lama. Sepasang kayu penyangga itulah
ikan asin.”
sahabat setianya. Selain Si Alun.
“Baru tahu, aku.” Layur melunak suaranya dan
Enam langkah, sampailah Layur di sepeda
tidak melotot lagi.
hitam kepunyaan Alun. Layur meraih botol minum
”Namaku memang dari lahir ya Layur. Itu bergambar perahu layar miliknya yang tergantung di sebagai kenangan kepada ibuku yang meninggal saat setang sepeda. melahirkan aku.”
Gluk! Gluk! Gluk! Puas banget.
Layur terdiam sesaat. “Nama Ibuku Laksmi Yuriah.”
Layur menengadah tinggi-tinggi. Telapak tangan
Alun mendadak tersadar. “Astaga!” kanan dia luruskan di depan alis untuk menahan “Kenapa?” Layur ikut terkaget. “Oh, iya … sudah silau. Namun, tetap saja tak terlihat sosok Alun, hampir pukul 11 siang ya? Buruan sana, kamu naik!” sahabatnya, di sana. Pasti dia sedang asyik mengobrol bersama mamanya di puncak Bukit Merana.
Alun cepat-cepat memakai sandal yang tadi
dia pakai sebagai alas duduk. Dia berdiri, mengibas- Layur mendesah. Betapa beruntungnya Alun. Dia ibaskan celananya yang berselimut rumput kering dan memiliki orangtua utuh. Kaya lagi. Mamanya sedang debu. Lantas, dia dengan lincah menapaki pijakan- kuliah di Jerman sedangkan papanya adalah direktur pijakan di jalan setapak menuju puncak Bukit Merana. pertambangan di Kalimantan.
“Jagain sepedaku, yaaa!” pekik Alun dari atas dan Sahabatnya itu adalah satu-satunya remaja di menghilang di balik belukar. Dusun Prau yang mempunyai ponsel. Setiap Selasa,
pasti mamanya akan menelepon Alun. Untuk itulah,
Siapa juga mau ambil sepeda di tempat gersang
sahabat Layur itu pasti minta ditemani menuju Bukit
begini. Layur membatin dan tersenyum sendiri.
Merana. Hanya di puncak bukit itulah, sinyal telepon
Belum tengah hari, tetapi matahari sudah bisa ditangkap. Ya, Dusun Prau memang dikelilingi sadis membakar kulit. Layur beringsut merapat oleh bukit batugamping yang membentang seperti
ke bawah pohon jati satu-satunya di kaki Bukit dinding alam yang amat tinggi.
10 BAB 2 | Layur Hilang Layur Tetaplah Berlayar 11
Layur cepat membalik badan dan menatap Alun
dengan pandangan tajam. “Gantian kamu di sini.
Tunggu aku dan tungguin sepedamu sendiri. Aku mau
lihat sendiri Pantai Parangtritis yang bagus banget
“Hai. Melamun!”
itu.”
Layur tersentak mendengar teriakan Alun yang
Alun membelalakkan matanya. “Mana mungkin,
tiba-tiba sudah ada di belakangnya. Untung dia tidak
kamu ke sana Layur? Itu jauh banget. Kelihatan dekat
terlonjak sehingga tiga wayang daun singkongnya
karena ponselku bagus.”
tetap aman di genggaman.
Layur menjewer telinga kiri sahabatnya dengan
“Mana pesananku?” tanya Layur dengan tidak
kesal. “Aku bukan mau ke sana, anak tulalit. Aku mau
sabar.
naik. Mau lihat dari atas. Paham?”
Alun menyorongkan ponselnya yang langsung
Alun mendadak lemas. Mukanya pucat pasi. Aduh,
direbut oleh Layur. Dicarinya ikon album foto dan ….
aku bisa kena marah bapaknya Layur. Mana aku yang
“Bagus bangeeeeet!” Layur bertambah iri kepada mengajak dia ke Bukit Merana. Alun. Tadi, sewaktu keduanya berangkat menuju kaki “Kenapa kamu grogi begitu? Enggak percaya
Bukit Merana, Layur sudah berpesan, pokoknya Alun
aku bisa memanjat bukit ini pakai kruk? Nih … aku
harus mengambil video dan foto sebanyak-banyaknya
buktikan!” Layur dengan percaya diri mengayunkan
dari puncak bukit itu. Harus!
kruknya bergantian mendaki tapak dari batu yang
“Itu yang ada deretan mobil dan bus adalah disusun membentuk anak tangga. “Jangan ikuti aku!
parkiran Pantai Parangtritis. Terus gubuk-gubuk itu Kamu di situ saja. Eh, sini … ambilkan botol minumku.
adalah penjual es kelapa muda dan rumah makan Ikat di kruk kiriku.” aneka masakan ikan. Ramai banget, ya?” tutur Alun Alun menurut walaupun perasaannya tidak
sambil menggerakkan dua jemarinya di atas layar
karuan. Kalaupun dilarang, justru Layur akan semakin
kaca ponselnya untuk memperbesar gambar.
sewot dan tidak peduli. Tatapan matanya tidak lepas
“Itu kan jauh banget di bawah sana, ya?” tanya dari sosok sahabat perempuan berambut sebahu itu.
Layur sambil berpindah ke foto-foto lainnya. Kepayahan menapak tangga batu yang mudah lepas
“Iya sampai akhirnya menghilang dari pandangan Alun. lah . Beda kabupaten dengan dusun kita. Beda nasib juga. Dusun kita terpencil dan terkucil dikepung Semenit - dua menit - lima menit. dinding putih mahatinggi ini, hahaha ...!”
12 BAB 2 | Layur Hilang Layur Tetaplah Berlayar 13
“Aluuun toloong!” keras, tak mungkin membentuk jejak kruk. Hanya ada belukar dan dinding-dinding putih kecoklatan di depan
Alun terperanjat dan kaget setengah mati. mata. Walaupun samar-samar, tak salah lagi, itu pekikan “Aluuun! Aku di sini. Di dalam!” tiba-tiba terdengar Layur. Buru-buru remaja itu mengalungkan tali suara bergema. Entah dari sisi mana. Alun berlari kecil.
ponselnya di leher dan langsung melompati tiap dua Ke arah kiri dan kanan. anak tangga agar lekas sampai ke atas.
“Layur! Teriak lagi. Aku cari arah suaramu!”
Di mana anak itu? Di mana ...? Ah, itu botol minum
“Hoooi! Hooi! Aluuun jelek! Jeleek! Jeleeeeek!” tiba-
bergambar perahu layar. Alun memungut tempat
tiba terdengar suara yang lebih keras dan semakin
minum milik Layur yang sudah putus talinya. Pasti dia

bergema. Persis di belakang Alun.
tak jauh dari sini. Alun memutar tubuhnya dengan panik
ke kiri dan kanan dengan cepat, seperti komidi putar Hanya ada semak … tetapi tunggu dulu. yang pernah dia naiki di kota dulu. Layur tidak tampak! Semak itu seperti rebah sebagian. Daunnya masih hijau segar tetapi sebagian besar
“Layuuuur! Kamu di mana!” Tak ada jejak apa
dahannya sudah patah. Pasti barusan terjadi.
pun di sekeliling Alun. Semua tanah
Jangan-jangan ….
bercampur batugamping
Penuh selidik, Alun cepat-cepat
menyibak semak dan ….
14 BAB 2 | Layur Hilang Layur Tetaplah Berlayar 15

“Aku di sini! Di bawahmu, Alun!” pekik Layur.
Alun tidak percaya, di belakang semak itu ada
lubang setinggi dirinya. Ini gua alam dan tak pernah
terjamah. Pasti Layur tanpa sengaja telah terperosok Alun melongok, ke dalamnya. kedalaman gua itu setara dua kali tinggi badannya. Layur
“Kenapa bengong, Alun … ayo sini. Masuk.”
masih terduduk di lantai dasar

gua yang tampak lembab. Susah
payah dia meraih kedua kruknya untuk
mencoba berdiri. Beruntung, kruk itu tidak patah.
“Aku bantu kamu keluar!”
Layur mengurutkan kening. “Hoooi, siapa yang
mau keluar? Kamu dengar suara gemuruh itu? Pasti
ada sungai bawah tanah di belakang sana. Aku mau
cek dulu!”
“Ngawuuur! Jangan nekat, Layur.”
Alun panik. Dia tidak mau mengulang
kesalahan yang sama, membiarkan Layur
dengan rencana tak terduganya. Buru-
buru, remaja berusia 15 tahun itu
turun sambil menyalakan lampu
ponselnya. Byar! Seluruh
dinding putih gua itu terlihat
dengan gamblang.
Alun ternganga. Layur
lebih ternganga! Oh
Tuhan ….
16 BAB 2 | Layur Hilang Layur Tetaplah Berlayar 17
Betapa indahnya gua alam ini. Dinding-
dinding menjulang tinggi melengkung
seperti kubah istana fantasi.
“Itu stalakmit?” tebak Layur lirih tanpa melepaskan
pandangan pada bentukan luar biasa di depannya.
Alun menggeleng. “Stalakmit itu menempel di
lantai gua sedangkan bentukan seperti tombak-
tombak di atas itu sebutannya stalaktit.”
“Ya, aku juga mau bilang stalaktit,” gurau Layur.
“Sekarang, bantu aku masuk ke dalam. Aku penasaran
dengan suara gemuruh itu. Pasti sungai atau malahan
ada air terjun di sana.”
Alun mendelik. Tubuhnya mematung.
“Tak mau menemani aku masuk ke dalam? Ya
sudah … tunggu saja di sini.” Layur melangkah sekali

sebelum jeritannya melengking dan memantul

berkali-kali di dinding gua.

“Apa itu tadi?” gerutu Layur dengan panik.
Matanya sigap mencari makhluk yang tiba-tiba
menabrak kepalanya.
Alun tertawa girang. “Itu kelelawar. Masih mau
tetap di sini?
Ya sudah, biar mereka yang menemani kamu.”
Alun pura-pura melangkah menuju pintu gua.
18 BAB 2 | Layur Hilang Layur Tetaplah Berlayar 19
“Tunggu! Aku takut!” Layur dengan tertatih-tatih Alun kehabisan kesabaran. “Kepalamu sudah menjauhi bagian dalam gua. Lantai yang menanjak kepanasan. Ayo, kita pulang sekarang.” membuatnya kepayahan untuk naik.
Brrrrrr!
Alun buru-buru mengulurkan tangan.
Layur dan Alun kaget bukan kepalang. Tanah
“Eit! Jangan pegangi aku kecuali aku minta tolong!” tempat mereka duduk bergetar hebat. Hardik Layur dengan memasang bibir cemberut.
“Gempa?” bisik Layur dengan wajah panik.
Alun tak menjawab. Getaran di tanah semakin
terasa. Ditingkahi suara ….
Layur dan Alun terduduk bersandar di bawah pohon “Awas truk tronton!” jerit Alun. Jalan setapak yang jati tak jauh dari sepeda. Keduanya mengatur napas biasanya hanya dilalui orang dusun dengan berjalan yang awalnya tersengal-sengal. kaki dan bersepeda itu mendadak dilintasi truk besar.
Suara mesinnya memekakkan telinga. Tiap kali truk
“Kita tak usah pergi ke Pantai Parangtritis,”
melindas bebatuan, tanah pun bergetar seperti
gumam Layur tiba-tiba. “Kita bikin tempat wisata
gempa yang berlama-lama.
yang lebih bagus daripada di sana.”
“Truk apa itu? Truk siapa? Lima truk!” decak Layur
Alun menengok cepat ke arah sahabatnya itu.
tak mengerti.
Pasti terik matahari membuat temanku ini mulai
mengigau! “Truk tentara? Hijau semua. Mau latihan perang di
sinikah?” tebak Alun.
“Habiskan minummu terus aku boncengi kamu
pulang ke rumah,” bujuk Alun sebelum sahabatnya itu Truk terakhir melintas dengan membawa tiang-punya niat tak jelas. tiang besi yang kokoh. Tertulis di spanduk yang terbentang di sepanjang bak truk itu kalimat:
“Aku serius, Alun. Aku yakin ada lebih banyak
gua seperti itu di sekitar dusun kita. Orang-orang di “Proyek Strategis Nasional: TONAS”.
Parangtritis tak punya objek wisata sekeren tadi!” ADA APA INI?

20 BAB 2 | Layur Hilang Layur Tetaplah Berlayar 21
