Republik Indonesia.

Dilindungi Undang-Undang.

 

Shqd dq=#Exnx#lql#glvldsndq#rohk#Shphulqwdk#gdodp#udqjnd#shphqxkdq# Pesan Pak Kapus

nhexwxkdq# exnx# shqglglndq# ¦dqj# ehupxwx/# pxudk/# gdq# phudwd# vhvxdl#

ghqjdq# dpdqdw# gdodp# XX# Qr1# 6# Wdkxq# 534:1# Exnx# lql# glvxvxq# gdq#

glwhoddk#rohk#ehuedjdl#slkdn#gl#edzdk#nrruglqdvl#Nhphqwhuldq#Shqglglndq/#

Nhexgd¦ddq/# Ulvhw/# gdq# Whnqrorjl1# Exnx# lql# phuxsdndq# grnxphq# klgxs#

¦dqj#vhqdqwldvd#glshuedlnl/#glshueduxl/#gdq#glpxwdnklundq#vhvxdl#ghqjdq#

glqdplnd# nhexwxkdq# gdq# shuxedkdq# }dpdq1# Pdvxndq# gdul# ehuedjdl# Hai, anak-anak Indonesia yang suka membaca dan ndodqjdq# ¦dqj# gldodpdwndq# nhsdgd# shqxolv# dwdx# phodoxl# dodpdw# vxuho#

exnxCnhpglnexg1jr1lg#glkdudsndq#gdsdw#phqlqjndwndq#nxdolwdv#exnx#lql1 kreatif! Kali ini kami sajikan kembali buku-buku keren dan seru untuk kalian. Bukan hanya menarik dan asyik

Layur Tetaplah Berlayar dibaca, buku-buku ini juga akan meningkatkan wawasan, menginspirasi, dan mengasah budi pekerti. Selain itu,

Penulis : Dqdqj#¥E

Penyelia/Penyelaras : Vxsul¦dwqr kalian akan diperkenalkan dengan beragam budaya # Indonesia. Buku ini juga dilengkapi ilustrasi yang unik dan # # ##Khojd#Nxuqld

Ilustrator : Qdd #Qxu#Urkpd menarik, sehingga indah dipandang mata. Editor Naskah : Wdx n#Vdswrwr#Urkdgl # Anak-anakku sekalian, buku yang baik adalah # # ##Hplud#Qrylwuldql#¥xvxi

# # # ##Dgl#Vhwldzdq#Wul#Zdk¦xgl buku yang bisa menggetarkan dan menggerakkan Editor Visual : P1#Ul}do#Degl kita, seperti buku yang ada di tangan kalian ini. Desainer : Nldwd#Dopd#Vhwud Selamat membaca!

Penerbit Salam merdeka belajar! Nhphqwhuldq#Shqglglndq/#Nhexgd¦ddq/#Ulvhw/#gdq#Whnqrorjl Dikeluarkan oleh:

Sxvdw#Shuexnxdq Pak Kapus Nrpsohnv#Nhpglnexgulvwhn#Mdodq#UV#Idwpdzdwl/#Flshwh/#Mdnduwd#Vhodwdq (Kepala Pusat Perbukuan) kwwsv=22exnx1nhphqglnexg1jr1lg

Cetakan Pertama, 2023 Supriyatno, S.Pd., M.A

LVEQ=#<:;0956044;038<0<#+SGI,

NIP. 196804051988121001

Lvl#exnx#lql#phqjjxqdndq#kxuxi#Olyylf#43247#sw1/#Mdftxhv#Oh#Edloo¦/#Rshq#

Irqw#Olfhqvh1##ylll>597#kop1/#4618#{#53#fp1

Daftar Isi

 

Prakata Pesa Pak Kapus iii Prakata iv Prolog vii

Alih-alih menjadi juara, saya malah mendorong Pe ge ala Tokoh viii

remaja Indonesia untuk menjadi pribadi unggul. BAB 1 Menunggu Bapak 1 Sebab, juara hanya mengalahkan pihak lain yang BAB 2 Layur Hilang 9

berkompetisi dengannya, sedangkan unggul adalah ; ; <Mイ# ÒM ヲM エf ketika kamu—para remaja Indonesia—mampu BAB 4 Merana 37

mengalahkan diri sendiri! BAB 5 Geliat di Dusun Prau 49

BAB 6 Berjuang Kendati Ditentang 61

Novel ini bercerita tentang sosok remaja ; ; C エr# «# # ˜#Frヲ#エ «rイ r › # # seumuran kamu. Pada mulanya ia mau terlihat hebat. ; ; Äソ ソ \#イM # Namun, jalan hidup menyadarkan dirinya bahwa BAB 9 Musuh Mendekat 107 pihak yang harus dia kalahkan adalah dirinya sendiri. BAB 10 Luluh Lantak 119 Segala ego harus dia retas. Sebaliknya, semua hal baik ; ; \Mゥ#イ | ヲ# «MエF#ゥ#イ dan segala kebajikan, itulah yang harus teratas. BAB 12 Di Mana Layur? 143

; ; | ヲ# |#イ#

Terima kasih untuk semua pihak yang telah BAB 14 Dalang 167 memastikan novel ini hadir untuk remaja Indonesia! BAB 15 Menghibur 179

; ; |# # j# ÒM ヲMイ>#エf ; ; エf#エ \Mイ>#ゥr «MエF# # ˜#ゥ#エ

Bekasi, November 2023 ; ; ˜#ゥ#エ F#エ oイ r#エ

; ; ÒM f ゥrエf ; ; ¹#rm ;rエ #エf

Anang YB ; ; «rイ r ÄMFM m#エ#

Epilog

Glosariu

Profil Pelaku Perbukua

Prolog

 

Aku berkaki

Namun, tak mungkin berlari

 

Aku punya Bapak

Namun, mana ibuku

 

Aku anak nelayan

Namun, kapan waktunya berlayar?

 

Aku ingin bermimpi

mimpi sederhana

Agar mudah terwujud sebelum sirna

Pengenalan Tokoh BAB 1

Menunggu Bapak

 

Pantai Tambaksegaran, Jumat 16.50

Layur menggeser duduknya. Cadik perahu yang

dia duduki mulai menghangat tertimpa sinar matahari

siang. Keringat membintik di keningnya. Tangannya

sudah sepuluh menit terdiam di atas kertas sketsa.

Baru separuh gambar alam bawah laut tergambar

di atas kertas putih itu. Ikan berenang-renang di atas

laut kosong, tanpa karang.

“Bapak, pulanglah,” lirih Layur berharap.

Ini hari keenam. Seharusnya tak selama

ini Bapak berlayar. Tiga hari adalah

waktu terlama nelayan berada di laut.

Sebab, Bapak dan nelayan lain tak bisa

menyimpan hasil tangkapan terlalu lama

di atas perahu tanpa air es maupun garam

pengawet. Ikan akan membusuk selewat tiga hari.

Cadik berderak. Bilah-bilah kayu penyeimbang

perahu itu seperti mulai rapuh. Dengan susah payah,

Layur berpindah duduk ke dalam perahu tua itu.

Semakin sedikit perahu di dusunnya yang sanggup

dibawa melaut. Ikan seolah enggan menepi ke

pantai. Hanya perahu kuat yang tahan menghadapi

arus dan ombak selama tiga hari.

Layur masih ingat masa-masa dulu. Ketika Bapak

berlayar pada malam hari dan keesokan harinya

sudah merapat kembali di pantai dengan membawa

ikan berlimpah.

“Ayo, siapa mau udang!” panggil Bapak.

Layur berlari kencang bersama teman-temannya.

Mereka mengerubuti jaring perahu dan melepas

satu per satu udang kecil yang terjerat di mata

jaring. Udang kecil tidak termasuk hasil tangkapan

yang diperhitungkan nelayan. Siapa pun bebas

mengambilnya sekalian untuk membersihkan jaring.

Namun, itu adalah kenangan sepuluh tahun silam.

Kini, udang dan ikan kecil adalah anugerah besar.

Itu pun harus dijaring di tengah laut. Setidaknya

membutuhkan waktu berlayar tiga hari pulang pergi.

“Layur! Mau ikut menyelam?”

Tiba-tiba Dini menepuk pundak Layur.

Anak nelayan tomboi berkulit gosong itu tahu-

tahu sudah ada di belakangnya. Lengkap dengan

kacamata renang dari serutan kayu ringan.

 

2 BAB 1 | Menunggu Bapak Layur Tetaplah Berlayar 3

Layur tertawa kecil. mencelakai anak semata wayang. Itulah titik balik yang amat disesali Bapak.

Ngenyek aku ya? Meledek? Kau tahu, aku tak

mampu berenang, apalagi menyelam.” Sejak itu, Bapak meninggalkan usaha pembuatan

bondet. Demikian pula dengan warga Dusun

Dini mengangguk, tersenyum, melambaikan

Prau tempat mereka berdiam berangsur-angsur

tangan, kemudian menjauh.

meninggalkan cara menangkap ikan dengan bom.

“Hati-hati dengan kakimu. Karang-karang di sana

“Cah Ayu … apa ora eman, ndak sayang kulit

tajam!” seru Layur.

putihmu nanti gosong? Tiap hari berjemur di sini?”

Ya, terumbu karang di perairan dusun telah

Sapaan lembut mampir ke telinga Layur. Tanpa

berubah layaknya hamparan mata tombak semenjak

menoleh, gadis itu sangat mengenal suaranya.

nelayan di sana menggunakan bom ikan yang lebih

dikenal dengan sebutan bondet itu. Runcing dan tentu “Yu, Bapak harusnya tidak mengalami apa-apa saja rusak. Ikan kehilangan tempat bertelur. ‘kan ya? Aku takut banget.”

Mata Layur membasah di depan perempuan yang

Layur ingat betul, Bapak adalah pemberani dan

sudah dianggap sebagai ibunya itu.

pembuat bondet paling disegani di dusun. Rumah

yang ditinggali Layur pun paling megah, satu-satunya Yu Semi meletakkan ember berisi tangkapan rumah pendopo di dusun. Setiap hari, nelayan silih jingking, anak kepiting buruannya. Dia melepas caping berganti datang ke rumah memesan bondet. lusuhnya. Terlihat rambut basah oleh keringat yang diikat dengan karet gelang.

Tahun berganti tahun, semakin makmurlah

nelayan di dusun itu. Panenan ikan berlimpah dan “Ndak usah nangis. Anak SMA kudu kuat. Pak diperoleh dengan mudah. Tinggal melemparkan Kadus sudah tanya-tanya kepada nelayan yang bondet ke dalam laut dan … bum! Berkuintal-kuintal melaut siapa tahu bertemu bapakmu di sana. ikan terapung tinggal diserok menggunakan jaring. Sebentar lagi bapakmu pulang, Nduk.”

Sampai suatu ketika …. Yu Semi mengelus pundak Layur beberapa kali

Duaaar! lantas berlalu untuk mengolah hasil tangkapannya itu menjadi rempeyek.

Separuh rumah Layur luluh lantak karena Ah, andai aku punya Ibu. Aku tidak kesepian dan simpanan bom ikan di gudang meledak. Ledakan bom bisa menunggu Bapak di rumah. Sambil menikmati ikan di gudang tak hanya merusak rumah tetapi juga tiwul atau membantu Ibu membuat gatot, desah Layur.

 

4 BAB 1 | Menunggu Bapak Layur Tetaplah Berlayar 5

Bapak satu-satunya orang rumah yang “Layur akan tambahkan gambar karang menemaninya sehari-hari. Layur memang tak punya dan telur-telur ikan di sini!” tutur Layur riang.

saudara kandung.

Pantai itu kembali sepi, hanya menyisakan

Itu Bapak? Layur tersentak dari lamunan. Lamat- lubang-lubang kecil di pasir bentukan dari kruk lamat terlihat kibaran layar bercorak biru berpadu penyangga kedua kaki Layur yang tak utuh.

dengan gambar garuda. Tidak salah lagi! Itu perahu

Bapak sedang merapat ke pantai.

Layur beringsut menuruni perahu tempatnya

duduk. Lambaian tangan bapaknya semakin jelas dan

semakin dekat. Lelaki dengan perut besar dan rambut

yang sudah menipis.

“Bapak dari mana? Bapak sudah tiga hari telat

pulang!”

Bapak dengan wajah gosong tertawa kecil

memamerkan rahangnya yang keras.

«## ヲ#エ ;# #ヲ Nduk. Semua serba kebetulan.

Di tengah laut Bapak bertemu tim konservasi dari

kementerian. Mereka membutuhkan nelayan untuk

membantu menanam terumbu karang,” papar Bapak.

Layur yang dipanggil Genduk itu semringah.

Wajahnya berseri-seri.

“Jadi, laut kita akan kembali seperti dulu? Banyak

ikan bertelur di sekitar sini?”

Bapak mengangguk dan membimbing Layur

pulang.

“Tunggu!” Layur buru-buru meraih kertas sketsa

dan pensilnya yang tertinggal.

 

6 BAB 1 | Menunggu Bapak Layur Tetaplah Berlayar 7